
Riko membuka pintu apartemennya dan mendapati Sita sudah berdiri di sana dengan wajah khawatir. Gadis itu tampak ingin menanyakan banyak hal, tetapi pada akhirnya tidak bisa berkata-kata.
“Kamu udah sembuh?” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan Sita.
Riko menghela napas pelan. Ingatannya akan pertengkaran mereka beberapa waktu yang lalu kembali muncul. Dan rasa marahnya terhadap Rangga justru semakin menguat.
“Kenapa? Bukannya kamu senang kalau aku nggak ada. Kamu jadi bisa bebas ketemu sama Rangga,” tukas Riko ketus.
Ekspresi Sita menjadi semakin sedih. “Kenapa kamu bilang gitu? Aku beneran khwatir waktu tahu kalau kamu dirawat di rumah sakit. Tapi temen-temenmu nggak izinin aku buat jenguk,” sahut Sita.
Riko sedikit melunak. Pemuda itu kembali menghela napas berat. “Aku udah nggak apa-apa. Untuk sementara waktu, sebaiknya kita nggak usah ketemu dulu. Aku lagi punya banyak urusan yang harus dikerjakan,”
ujarnya kemudian, lantas menutup pintu.
“Rik … ,” desah Sita pelan. Namun Riko sudah kepalang malas untuk berbicara lebih banyak. Kepalanya hanya dipenuhi dengan pikiran buruk saat itu. Sebaiknya ia menghindari Sita. Maka, dengan dingin Riko pun tetap menutup pintu apartemennya dan membiarkan Sita mematung dengan sedih.
Hari selanjutnya, Riko sudah mendapatkan informasi mengenai lokasi tempat menemukan barang-barang yang dia butuhkan untuk membangun kembali bengkelnya. Kayu-kayu ajaib yang dibutuhkan ternyata bisa didapat dengan menebangi sembarang pohon di dalam dungeon. Riko langsung meluncur ke dungeon Parangkusumo yang sudah dikuasai oleh guildnya untuk mulai mendapatkan kayu-kayu yang dia butuhkan.
Waktunya sempit karena sebentar lagi acara guild war yang pertama akan segera diadakan. Gamaliel sudah mengirim undangan bagi guildnya untuk ikut menghadiri acara tersebut, meski Forging Master belum bisa
berpartisipasi saat itu.
Entah keberuntungan atau bukan, tetapi keadaan Riko yang tidak bisa membuat senjata untuk sementara waktu bisa menjadi alasan baginya untuk menolak permintaan guild Minerva. Riko tidak perlu membuat senjata pemusnah masal karena kini skill Weapon Masterynya terkunci. Dengan alasan itu, maka hubungannya dengan guild terbesar ketiga dan keempat itu tidak terlalu renggang karena Riko tidak semata-mata menolak begitu saja.
Justru kejadian tersebut sepertinya membuat Minerva dan Rangerbone menjadi sedikit berselisih dengan Silverdeath, guild milik Rangga. Ternyata dibalik kemalangan, ada juga keberuntungan yang datang.
Hari itu Riko masih sibuk menebang pohon di dungeon ketika tiba-tiba Zein muncul bersama Gladys. Monster-monster di dungeon tersebut muncul tak ada habisnya, tetapi justru bisa menjadi sarana berlatih bagi para anggota baru guildnya.
“Rik, lo nggak istirahat dulu? Besok kita udah harus berangkat ke Maluku, loh,” sapa Zein yang baru datang. Pemuda itu mengamati kawanan monster laut berupa siput raksasa yang tengah bertarung dengan beberapa
anggota baru guild mereka.
Riko menyeka peluhnya. Dungeon tersebut berupa pantai yang dipenuhi angin, tetapi pekerjaannya menebang pohon seharian tetap membuat pemuda itu kelelahan.
“Masih kurang enam ribu lagi. Targetku hari ini dapet lima ribu kayu. Jadi pas pergi setidaknya aku udah dapet separohnya,” tukas Riko sembari menancapkan kapaknya ke pasir pantai. Pepohonan bakau di sepanjang pantai dungeon itu sudah nyaris habis ditebang oleh Riko.
“Yaudah kalau gitu. Sayangnya kami nggak bisa bantu nebang pohon sembarangan, karena kalau bukan pemilik quest, hasil kayunya cuma jadi rotten board. Yang penting jangan maksain diri aja, Rik. Mona udah
ngedumel tuh karena kita juga harus siap-siap sebelum berangkat besok,” pesan Zein kemudian.
“Iya. Bentar lagi kelar kok. Habis ini aku ke markas,” sahut Riko kembali mengayunkan kapaknya.