Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Masa Lalu



Mona sepertinya bisa melihat keraguan di wajah Riko. Gadis itu lantas memberanikan diri untuk bertanya. “Ada apa?” tanya Mona.


Riko menatap gadis di hadapannya dengan sedikit rasa bersalah. Mona sudah bekerja keras membangun Forging Master menjadi semakin besar. Mona bahkan merelakan posisinya di Guild Corsage serta mengabaikan kesibukan pribadinya demi guild. Akan tetapi sekarang Riko justru dihadapkan pada pilihan yang sulit. Rasa bersalah Riko muncul karena sekilas ia memilih menyelesaikan kuliahnya dibanding mengurus guild. Riko kembali menyadarkan dirinya.


“Ah, enggak. Ini chat dari dosenku. Katanya judul skripsiku udah di ACC terus suruh mulai bimbingan. Tapi kalau sekarang kayaknya nggak sempat juga. Masih banyak pekerjaan kita. Jadi mungkin aku bakal lepas kuliahku aja,” jawab Riko sembari meletakkan ponselnya kembali.


Ada setitik rasa getir yang dirasakan Riko. Meski begitu, hidup ini memang selalu tentang pilihan. Sudah terlambat untuknya kalau mengejar impian wisuda dan menjadi sarjana. Meski itu harapan orang tuanya, tetapi Riko juga sudah punya tanggung jawab lain sekarang.


“Kenapa harus dilepas, Rik?” Sekonyong-konyong Mona mematahkan asumsi Riko. “Lanjutin aja, toh tinggal skripsi. Nggak usah khawatir soal guild. Kita udah punya pendapatan tetap dari dungeon Parangkusumo. Hasil jualan Kristal sama sewa dungeon udah cukup buat cover pengeluaran guild kita. Terus dua tim baru kita yang bisa dikirim buat membasmi dungeon di luar juga banyak penghasilannya.


“Pokoknya kamu tenang aja. Serahkan semuanya sama kami dan kamu bisa fokus skripsi dulu. Asal kamu tekun dan beneran ngerjain, palingan tiga bulan kelar kan? Nggak usah terlalu khawatir,” ucap Mona meyakinkan.


Riko kehilangan kata-kata. Entah kenapa Mona selalu bisa memahami dirinya dan membuat Riko merasa tenang. “Kamu serius, Mon? Tapi mana bisa aku seenaknya –.”


“Udah nggak apa-apa. Orang tuamu juga terus-terusan nanyain soal kuliah kan. Beberapa kali kulihat kamu selalu murung tiap kali habis telpon ibumu. Tinggal satu langkah lagi. Kelarin. Habis itu kamu bisa fokus kerja tanpa terbebani tanggung jawab lain. Oke?” potong Mona dengan penuh keyakinan.


Mau tak mau Riko pun tersenyum lebih lebar. Beban di hatinya seperti terangkat berkat kata-kata penghiburan Mona. “Makasih banyak, Mon,” ucapnya penuh syukur.


Hari selanjutnya Riko memutuskan untuk pergi ke kampusnya. Zein bersikeras mengantar Riko karena rasa tanggung jawabnya sebagai pelindung sang Ketua Guild. Akan tetapi Riko rupanya sudah membeli satu unit mobil dengan uang hasil kerjasamanya dengan guild Ares. Mobil sedan itu datang pagi-pagi sekali setelah Mona mengurus seluruh pembeliannya di dealer.


Zein terkagum-kagum melihat mobil hitam metalik mulus yang terlihat mahal itu. Memang bukan seri keluaran terbaru, tetapi Riko cukup puas dengan mobil tersebut.


“Yuk ah, gue anter pakai mobil baru,” ucap Zein bersemangat.


Riko menarik rekan guildnya itu untuk menjauhi mobil barunya. “Nggak usah. Kampusku deket situ kok. Lagian aku juga mau ngereyen mobil baru sendiri,” tukas Riko sembari membuka pintu mobilnya di bagian kemudi.


Zein merengut kecewa. “Gimana kalau ada yang nyabotase lo di jalan lagi?” tanyanya penuh kekhawatiran.


