Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Proyek Baru



“Masih hidup kamu ternyata,” sapa Gamaliel begitu panggilannya dijawab Riko.


“Kamu ngarepin aku mati juga?” sahut Riko sembari mendengkus.


Gamaliel terkekeh. “Katanya kamu habis diculik. Makanya aku telepon. Butuh jasa pelindung? Aku bisa kirim beberapa anak Guild Ares biar berjaga di tempatmu. Free kok, cuma kalau bisa jadi prioritas klienmu aja.”


Seperti yang sudah diduga Riko, Gamaliel memang tidak pernah melewatkan kesempatan. “Nggak perlu, Gam. Kalau mau butuh pesan senjata sekarang aja. Aku lagi kosong. Dan butuh duit,”sahut pemuda itu berkelakar.


Ketua Guild Ares itu tertawa lagi. Aku kirim blueprintnya ke alamatmu. Bukan senjata sulit kok. Cuman aku butuh banyak. Kami perlu amunisi buatGuild War,” jawab Gamaliel kemudian.


Riko terkesiap. “Guild War?” tanyanya kaget.


“Iya. Underground sih. Ini off the record ya. Aku kasih tahu kamu karena kita kerjasama,” tukas Gamaliel merendahkan suaranya. Riko menyimak.


“Jadi baru-baru ini ada salah satu player irregular yang bikin masalah. Dia main bunuh orang di luar dungeon. Dia juga incar sesama player dan ngambil equip-equip legend dari player lain. Dan sekarang dia dilindungi oleh salah satu guild besar. Sayangnya Asosiasi juga nggak respon keluhan kita juga. Pihak Asosiasi ngerasa selama itu konflik antar player, mereka nggak mau ikut campur.


“Nah kami, ketua lima guild teratas, akhirnya cari cara buat kasih pelajaran guild-guild nakal itu. Kita adain lah guild war yang wajib diikuti terutama oleh semua guild yang dapet undangan. Kalau dia nggak datang, kita bakal bikin susah guild itu sampai mereka bener-bener hancur.


“Nah, undangan tanding itu juga punya beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya kedua belah pihak harus memiliki kekuatan yang setara. Dengan begitu, nggak akan terjadi kecurangan dan kita juga jadi punya kesempatan buat ambil equip yang dicuri secara inggak beradab,” terang Gamaliel panjang lebar.


Riko menyimak dengan seksama. Sepertinya dia tahu guild mana yang sedang dibicarakan oleh Gamaliel. Dengan hati-hati pemuda itu pun bertanya.


“Apa mungkin kalian juga lagi bermasalah sama para Assassin?” tanya Riko memancing.


Gamaliel tertawa menanggapi. “Yah. Kamu nggak salah sih Rik. Mereka juga abis nyulik kamu kan? Masalahnya guild itu berjejaring sama beberapa guild lain. Bahkan dua dari lima guild teratas juga mihak ke dia. Aku nggak bisa certain detailnya lewat telepon. Kapan-kapan kita ketemu nanti aku jelasin. Sekarang salah satu anggotaku lagi jalan ke tempatmu. Dia bawa orderan dariku. Tolong bantuannya ya,” tukas pria itu dari balik telepon.


Sadar bahwa sang Ketua Guild Ares itu sudah tidak bisa didesak lagi, Riko pun akhirnya mengiyakan lantas menutup telepon tak lama kemudian. Riko kembali menghadapi rekan-rekan guildnya yang sudah ricuh membicarakan rencana muluk pengembangan guild mereka. Sebenarnya Riko senang juga mendengarnya. Namun, mereka tetap tidak boleh gegabah. Semuanya harus diatur dengan rencana yang matang.


Mona pergi meninggalkan mereka setelah diskusi seru mereka berakhir. Gadis itu akan mulai mengurus birokrasi bersama Rizal dan Jaka. Kini di tempat itu hanya tersisa Riko, Zein serta Gladys. Mereka bertiga sedang memilih makan siang ketika tiba-tiba bel apartemen Riko berbunyi.


“Kayaknya itu dari Ares,” tukas Riko sambil bangkit berdiri dari sofa.


Riko mendengkus pendek. “Banyak gaya kamu, Zein,” timpalnya geli.


