Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Forging Master



Setelah selesai melakukan raid dungeon di Kawah Merapi, nama Riko menjadi tersohor. Kabar bahwa seorang blacksmith berlevel F berhasil memimpin tim mengalahkan naga merupakan berita yang cukup mengejutkan.


Ponsel Riko bordering tanpa henti sehari setelah raid dungeon tersebut. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang merekrutnya untuk melakukan pembasmian dungeon bersama, atau menawarinya masuk ke guild mereka.


Akan tetapi, Riko sudah memantapkan pilihannya untuk membuat guild sendiri. Dan oleh karena itu, ada dua orang penting yang harus dia hubungi sebelum ia secara resmi mendaftarkan guildnya dengan anggota yang sudah lengkap.


Orang pertama adalah Gema, sang pimpinan Guild Ares. Ia harus menolak tawaran Guild Ares dengan sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kekacauan. Riko pun menghubungi Dirga, Wakil Ketua Guild yang nomornya sudah dia simpan.


“Hei, Riko. Gimana? Katanya kamu abis ngalahin naga,” sambut Dirga di ujung panggilan.


“Eh, iya. Gitulah,” jawab Riko sekenanya.


“Mantab emang. Kenapa nggak ngabarin kalau mau raid dungeon? Kita kan bisa bantu kirim player-player dari guild,” sahut Dirga.


Dan ngambil semua item berharga dalam guild? Jangan mimpi. Pikir Riko dalam hati.


“Wah, nggak enak lah kalau ngerepotin. Aku kan juga bukan anggota Guild Ares,” jawab Riko mulai mengarahkan pembicaraan.


“Belum. Setelah kamu tanda tangan kontrak, otomatis kamu udah resmi jadi bagian dari kami.”


Riko menarik napas panjang. Ini saatnya membicarakan yang perlu dia sampaikan. “Maaf, Dirga, tapi kayaknya aku nggak bisa tanda tangani kontraknya. Aku berterima kasih karena udah ditawarin masuk guild Ares, cuman aku udah punya rencana sendiri,” kata pemuda itu sehalus mungkin.


Dirga terdiam selama beberapa saat, hingga Riko mengira panggilan itu terputus.


“Halo? Dirga? Kamu masih di sana?” tanya Riko memecah keheningan.


Suara dehem ringan terdengar menanggapi. “Jadi apa rencanamu?” tanya Dirga kemudian.


“Oh itu … aku mungkin nggak bisa begitu aja gabung sama guild ares, karena kupikir itu bakal jadi ketimpangan buat guild-guild lainnya. Jadi aku mutusin buat bikin kontrak kerja sama aja, di luar keanggotaan. Aku bisa jadi supplier senjata buat guild Ares. Tapi nggak terikat sebagai anggota. Dengan begitu aku bisa lebih adil juga sama guild-guild yang lain. Gimana?” Riko balas bertanya.


Sekali lagi Dirga tidak langsung menjawab. Butuh beberapa detik sampai akhirnya lawan bicara Riko itu bertukas.


“Jadi kamu mau bikin bisnis penempaan? Nggak buruk juga. Harus kuakui kamu pinter juga nyari peluang. Kalau kamu berperan jadi vendor, keuntunganmu jadi lebih banyak, ya. Masuk akal sih,” sahut Dirga sembari mendengkus pelan.


Riko tertawa kecil. “Yah, niatku nggak sampai sejauh itu. Tapi emang dengan begini aku bisa dapet lebih banyak pelanggan. Nggak bisa dipungkiri juga, aku lebih suka kerja tanpa terikat. Dengan cara ini aku ngerasa lebih nyaman,” jawabnya terus terang.


“Hmm … oke. Aku coba bicarain sama Ketua Guild dulu. Mungkin dia bakal hubungi kamu secara langsung setelah ini. Kamu siap-siap aja,” sahut Dirga kemudian.


Tak lama setelah itu, panggilan itu pun ditutup. Satu masalah sudah selesai. Seperti kata Dirga, Riko memang berniat untuk mendapat keuntungan yang lebih besar sebagai penyuplai senjata dan equipment ke guild-guild lain. Dengan begitu, ia juga bisa membesarkan nama guildnya sendiri hingga masuk ke peringkat rangking teratas.


