
Tak lama setelah pertarungan putaran pertama berakhir, dua guild yang akan bertanding selanjutnya pun bersiap. Namun, Riko memutuskan untuk tidak menyaksikan pertarungan kedua. Selain karena guild yang akan bertanding di putaran kedua ini tidak berada di rangking atas, juga karena Riko punya agenda lain.
Pemuda itu menyelinap di antara teman-temannya yang sibuk mengawasi persiapan pertandingan putaran kedua. Sang pemandu muncul di balik tribun melayang dan membawa Riko turun dengan semacam piringan pipih yang bisa terbang. Nampaknya Mona dan yang lainnya belum menyadari kepergian Riko di tengah hiruk pikuk tersebut.
Setelah sampai di bawah, Riko pun dibawa oleh pemandu menjauhi arena pertandingan menuju rumah suaka yang tak jauh dari sana. Bangunan besar itu juga merupakan tempat para player beristirahat setelah bertanding.
Mulanya Riko hendak menemui Gamaliel. Sekadar untuk mengucapkan selamat serta meninjau senjata-senjata buatannya yang dipakai para swordsman itu. Akan tetapi, di tengah perjalanan menembus hutan sebelum sampai di rumah suaka, Riko melihat orang itu: Rangga.
Dia berjalan sendirian menuju arena pertempuran dengan gestur yang mencurigakan. Insting liar Riko pun bekerja. Entah kenapa ia merasa Rangga sepertinya akan melakukan hal buruk. Buru-buru pemuda itu pun berkata pada pemandunya bahwa ia akan pergi sendiri ke rumah suaka.
“Permisi. Saya nggak perlu diantar. Rumah suakanya udah kelihatan di depan, kok. Anda pasti sibuk. Nggak apa-apa saya jalan sendiri aja,” tukas Riko pada sang pemandu.
Pria pemandu dengan setelan hitam itu pun tampak ragu. Beberapa kali ia menoleh ke arah rumah suaka dan tribun penonton yang harus ia awasi.
“Serius, nggak apa-apa. Cuma tinggal dekat juga. Aman. Pertandingannya udah mau mulai juga. Anda harus ngawasin tribun, kan,” bujuk Riko setengah memaksa.
Pria pemandu itu pun akhirnya mengalah. “Kalau begitu, saya akan mengantar Anda sampai di sini. Harap langsung ke rumah suaka dan tidak berkeliaran ke tempat lain. Akan sangat berbahaya jika Anda tersesat di tengah hutan dan tanpa sengaja memasuki arena pertarungan,” ucap pemandu itu sungguh-sungguh.
“Siap. Aman!” tukas Riko meyakinkan.
“Saya permisi,” sahut sang pemandu lantas undur diri.
Riko mengamati kepergian pria pemandu itu sampai punggungnya sudah tidak terlihat lagi. Begitu sosok pemandu tersebut menghilang, Riko segera memutar langkahnya lantas menyusuri jalur di mana ia tadi melihat Rangga lewat dengan tergesa-gesa.
Untungnya hutan itu tidak terlalu lebat sehingga bekas-bekas jejak Rangga masih bisa ditelusuri oleh Riko. Terlebih karena Rangga tidak berjalan di jalan setapak yang banyak dilewati orang-orang, sehingga bekas-bekas langkahnya terlihat jelas di tanah.
Pertanyaan tersebut pun akhirnya terjawab. Setelah berada cukup dekat dengan arena pertarungan, Rangga pun berhenti dan bersembunyi di balik pepohonan. Suara hingar bingar pertarungan terdengar jelas dari tempat itu. Riko ikut bersembunyi di balik pohon tak jauh dari Rangga. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak langsung menyerang sosok manusia yang paling dia benci itu demi untuk mengetahui rencana licik apa lagi yang tengah dilakukan Rangga.
Penantiannya pun membuahkan hasil. Dari balik persembunyiannya, Rangga mulai mengeluarkan skill-skill khas assassin yang mengeluarkan aura hitam pekat. Detik berikutnya, bayangan di bawah kaki Rangga mendadak memanjang seperti sulur-sulur tumbuhan yang merambat dengan sangat cepat.