“Nggaklah. Aman-aman. Silverdeath pasti lagi sibuk-sibuknya buat persiapan Guild War sekarang. Nggak akan sempat ngerecokin kita.” Riko menjawab sembari masuk ke dalam mobil barunya. Pemuda itu lantas menutup pintu mobil tanpa menunggu balasan kata-kata Zein.


Setelah melambai sekilas, Riko pun keluar dari gedung apartemennya dan mulai berkendara menuju kampus yang tak jauh dari lokasi tempat tinggalnya.


Sepuluh menit kemudian, Riko pun sampai di kampusnya. Ia memaarkirkan mobilnya dengan bangga lantas langsung meluncur ke ruang dosen dengan membaw berkas skripsi yang sudah dia susun. Sebelumnya Riko sudah membuat janji dengan sang Dekan sekaligus dosen pembimbingnya, Pak Dibyo. Karena itu ia tidak perlu menunggu antrian seperti mahasiswa lain yang angkatannya di bawah Riko.


“Datang juga kamu, Riko,” sapa Pak Dibyo saat Riko menemuinya di ruangannya.


“Eh, iya, Pak. Maaf kemarin nggak lihat pengumuman. Kiranya nggak ACC, Pak,” sahut Riko sembari duduk di hadapan sang dosen.


“Yah, mahasiswa-mahasiswa angkatanmu ini kasus spesial. Kalian dikejar tenggat juga harus bisa lulus tahun ini, ya. Mempengaruhi akreditasi kampus soalnya. Makannya saya nggak akan persulit lagi. Yang penting kamu rajin bimbingan dan dikerjakan dengan serius. Oke?” ucap Pak Dibyo tanpa basa basi.


Riko mengangguk mantap. Kali ini ia akan menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Terutama setelah sang Dekan sendiri mengatakan kalau akan membantu mempermudah skripsinya. Riko menjadi lebih yakin ia bisa lulus dengan cepat.


Akhirnya proses bimbingan pertama Riko pun selesai setelah dua puluh menit berlangsung. Pak Dibyo memberi banyak masukan dan beberapa sumber literasi untuk dikerjakan Riko. Pemuda itu melangkah ringan keluar dari ruang dosen melewati lorong kampusnya yang ramai mahasiswa baru.


Di tengah perjalanannya itu, mendadak mata Riko menangkap sosok yang familiar. Seorang perempuan berambut bob pendek yang baru keluar dari ruang Tata Usaha. Perempuan itu juga tanpa sengaja menemukan Riko di tengah kerumunan. Keduanya bertatapan selama beberapa waktu sebelum akhirnya sang perempuan menyapanya.


“Riko?”


“Kamu ngapain di sini, Sit?” tanya Riko pada perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Sita, mantan pacarnya yang tinggal di apartemen depan.


“Aku … ngurus berkas legalisir buat keperluan kantor,” tutur Sita sembari menunjukkan dokumen-dokumen yang dipeluknya. “Kalau kamu?” tanya Sita kemudian.


Riko menunjukkan tumpukan skripsinya yang sudah terjidil rapi. “Bimbingan,” tukasnya pendek.


Mata Sita pun membulat. Gadis itu tampak semringah dengan senyum yang terkembang di wajah manisnya yang membuat jantung Riko berdegup lagi. Senyuman itu yang dulu membuat Riko jatuh cinta pada Sita.


“Gimana kalau kita makan siang bareng? Udah lama kan nggak ke kantin kampus. Aku kangen ayam gepreknya,” ajak Sita tiba-tiba.


Riko tak kuasa menolak. Selain karena ia memang lapar, juga karna senyuman Sita yang sudah lama tidak dia lihat itu membuat pertahanan Riko goyah.


“Kita juga bisa bahas skripsimu. Siapa tahu aku bisa bantu,” tambah Sita ceria. Gadis itu pun menggandeng lengan Riko seolah hubungan mereka masih akrab seperti dulu. Riko hanya bisa pasrah mengikuti Sita ke kantin kampusnya. Tempat penuh nostalgia tentang masa lalunya bersama gadis tersebut.