Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Negosiasi



Rumah bergaya Jepang klasik itu tampak anggun dan elegan. Bahkan aroma teh hijau yang menenangkan menguar dari dalam bangunan ketika pintu geser dibuka. Lantai tatami yang bersih mengkilap menyambut rombongan Riko untuk segera masuk. Sang penjaga tadi pun mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk.


Setelah melepas alas kaki, Riko dan kawan-kawannya pun memasuki bangunan megah tersebut. Langkah mereka begitu tenang karena teredam lantai tatami yang licin. Penjaga itu membawa kelima orang tersebut menyusuri lorong demi lorong, hingga sampai di sebuah ruangan yang ada di tengah bangunan.


“Maaf, tapi yang bisa masuk hanya ketua guild dan salah satu orang kepercayaannya saja,” kata sang penjaga mendadak menghentikan langkah.


Riko saling pandang dengan teman-temannya. Ia lantas memutuskan untuk memilih salah satu dari mereka menemaninya. “Kalau gitu aku sama Mona, ya,” ujar pemuda itu.


Tidak ada yang memprotes keputusan tersebut karena Mona memang sudah didapuk sebagai wakil ketua guild. Setelah percakapan singkat tersebut, sang penjaga pun mendekatkan tubuhnya ke pintu geser berornamen sakura.


“Tamu sudah datang, Tuan,” ucap sang penjaga sebelum membuka pintu. Penjaga itu berbicara dengan bahasa Jepang, tetapi Riko bisa memahaminya karena fitur auto-translate dari sistem Genesis.


“Masuk,” jawab pria bersuara berat di dalam ruangan.


Penjaga itu pun membuka pintu geser dengan gestur membungkuk yang sopan, mirip seperti yang ada di film samurai. Riko mendengkus kecil melihatnya, tetapi tetap menahan diri untuk tidak berkomentar sembarangan.


“Silakan masuk. Untuk yang lainnya, bisa ikut saya,” tukas sang penjaga memisahkan Riko dan Mona dari tiga rekannya yang lain.


Begitu pintu terbuka cukup lebar, Riko bisa melihat sebuah ruangan tatapi luas dengan sebuah meja kayu rendah di tengahnya. Meja itu berbentuk persegi dan ditutupi oleh kain berpenghangat yang tebal.


Sang pemilik ruangan, seorang pria paruh baya berbadan tegap dengan kumis dan rambut yang mulai memutih, mengangguk pada para tamunya. Riko dan Mona pun memahami gestur itu sebagai tanda bahwa mereka sudah dipersilakan untuk masuk.


Keduanya pun melangkah masuk dengan perlahan. Pintu geser kembali ditutup oleh sang penjaga setelah Riko dan Mona sempurna ada di dalam. Karena pria tua di hadapan mereka sama sekali tidak berusaha repot-repot berdiri menyambut, maka Mona pun berinisiatif untuk langsung duduk saja di hadapannya. Riko mengikuti tanpa banyak bicara.


“Selamat datang di Jepang. Kuharap perjalanan kalian menyenangkan,” ujar Mr. Murakami setelah keduanya duduk di atas tatami.


Selimut berpenghangat itu langsung membuat kaki Riko yang sedari tadi kedinginan menjadi nyaman. Bahkan di atas meja sudah terhidang tiga set teh hijau yang beraroma nikmat.


“Terima kasih atas bantuannya, Mr. Murakami. Seperti yang sudah saya bicarakan melalui telepon, kami perlu pergi ke dungeon yang guild Anda tangani,” ucap Mona menjawab.


Mr. Murakami mengangkat satu tangannya.”Tidak perlu terburu-buru. Mari menghangatkan tubuh dulu dengan the hijau,” ujarnya lantas menjentikkan jarinya satu kali.


Pintu geser kembali terbuka, dan kini masuklah tiga orang perempuan berkimono dengan riasan lembut. Ketiga perempuan itu menghampiri Mr. Murakami, Riko dan Mona satu per satu, lalu mulai menyeduh teh dan menghidangkannya dengan penuh kehati-hatian.