Namun Zein menggeleng serius. “Udah tunggu sini aja. Biar aku yang buka,” katanya sungguh-sungguh.


Riko pun menurut. Akhirnya Zein lah yang pergi melihat ke luar. Gladys hanya melihat drama singkat kedua pemuda itu tanpa mengacuhkannya sama sekali. Ia masih sibuk men-scroll layar ponselnya untuk memilih menu makan siang yang akan diorder melalui layanan pesan antar.


Zein muncul tak lama kemudian bersama dua pria kekar bertubuh besar. Dua orang itu benar-benar berotot, seperti atlet binaraga yang hendak mengikuti kejuaraan. Keduanya mengenakan jas hitam yang ketat gara-gara otot mereka yang menonjol. Melihat dari penampilannya saja, Riko bisa langsung tahu bahwa mereka berdua adalah utusan dari Guild Ares. Tampilan fisiknya saja sudah sangat menjanjikan sebagai swordsman terlatih.


Riko dan Gladys menyambut dua tamu mereka yang baru datang. Keduanya lantas dipersilakan duduk di sofa ruang tamu. Salah satu dari pria kekar itu mengeluarkan koper hitam layaknya mafia yang hendak melakukan transaksi narkoba. Secara otomatis Riko menelan ludah. Haruskah adegannya sedramatis ini?


“Pak Riko, kami membawa beberapa detail pesanan untuk senjata yang dibutuhkan. Totalnya ada seratus pedang, seratus tameng, dua puluh armor dan sepuluh pelindung kepala. Detail spesifikasinya ada di sini. Untuk tambahan footgear bisa digunakan dari bahan-bahan yang tersisa,” terang pria kekar itu sembari membuka koper.


Rupanya di dalamya hanya ada lima scroll usang yang dikenali Riko sebagai resep pembuatan senjata dan equip. Caranya menyimpan benda-benda tersebut memang sangat khas Gamaliel: harus mewah dan dramatis.


“Anu … panggil nama aja, kalau bisa. Saya belum tua-tua banget kok,” celetuk Riko merujuk pada panggilan ‘Pak’ yang terkesan tua. Entah kenapa dia justru fokus pada hal tersebut.


Pria-pria kekar itu diam saja dan menatap Riko tanpa ekspresi. Salah satu pria itu mendorong koper hitam ke arah Riko. Dengan canggung pemuda itu pun akhirnya mengambil empat gulungan scroll tersebut dan membukanya satu per satu.


Setelah membaca semuanya, Riko lantas mengetahui bahwa benda-benda itu memang hanyalah senjata dan equip tingkat master yang bahan-bahannya mudah ditemui. Tidak perlu mengalahkan bos monster langka atau semacamnya seperti saat membuat pesanan milik Rhea kemarin. Begitu mengetahui bahwa Riko sudah selesai membaca, pria kekar yang satunya menyodorkan sebuah amplop hitam besar yang mewah.


Riko menerimanya dengan ragu-ragu. Amplop itu memiliki tepian emas dengan simbol pedang bersilang dan tameng yang dikenali Riko sebagai lambang Guild Ares.


“Apa ini?” tanya Riko penasaran. Dua pria kekar yang ada di sana melirik ke arah dua orang anggota Guild Riko yang masih ada di sana.


Gladys dan Zein yang juga ikut duduk di sana pun tampaknya tahu bahwa itu adalah surat kontrak kerja yang rahasia. Tanpa diberitahu, keduanya pun memilih untuk meninggalkan sang ketuga Guild menyelesaikan kerjasamanya. Itu adalah bagian dari privasi yang sebaiknya tidak diganggu.


Setelah kedua orang itu pergi, barulah salah satu dari pria kekar itu menjawab. “Itu adalah penawaran bayaran yang disediakan oleh Guild Ares. Bapak bisa membacanya lebih dulu dan kalau harganya sudah sesuai, langsung tanda tangan di bawah. Kami terbuka untuk negosiasi harga,” tukasnya dengan nada pebisnis professional.


“Udah dibilang jangan panggil Bapak … ,” desah Riko yang lantas menyadari bahwa ujaran protesnya tidak akan ditanggapi. Pemuda itu rasanya seperti sedang bicara pada robot yang sudah diprogram.