
Mona mengangkat tangannya sambil tersenyum. “Aku. Ini kejutan yang kubilang kemarin,” ujarnya ceria.
Riko mengangkat alisnya. “Lah, bukannya kamu udah di Corsage? Dibandingin Corsage, guildku ini … .”
“Aku udah mengundurkan diri dari Corsage. Untung nggak ada biaya pinalti. Tapi gajiku bulan ini jadinya ditahan. Cuman nggak masalah. Aku udah memutuskan buat gabung ke Forging Master,” potong Mona sembari menggandeng Riko untuk duduk di sofa ruang tamu mereka.
Ruangan itu tampak berantakan. Bekas-bekas makanan, botol minuman sampai asbak penuh punting rokok berserak di seluruh tempat. Riko menghela napas pelan melihat situasi ruang tamunya yang sudah seperti kapal pecah. Sebenarnya mereka ini memang khawatir pada Riko atau cuma sekadar pindah kosan ke apartemen Riko.
“Nanti kami beresin, Rik,” ujar Rizal, satu-satunya orang yang tanggap.
“Makasih, Zal,” gumam Riko sembari duduk di sofa yang sudah penuh bungkus ciki kosong. “Oke, kita bahas dulu bentar, Mon. Kamu serius mau gabung ke guild kita?” tanya Riko memastikan. Mona mengangguk yakin.
“Kenapa?” tanya Riko lagi. Memang sangat menguntungkan kalau dia mendapat anggota baru yang sekuat Mona. Meski begitu Corsage adalag guild kedua terbesar di Negara ini sekarang. Kenapa Mona bisa segegabah itu memutuskan untuk pindah ke guild kecil seperti Forging Master.
“Iya, gue juga nggak setuju,” sergah Zein sembari memunguti sampah bersama Rizal dan Jaka. Gladys pun ikut mengambil sapu dan membersihkan lantai sambil mengusap matanya yang sembab.
Akan tetapi, rupanya Mona punya alasan yang masuk akal. Gadis itu mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu membuka browser selama beberapa saat. Tidak sampai satu menit kemudian, gadis itu menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Riko.
“Forging master masuk ke daftar rangking sepuluh besar,” ujarnya sembari memperlihatkan hasil pencariannya.
Riko meraih ponsel Mona dan membaca artikel tentang evaluasi rangking guild yang terbaru. Diumumkan bahwa pihak Asosiasi telah merilis daftar rangking guild terbaru setelah evaluasi bulanan, dan Forging Master telah masuk di urutan nomor tujuh! Tepat di bawah Silverdeath, guild milik Rangga yang berada di urutan keenam. Ares masih memimpin dan Corsage tetap bertahan di urutan kedua.
“Wih beneran, nih? Gue malah baru baca. Padahal gue scroll hape seharian,” komentar Zein turut melongok ke layar ponsel Mona yang dibawa Riko. Rekan-rekan mereka yang lain pun iku melihatnya.
Riko tersenyum simpul. “Kok bisa naik sedrastis ini? Apa gara-gara dungeon kemarin?” tanyanya sembari mengembalikan ponsel Mona.
Mona mengangguk. “Itu salah satunya. Dan aku yakin kalau Forging Master bakal melesat lebih tinggi lagi. Kalian punya potensi. Kemampuanmu bisa medatangkan kekayaan besar juga, Rik,” ungkap gadis itu sembari tersenyum lebar.
“Yah, gue nggak akan meragukan itu juga, sih. Gue mau gabung ke sini juga gara-gara ngeliat kemampuan Riko. Coba lo cek level lagi deh, Rik. Sapa tahu nambah. Kekuatan lo yang sekarang nggak mungkin cuma berada di level F,” komentar Zein menimpali.
“Emang level player bisa berubah?” tanya Riko.
“Ada beberapa kasus para player itu justru turun level karena cidera berat setelah masuk dungeon. Tapi kenaikan level emang jarang banget terjadi. Ada beberapa tapi itu pun kasus langka dari seorang player level A jadi level S.” Mona ikut menjelaskan.
