Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Penculikan



Riko terus berusaha menyadarkan sang sopir taksi. Namun pria itu sama sekali tidak bisa diajak bicara. Meski Riko berusaha menggoyang-goyangkan tubuhnya, supir taksi itu bergeming. Kedua matanya menatap kosong ke arah jalan raya, sementara tangan dan kakinya sibuk menyetir ke arah yang tidak diketahui Riko.


Pemuda itu tidak bisa memutuskan apakah ia perlu merasa panik atau tidak. Satu-satunya hal yang langsung terbersit di kepalanya adalah menghubungi Rhea. Gadis itu pasti bisa membantunya di waktu yang sempit.


“Rhe, aku nggak tahu apa yang terjadi. Tapi kayaknya taksiku disabotase. Aku –.” Belum sampai Riko selesai bicara, sang sopir taksi tiba-tiba merebut ponsel Riko begitu saja dan melemparnya keluar jendela.


Wajah sopir taksi paruh baya itu tampak benar-benar aneh. Sorot matanya yang kosong justru terlihat semakin mengintimidasi.


“Heh, Pak. Apa-apaan?!” seru Riko marah. Pemuda itu mencengkeram lengan sang sopir taksi hingga membuat laju mobil mereka oleng.


Riko terlempar ke sisi tempat duduk. Tubuhnya menubruk pintu hingga menimbulkan bunyi keras. Sementara itu, sang sopir taksi kembali mengendalikan kendaraannya dan berbelok ke sebuah gudang tua yang sepi. Riko mencoba melawan, tetapi tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak. Bahkan untuk bicara menggerakkan bibir saja ia tidak bisa. Hanya bola matanya yang bisa melirik ke segala arah dengan panik.


Tak lama setelah itu taksi yang dia tumpangi pun berhenti, masuk ke dalam gudang yang gelap. Dari sudut mata Riko, ia melihat beberapa orang sudah berkumpul di dalam sana. Pintu gudang pun ditutup setelah sebuah kendaraan roda dua ikut masuk ke dalam. Salah satu dari penunggang motor itu berjalan mendekati taksi. Orang itu mengetuk pelan pintu mobil di sebelah Riko sembali menyeringai.


“Perjalanannya seru?” tukas orang itu setelah membuka pintu. Ia adalah laki-laki berambut gondrong dengan kumis tipis.


Riko masih kaku tak bisa bergerak. Pemuda itu hanya bisa mengerang, mengeluarkan suara yang tidak jelas. Mendadak tubuhnya bergerak sendiri di luar kendalinya, lantas keluar dari mobil. Riko hanya bisa tercengang dalam hati, bingung akan keadaan yang penuh ancaman ini.


“Udah cukup, Tom. Lepasin aja dia,” ujar sebuah suara yang menyeruak dari balik kegelapan sudut gudang. Setidaknya ada enam orang yang mengepung Riko. Empat pria dan dua wanita.


Dari enam orang itu, muncul satu pemuda lagi dari kegelapan. Dan betapa terkejutnya Riko ketika menyadari bahwa orang itu rupanya Rangga. Ternyata manusia laknat itulah yang telah menjebaknya, menyabotase taksi Riko dan membawanya ke gudang kosong ini.


Kini Riko tahu kenapa sopir taksi itu bertingkah aneh. Termasuk tubuhnya yang kini tidak bisa bergerak. Ini adalah skill langka dari assassin yaitu mengendalikan bayangan dan membuat targetnya bergerak sesuai perintah. Namun skill ini seharusnya tidak dimiliki oleh sembarang orang. Itu artinya Riko sekarang sedang berhadapan dengan irregular lain dari kelas Assassin yang tak lain adalah anak buah Rangga.


Tak lama setelah Rangga memerintahkan si lelaki gondrong untuk melepas skill bayangannya pada Riko, pemuda itu pun akhirnya bisa bergerak lagi. Pasti orang bermotor itulah yang juga sudah mengendalikan supir taksi. Dia mengikuti mereka dari belakang sambil menggunakan skill.


“Dasar bajingan!” sembur Riko begitu tubuhnya bebas. Pemuda itu langsung menyerbu ke arah Rangga dengan marah. Akan tetapi dua anak buah Rangga langsung menghadangnya dan berusaha memegangi Riko.


Riko berkelit sambil melayangkan pukulan dengan kotak hitam yang berisi senjata untuk Rhea. Satu orang berhasil tumbang dengan kepala bocor penuh darah. Tentu saja orang itu langsung pingsan. Kotak senjata Riko itu terbuat dari besi berkualitas.


Serangan mendadak Riko itu langsung memicu para assassin di tempat itu untuk membalas. Akan tetapi Rangga menghentikan para anak buahnya dengan cara mengangkat satu tangan. Sayangnya Riko tidak bisa memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang Rangga karena sekarang tubuhnya kembali tidak bisa digerakkan.


“Gimana rasanya ketangkap sama skill Shadow Chaser?” tukas Rangga menyeringai. Musuh bebuyutan Riko itu pun berjalan mendekati si lelaki gondrong berkumis tipis. Di bawah kaki orang itu, bayangan hitam pekat menyulur sampai ke tubuh Riko, mengikatnya hingga tak bergerak.


“Tom, buat dia biar bisa bicara. Nggak enak ngomong sama patung,” perintah Rangga lagi.


Orang bernama Tomi itu mengangguk pelan lantas menarik salah satu sulur bayangannya. Seketika bibir Riko tidak lagi terasa kaku. Ia bisa bicara meski seluruh tubuhnya yang lain masih di bawah kendali orang lain.


“Apa maumu?” sergah Riko dengan tubuh kaku.


Rangga terkekeh mengejek. “Emangnya lo pikir gue bakal diam aja ngelihat pecundang kayak lo bisa punya reputasi bagus? Gue yakin itu pasti cuma akal-akalan lo aja, kan,” tukas pemuda itu sembari berjalan mendekat.


“Terserah kamu mau bilang apa. Aku nggak punya kewajiban buat lurusin pikiran halumu itu,” sahut Riko menggeram penuh amarah.


Rangga tertawa lagi. “Gue penasaran gimana tampang lo kalau benda ini hilang,” lanjutnya sembari membelai kotak hitam berisi senjata buatan Riko.


“Jangan berani-berani nyentuh benda ini.” Riko melotot penuh emosi sekalipun tubuhnya tak bergerak.


Rangga mendengkus pendek. “Apa istimewanya mainan nggak berguna ini. Player yang bergantung sama barang rongsokan gini, sama aja kayak orang domba yang berbulu serigala. Lemah tapi bergantung sama kemampuan equip. Itulah kenapa blacksmith rendahan kayak lo bisa punya nama. Karena kebanyakan player lain itu lemah,” cela Rangga terus merendahkan Riko.


Riko tak bergeming. Kata-kata Rangga sedikitpun tidak menyakitinya. Riko tahu bahwa ucapan Rangga itu hanya untuk menutupi kelemahannya sendiri. Rangga sedang membicarakan dirinya sendiri, dan bukan Riko atau siapa pun.


“Gue bakalan hancurin hidup lo, Riko,” ucap Rangga berubah kesal karena taktiknya menyakiti mental Riko telah gagal. Pemuda itu lantas berusaha merebut kotak hitam berisi senjata pesanan Rhea.


Riko mati-matian berusaha menahan cengkeramannya sekuat mungkin di pegangan kotaknya. Sayangnya, Tomi si assassin irregular, bisa mengendalikan tubuh Riko. Lelaki itu mulai memaksa Riko melonggarkan cengkeramannya, sementara Riko terus berjuang untuk melawan.


“Asosiasi nggak bakal biarin kalian lepas. Player yang pakai kekuatannya di luar dungeon bisa kena sangsi. Kamu mau hancurin guildmu sendiri? Silverdeath bisa dibubarkan,” kata Riko setengah mengerang.


Rangga tertawa lepas. “Lo terlalu ngeremehin Assassin, Riko. Nggak ada yang bisa nangkap kami dengan mudah. Itulah kenapa guildku banyak terima job sebagai pembunuh bayaran.”


Riko sudah nyaris melepaskan pegangannya pada kotak hitam, ketika tiba-tiba seorang perempuan berbaju serba hitam melompat turun dari langit-langit gudang.


“Bos! Gawat! Orang-orang Corsage nemuin kita. Rombongan penyihir udah nyerbu gudang! Kita harus pergi sekarang!” ucap perempuan bermasker hitam itu.


Rangga berdecak marah. Ia harus berpikir cepat agar tidak tertangkap. Akhirnya pemuda itu pun memerintahkan anggotanya untuk mundur dengan tangan kosong. mereka lantas melompat ke atap lalu menghilang bagai bayangan tersapu cahaya.