Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Bisnis



“Beneran deh, gue speechless sama lo, Rik. Gue nggak ngerti lagi lo itu baik apa, sorry, bego? Masa anak itu lo lepasin gitu aja? Terus mau gimana rencana lo?” cecar Zein panjan lebar.


Mereka berdua kini berada dalam perjalanan menuju markas Guild Ares. Zein mendapat pinjaman mobil dari temannya yang punya rental. Riko sepertinya benar-benar harus mempertimbangkan untuk membeli mobil sendiri daripada harus repot begini.


“Udah kubilang, kan, nggak ada gunanya nangkep ekornya doing. Yang harus dilawan itu otaknya. Si Rangga. Anak itu cuma dia jadiin pion, bidak untuk ngelakuin rencananya,” kilah Riko yang duduk di sebelah kursi kemudi. Pemuda itu menatap ke luar jendela sambil memikirkan gadis muda yang sudah dimanfaatkan Rangga.


Kasihan anak itu. Padahal Lana mungkin bisa jadi player yang potensial kalau saja Rangga tidak membuatnya menjadi mesin pembunuh.


“Lo itu terlalu lembut, Rik. Kalau gue pasti udah … argh! Kesel banget gue! Serah lo deh,” rutuk Zein yang akhirnya menyerah memberi nasehat penuh kekerasan pada Riko.


Tak berapa lama kemudian mereka berdua pun akhirnya tiba di markas Guild Ares. Bangunan bergaya arsitektur Yunani dengan pilar-pilar putih gading kembali menyambut Riko. Rasanya sudah lama sekali sejak ia terakhir kali datang kemari.


Si pria tua yang berperan sebagai butler menyambut mereka di pintu masuk. Beberapa anggota guild yang lalu lalang di atrium tampak mengenakan seragam yang sama: zirah perunggu dengan jubah merah menyala di belakangnya. Sepertinya mereka sedang bersiap untuk sesuatu.


Saat Riko bertanya, sang butler menjelaskan kalau mereka tengah berlatih keras di dungeon untuk mempersiapkan guild war. Tidak diragukan lagi memang, untuk ukuran guild terkuat saat ini, Ares memang sangat serius dalam memanajemen seluruh anggotanya.


Setelah melewati atrium di lantai dasar, sang butler membawa mereka menuju sebuah pintu dengan tangga menurun yang curam. Riko mengernyit sejenak. Alih-alih dibawa ke ruangan ketua guild seperti sebelumnya, butler tersebut justru mengarahkan Riko ke ruang bawah tanah.


“Kita ke bawah?” tanya Riko sembari mengikuti butler itu yang berjalan dengan hati-hati. Tangga menuju ruang bawah tanah memang sedikit sempit meski didisain dengan indah dan terang.


“Tuan Gunawan sudah menunggu di Gudang Senjata,” tukas butler itu sopan.


Rupanya mereka sedang dibawa ke gudang senjata. Setelah memahami situasi, Riko menjadi lebih rileks. Setelah akhir-akhir ini mendapat ancaman serius dari Rangga, kewaspadaan Riko menjadi semakin tinggi.


Setelah perjalanan turun sekitar lima menit lamanya, rombongan tersebut akhirnya sampai di sebuah ruangan berdinding batu yang sangat luas. Ruangan tersebut diterangi dengan cahaya lampu putih yang benderang. Empat buah blower atau exhaust fan, alat pengatur sirkulasi udara, terpasang di setiap sudut ruangan tersebut.


Senjata-senjata berat tersusun rapi menurut jenisnya. Ada rak berisi pedang satu tangan, lalu pedang panjang. Ada pula yang memajang pedang besar untuk dua tangan, tameng, armor, dan berbagai peralatan tempur lainnya. Gudang senjata itu benar-benar didesain dengan campuran arsitektur klasik serta modern di saat yang sama.


Riko menemukan Gamaliel dan Dirga tengah bicara pada seorang pria bertubuh kekar yang pernah datang ke apartemen Riko tempo hari. Mereka berdiri di tengah ruangan, di depan sebuah meja display yang masih kosong.


Sang butler meminta Riko dan Zain menunggu sejenak di sisi ruagan, sementara sang butler mendekati Gamaliel dengan hati-hati. Beberapa detik berbicara, Gamaliel dan Dirga lantas menoleh ke arah Riko lalu melambai senang. Sambutan hangat mereka terima dari ketua dan wakil ketua Guild Ares tersebut.