Riko paham kalau Mona memang sengaja menutupi fakta bahwa skill Riko telah dicuri. Memang sebaiknya hal itu tidak diumbar sembarangan.


“Ada material yang kami butuhkan,” jawab Riko berkilah.


Alih-alih menanggapi, Mr. Murakami justru menyeringai tipis. Ia kembali menyesap teh hijaunya yang mengepul sembari memperislakan Riko serta Mona untuk ikut menikmatinya. Riko menatap cangkir tanah liat itu dengan ragu. Meski begitu, tidak sopan bila dengan sengaja menolak hidangan dari tuan rumah.


Sambil menepis pikiran buruk kalau minuman tersebut mungkin diracuni, Riko pun akhirnya tetap menegaknya. Beruntung kekhawatirannya tidak menjadi nyata. Selain rasa pahit dan sepat yang mendera lidahnya, tidak ada kejadian buruk seperti yang Riko pikirkan.


“Temanmu pasti sudah memberitahu tentang syarat untuk bisa menggunakan dungeon milikku. Aku akan memberimu akses masuk, tapi setelah itu, kau harus membuatkan senjata yang kuminta. Sebelum senjata itu jadi, kalian tidak bisa meninggalkan Negara ini,” kata Mr. Murakami penuh tekanan.


Ini bukan tekanan yang mudah dilawan. Bahkan Gamaliel yang notabene merupaka player terkuat di kampung halamannya, tetap tidak sebanding dengan charisma yang dimiliki oleh sang guild master dari Jepang ini.


“Kami pasti –” Mona hendak menjawab, tetapi Riko mencegahnya dengan satu uluran tangan. Ini adalah pembicaraan sesama guild master. Rikolah yang bertanggung jawab atas pertemuan ini, termasuk keselamatan teman-temannya.


“Pertukaran haruslah sebanding. Anda juga tahu itu. Dungeon Snow Island hanya terbuka di waktu-waktu tertentu. Sementara itu, perjalanan kami di Jepang terbatas oleh sistem administrasi yang hanya membebaskan pengunjung dari Negara lain tinggal selama lima belas hari tanpa visa. Jadi kami tidak bisa ditekan dengan cara seperti itu, mengingat kendalanya berada di luar kendali kita,” tukas Riko mencoba bernegosiasi.


Mr. Murakami mengangguk enteng. Pria itu tampaknya memahami permintaan Riko. Meski begitu ia hanya mengedik, mempersilakan Riko melanjutkan pembicaraan.


Riko tersenyum tipis. “Ini bukan permintaan sulit. Kami hanya butuh akses tak terbatas untuk keluar masuk dungeon ketika portalnya terbuka, sampai kami menemukan benda yang dicari. Lalu kami juga butuh bantuan untuk pengurusan visa jika memang diperlukan,” ujarnya kemudian.


Mr. Murakami mendengkus pelan. “Kalau hanya sejauh itu, kau tidak perlu sampai memintanya. Aku akan mengurus semuanya,” tukasnya ringan.


Akan tetapi, permintaan Riko tidak hanya sampai di sana. “Resep, bahan-bahan dan biaya tiga puluh persen untuk pembuatan senjata. Setelah itu saya tidak akan mengajukan keberatan lagi,” imbuhnya tanpa basa-basi.


Kali ini, wajah Mr. Murakami tampak mengeras. Tentu saja permintaan Riko cukup masuk akal, mengingat betapa langkanya kemampuan blacksmith irregular seperti dirinya. Meski saat ini Riko belum bisa memastikan apakah kemampuannya berhasil dipulihkan, tetapi tidak ada salahnya mencoba.


Akhirnya, setelah hening selama hampir satu menit, tatapan tajam Mr. Murakami meredup. Tampaknya pria itu memilih untuk mengalah. “Dua puluh persen biaya, atau tidak sama sekali,” geramnya kemudian.


Riko tak bisa menyembunyikan senyumannya. Pemuda itu pun mengangguk setuju tanpa memprotes lagi. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui.