
Hari selanjutnya, Riko menyelesaikan bimbingan skripsinya dengan lancar. Agendanya setelah itu adalah acara peresmian markas baru untuk guildnya. Riko segera menjemput Sita di kantornya untuk bersama-sama menghadiri acara besar tersebut.
Pemuda itu sudah memarkir mobilnya di basement gedung kantor Sita ketika mendadak menyadari kehadiran sosok yang dia kenal. Rangga. Orang itu memang pernah bekerja di kantor yang sama dengan Sita. Akan tetapi, setahu Riko sejak Genesis muncul di dunia nyata, Rangga sudah berhenti dari pekerjaannya dan fokus berkarir sebagai player. Lantas kenapa sekarang Riko melihatnya melintas di parkiran kantor Sita?
Riko menggeram penuh amarah ketika melihat Rangga. Rasanya seluruh sel di tubuhnya ingin segera menghancurkan pemuda itu saat ini juga. Meski begitu, Riko berusaha keras untuk menahan diri. Jika mereka bertarung di sini, seluruh bangunan kantor itu mungkin bisa rubuh. Kondisi itu sangat berbahaya bagi orang-orang biasa yang bekerja di sana.
Pemuda itu akhirnya hanya bisa berusaha berpikir positif. Sejenak ia curiga Rangga mungkin datang untuk menemui Sita. Akan tetapi Riko segera mengenyahkan prasangka tersebut. Mungkin Rangga sekedar ingin bertemu HRD, lalu mengurus BPJS Ketenagakerjaan atau apalah. Entah.
Riko akhirnya melangkah keluar dari mobil setelah Rangga sudah tidak terlihat lagi. Ia berjalan menuju pintu masuk area kantor yang ada di basement, masih sambil berusaha menahan gejolak emosi jiwanya dengan beragam imajinasi yang baik. Namun pikiran positifnya itu pun buyar seketika saat melihat Sita tergopoh-gopoh lari menghampiri Rangga. Jantung Riko mencelos, seperti jatuh langsung ke mata kaki. Pemuda itu melihat Sita dan Rangga berdebat dari kejauhan. Ia ingin mendekat dan mendengar percakapan mereka, tetapi jaraknya terlalu jauh.
Meski begitu, Riko tetap berjalan penuh emosi ke arah mereka berdua berdiri. Rangga memunggungi Riko, sementara Sita akhirnya menyadari keberadaan pemuda itu. Ekspresi wajah Sita seperti orang kebingungan. Gadis itu tampak panik saat melihat Riko mendekat. Hal itu semakin memicu kemarahan Riko. Seolah-olah Sita sedang mengonfirmasi bahwa ia tengah diam-diam bertemu dengan Rangga.
Tanpa banyak bicara, Riko pun segera berdiri di depan Sita sembari menghadap ke arah Rangga. “Ada urusan apa sama Sita?” geramnya penuh emosi.
Riko melotot marah. Rasanya ia ingin segera mencabut kapaknya lalu memenggal leher Rangga saat itu juga. Emosinya yang tertahan membuat seluruh tubuh Riko gemetaran karena marah. Ia sampai harus menggeretakkan gigi agar tidak meledak marah.
“Kamu pikir aku bakal biarin kamu berkeliaran di dekat Sita bahkan setelah kami putus? Nggak puas kamu ganggu hidupku? Sampai kirim pembunuh ke rumahku. Aku nggak bakal tinggal diam. Kamu bakal nerima pembalasanku cepat atau lambat,” ancam Riko penuh amarah.
Rangga mendengkus lagi. Ia tertawa kecil dan tampak merendahkan Riko yang menurutnya naïf. “Lo beruntung karena gue cuma sekadar main-main selama ini. Meski begitu, gue tunggu deh, sampai ancaman lo itu terwujud. Penasaran kayak gimana lo bakal bikin pembalasan,” ucap Rangga yang terkesan memandang Riko sebelah mata.
Urat nadi kesabaran Riko sudah nyaris putus saat itu juga. Ia hampir benar-benar menarik senjatanya dari inventory kalau saja Sita tidak mencegahnya.
“Udah, cukup. Rik, ini nggak seperti yang kamu bayangin. Aku bakal jelasin setelah ini,” ucap Sita menengahi mereka berdua. Gadis itu pun lantas balik menatap Rangga dengan tajam. “Dan kamu, tolong pergi aja. Aku nggak mau ketemu kamu lagi sama sekali,” ucapnya tegas.
Ekspresi wajah Rangga berubah muram. Pemuda itu terdiam kehilangan kata-kata lantas berdecih kesal. Ia akhirnya berbalik pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.