Sontak Riko terbelalak melihat hal itu. Skill yang digunakan Rangga itu adalah kemampuan yang seharusnya hanya dimiliki oleh irregular dari kelas assassin. Setahu Riko skill itu dimiliki oleh Tomi, wakil ketua guild Silverdeath yang pernah menculiknya beberapa waktu lalu. Tapi apa ini? Kenapa mendadak Rangga juga bisa melakukan hal tersebut?
Di tengah keterkejutan itu, Riko juga menyaksikan bagaimana Rangga mempermainkan beberapa orang anggota guild yang sedang bertempur. Mereka dibuat menyerang sesama rekan mereka hingga hancur mengerikan. Pada titik itulah Riko menyadari bahwa saat ini Rangga sedang membantu salah satu pihak untuk menang dengan cara yang curang. Kemarahan Riko tak terbendung lagi. Kejahatan Rangga sudah benar-benar di luar batas kesabarannya selama ini. Pemuda itu pun lantas keluar dari persembunyiannya sembari memanggil kapak andalannya yang baru saja dia perbaiki: Noctorious Axe. Kapak emas itu berkilau indah dalam genggaman Riko yang tengah berlari menyerbu ke arah Rangga.
Serangan mendadak itu sontak membuat Rangga terkejut. Skill Shadow Chasernya yang sedang aktif langsung terputus begitu saja sementara ia berusaha menghindari tebasan kapak Riko di detik-detik terakhir. Ia berhasil menghindari luka fatal, tetapi lengan kanannya terkena luka gores. Kapak emas Riko berhasil meneteskan darah musuhnya.
“Lo!” geram Rangga dengan beragam ekspresi yang bercampur: kaget, marah dan bingung. “Gimana lo bisa nemuin gue, padahal gue lagi pakai skill Hiding?” lanjut pemuda itu sembari bangkit berdiri dari tempatnya tersungkur di tanah.
Riko tidak megindahkan pertanyaan itu karena fokusnya sekarang hanyalah untuk menyakiti Rangga. Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Riko kembali menyerbu Rangga sembari menghunuskan kapaknya. Rangga kembali menghindar lantas mengeluarkan senjatanya sendiri, dual dager berwarna hitam legam sepanjang setengah meter.
“Jangan ganggu gue kalau lo nggak mau mati sekarang,” geram Rangga penuh angkara murka.
Riko tidak mengacuhkan hal itu dan kembali menyerang Rangga dengan bertubi-tubi. Rasanya semua dendam yang sudah dia tahan selama ini meluap begitu saja. Riko sudah bersabar selama ini. Ia tidak bisa menahan dirinya sama sekali ketika melihat musuhnya kini tengah berada di depan mata, bertarung dengannya dengan taruhan nyawa. Riko sudah membayangkan hal ini ratusan kali dalam kepalanya. Tidak ada hal yang penting lagi baginya sekarang selain menghancurkan Rangga hingga tak berwujud lagi.
“Sialan!” umpat Rangga yang mulai terdesak oleh sosok Riko yang gelap mata. “Shadow Chaser!” lanjutnya menyerukan skill untuk mengendalikan tubuh lawannya.
Bayangan di bawah kaki Rangga kembali menyulur, kali ini memanjang ke arah bayangan milik Riko dan berusaha menangkapnya. Alih-alih menghindar, Riko justru memanfaatkan waktu casting Rangga itu untuk menyerangnya. Namun, waktunya benar-benar sempit. Skill Rangga berhasil menangkap bayangan Riko. Hanya tinggal menunggu waktu sampai tubuh Riko bisa berada dalam genggamannya.
Di sisi lain, Riko pun merasakan tubuhnya yang semakin berat untuk digerakkan. Ia menyadari bayangannya telah tertangkap oleh Rangga. Meski begitu, Riko tak menyerah. Ia terus berusaha melawan dengan kapaknya yang sudah berhasil melukai Rangga beberapa kali.