“Oracle?” tanya Riko yang kini merasa begitu terasing dari segala berita trending masa kini. Padahal Riko hanya pergi selama lima hari, tetapi seluruh informasi baru bergulir dengan cepat.
“Betul. Win Nathaniel dari Guild Holy Bible. Mereka ada di urutan kelima. Tapi Nathan bukan ketua guildnya. Itu guild para priest. Dan kabarnya orang itu juga irregular dengan skill kusus bernama Future Sight. Aku dengar dari Rhea kalau kamu juga salah satu irregular, Rik?” tanya Mona penuh selidik.
Kini giliran keempat temannya yang lain yang bertanya secara serentak. “Irregular?” celetuk Jaka, Zein, Rizal dan Gladys bebarengan.
“Apa itu?” tanya Jaka polos.
Riko menarik napas sejenak. Mau tidak mau ia pun menjelaskan secara singkat kepada tiga rekannya yang lain tentang irregular, yaitu para player dengan level tertinggi di kelasnya. Player-player itu akan mendapat skill khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Baru-baru ini Riko sudah menemukan skill khususnya tersebut yaitu Pure Luck, dimana seluruh senjata atau pun equip yang dia buat tidak akan pernah gagal.
Seluruh rekannya pun ber-ooh panjang dengan kagum. Mereka mendadak merasa sangat beruntung bisa menjadi rekan dekat dari salah satu di antara dua belas irregular, sesuai dengan jumlah job di Genesis.
“Sampai sekarang keberadaan irregular emang belum dipublikasikan. Karena jumlah mereka yang sedikit, makanya identitas mereka nggak mudah diungkap. Selain berbahaya, juga karena kebanyakan dari mereka memilih buat menyembunyikan kekuatannya,” terang Mona kemudian.
“Wah gila lo, Rik. Pantesan gue langsung kesengsem sama skill lo waktu pertama lihat,” komenar Zein takjub.
“Kira-kira yang lain siapa ya?” tanya Jaka penasaran.
“Ini off the record ya, tapi irregular yang aku tahu sejauh ini cuma empat, termasuk Riko dan Nathan. Lainnya dalah Gamaliel Gunawan, pimpinan Guild Ares dengan kemampuan khusus Steel Body. Terus mantan ketua Guildku, Rhea, yang punya skill Mind Whisperer. Pasti kamu udah pernah ngerasain kemampuan Rhea juga, Rik,” terang Mona panjang lebar.
Riko mengangguk ringan. “Rasa-rasanya aku perlu belajar meditasi sebelum ketemu Rhea lagi. Nggak nyaman kalau semua pikiranku bisa kedengeran sama dia. Kan kadang-kadag aku mikir random juga,” keluh pemuda itu sembari mengingat pertemuannya dengan Rhea.
Mona tertawa kecil. “Nah, itu alasan keduaku pindah guild. Karena aku nggak tertarik sama lima guild lain yang ada di peringkat atas, jadi aku milih Forging Master. Setidaknya kalian lintas job. Ares itu semuanya swordsman, Corsage penyihir, Minerva buat para alkemis, urutan keempat ada Rangerbone punyanya para archer. Holy Bible priest sementara Silverdeath khusus Assassin,” lanjut gadis itu sembari menghitung urutan guild dari yang pertama hingga keenam.
“Apa ketua guild lain selain Ares dan Corsage juga irregular?” tanya Riko kemudian. Ia menjadi penasaran tentang Rangga. Jangan-jangan orang itu juga memiliki skill spesial yang berbahaya.
Mona menggeleng pelan. “Nggak ada yang tahu. Tapi menurut pendapat pribadiku, kurasa bukan,” jawab gadis itu apa adanya.
“Baguslah,” sahut Riko sembari menghela napas lega. “Sekarang, kita lanjut buat tanda tangan kontrak aja, kalau gitu, Mon. Selamat datang di guild Forging Master,” lanjut Riko tanpa mempedulikan teriakan putus asa dari Zein.