Mimpi Riko memang sangat muluk. Ia juga harus memanfaatkan kesempatan dimana ia sedang naik daun karena prestasinya melawan naga. Riko sudah membaca beberapa artikel yang membicarakannya ketika keluar dari dungeon kemarin. Fotonya saat keluar dari portal terpampang di semua media sosial. Riko sudah menjadi buah bibir. Kesuksesan seperti sudah ada di depan matanya.


Setelah selesai urusan dengan Guild Ares, kini Riko harus menghubungi orang kedua yang dibutuhkannya: Sita. Entah kenapa Riko ingin menghubungi gadis itu. Mungkin bukan semata-mata karena ia ingin mengajak rujuk atau membawa Sita dalam guildnya, tetapi lebih kepada Riko ingin menunjukkan pada gadis itu bahwa dirinya sudah berhasil mencapai titik ini. Riko butuh pengakuan.


Akan tetapi, sebelum sempat menekan tombol untuk memanggil Sita, mendadak notifikasi muncul dilayar ponselnya. Riko membaca sekilas dan seketika ia merasa semakin girang. Judul Skripsinya diterima dan ia sudah mendapat jadwal bimbingan di kampus! Bagaimana bisa hidupnya tiba-tiba menjadi selancar ini?


Riko meninju udara dengan bahagia. Pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak menghubungi Sita lebih dulu. Sebaiknya ia segera mendaftarkan guildnya saja sebelum keberuntungannya habis.


Pemuda itu lantas bersiap-siap untuk pergi ke Asosiasi. Ia juga harus mulai mencari rumah yang lebih luas sebagai markas guildnya, sekaligus tempat tinggalnya. Riko tidak bisa terus-terusan tinggal di kamar kos sempit itu sementara uangnya sudah cukup melimpah sekarang. Ia bahkan bisa menyewa apartemen dengan tiga kamar dengan pendapatannya itu.


Maka dengan hati yang ringan, Riko pun melesat ke Asosiasi. Ia sudah mengisi seluruh form pendaftaran guild dan menyerahkannya kepada petugas resepsionis yang tempo hari dia temui. Nama Jaka, Rizal dan Zein sudah ia daftarkan sebagai anggota. Terlampir juga fotocopy identitas mereka bertiga sebagai pelengkap.


“Silakan isi nama guildnya dulu, ya, Kak,” ucap sang resepsionis sembari menyodorkan kembali form pendaftaran Riko.


“Hah? Nama guild?” tanya Riko memindai ulang form tersebut. Rupanya ia terlewat mengisi nama guild yang ada di bagian paling atas. Dari sekian banyak hal, kenapa Riko bisa melewatkan untuk memberi nama guildnya sendiri.


Kebingungan, Riko pun memutuskan untuk menghubungi ketiga anggotanya yang lain. Mereka semua sudah tergabung dalam grup chat yang sama. “Sebentar ya, Mbak. Saya lupa diskusi sama temen-temen yang lain,” ucap Riko meminta waktu.


Sang resepsionis hanya tersenyum sambil mengangguk. Riko pun kembali duduk di kursi antrean dan mengirim pesan singkat di grupnya.


“Ada yang puny aide nama guild kita?” tulis Riko dalam pesan singkat itu.


Tak berapa lama kemudian anak-anak yang lain pun membalas.


“Namanya yang unik, Mas. Yang Jawa-jawa gitu gimana? Gandewa? Arjuna?” balas Jaka tak lama setelahnya.


Riko mengernyitkan dahinya. Ia tidak terlalu menggemari selera Jaka yang orang Jogja asli.


“Mending yang lebih modern. Hyperblast atau Firebolt. Kayak nama sapu terbangnya Harry Potter.” Zein turut mengetikkan jawabannya.


RIko mendengkus kecil membaca jawaban Zein. “Dasar penyihir,” gumamnya pada diri sendiri.


“Kalau menurutku, mending namanya mengusung keunikan guild kita, yaitu kemampuan Riko sebagai blacksmith. Itu bisa jadi nilai jual, kan. Riko juga katanya mau sekalian berbisnis di bidang itu. Jadi cocok,” ketik Rizal yang membalas paling akhir.


Riko menimbang-nimbang usul Rizal. Ia suka ide tersebut karena toh ia juga yang membuat guildnya. Akhirnya ia pun membuka internet untuk mencari nama yang cocok.


“Forging Master. Gimana kalau namanya itu?” tulis Riko kemudian.


Setelah melalui voting dan pengambilan suara, akhirnya nama usulan Riko mendapat persetujuan mutlak dari keempat anggota guild tersebut.