“Udah sampai kalian? Sini, Rik,” panggil Gamaliel kemudian.


Sang butler dan pria kekar yang sebelumnya bicara dengannya pun undur diri. Kini Riko dan Zein yang menghampiri Gamaliel ke tengah ruangan.


“Aku nggak mau ngerepotin. Lagipula cepat atau lambat aku juga harus bisa menjaga diriku sendiri, kan,” tukas Riko ringan.


Gamaliel tertawa keras. “Ketuamu ini kelewatan baiknya,” komentar sang ketua guild Ares yang bicara pada Zein.


Zein mengangguk-angguk setuju. “Bener, Pak. Emang gitu dia orangnya,” sahutnya tanpa membantah.


“Panggil Gama aja. Masih muda gini lho, kok dipanggil Pak,” protes Gamaliel yang sifat narsistiknya mulai kambuh.


“Eh … iya … Gam,” jawab Zein sungkan.


Riko hanya mendengkus pelan sambil menahan tawa melihat rekan guildnya itu merasa canggung. Orang yang baru kenal Gamaliel pasti sungkan memanggilnya dengan sebutan nama secara langsung. Selain karena aura kharismatik Gama, juga posisinya sebagai ketua guild terkuat sekaligus penguasa sukses memang sedikit membuat orang lain terintimidasi.


“Ah, jadi karena itu aku dipanggil ‘bapak-bapak’ mulu dari kemarin,” celetuk Riko mendadak menyadari sesuatu.


Anak buah Gamaliel yang datang ke apartemennya kemarin pasti juga merasa sungkan untuk memanggil Riko dengan lebih akrab. Mendadak pemikiran itu membuat Riko merasa sedikit berbangga diri. Itu artinya ia juga sudah cukup layak dihormati oleh orang lain.


“Kenapa, Rik?” tanya Zein memecah lamunan Riko.


“Ah, nggak, kok. Nggak apa-apa. Kita lanjut bahas bisnis aja,” tukas Riko mengalihkan pembicaraan.


Mulai dari situ, sebagian besar pembicaraan pun didominasi oleh Dirga dan Riko. Riko mengeluarkan semua senjata yang sudah selesai dia buat. Sesuai perjanjian semuanya berjumlah separuh dari seluruh pesanan.


Dirga memeriksa semua persenjataan dan peralatan buatan Riko tersebut satu per satu, memastikan kualitasnya sembari melempar beberapa pertanyaan. Riko menjawab semua pertanyaan Dirga dengan baik karena memang dialah yang membuat semua senjata itu.


“Aku tambahin sedikit mithril di semua senjata itu. Walaupun ga sampai satu persen dari seluruh jumlah material utama, tapi komposisi mitrhril akan bikin senjata dan peralatan ini lebih tahan banting. Bisa menahan serangan Minotaur sekalipun,” ucap Riko merujuk pada bos monster berkepala banteng yang terkenal memiliki daya hancur tinggi.


Mithril sendiri adalah logam langit. Sebuah material langka yang memang harganya sangat mahal. Biasanya digunakan untuk menempa senjata atau equip level legend. Selain berfungsi untuk memperkuat, mithril juga membuat senjata berat terasa ringan saat digunakan. Sebagai bonus layanan pertama, Riko memang menambahkan sedikit tetesan mithril pada senjata-senjata tersebut.


Dirga tersenyum puas sembari menenteng salah satu pedang satu tangan buatan Riko. “Hasil kerjamu emang nggak pernah mengecewakan, Riko. Nanti biar kuatur tambahan tip buat kalian. Kami selalu menghargai kemampuan seseorang dengan nominal yang sepadan. Ya, kan, Bos?” ucap pemuda itu sembari mengerling pada Gamaliel.


Sang Ketua Guild Ares yang sedari tadi mengobrol panjang dengan Zein pun akhirnya menoleh. “Iya, atur aja, Dirga. Ini barang bagus yang bakal awet sampai bertahun-tahun. Bukan senjata kaleng-kaleng,” sahutnya berkomentar.


Seulas senyum terkembang di wajah Riko. Ia tahu bahwa klien prioritas seperti ini memang layak mendapat layanan tambahan. Karena hal itu pasti akan membuatnya mendapat tambahan pundi-pundi uang. Sepertinya Riko sudah menyadari bakat terpendamnya: ia memang pandai berbisnis.