
Riko menerima gulungan perkamen itu lantas membukanya. Isinya tentang tata cara pembuatan sebuah senjata sihir legendaries, lengkap dengan material-material yang dibutuhkan. Ini adalah resep pembuatan senjata yang sangat langka. Harga gulungan ini saja pasti sudah mencapai belasan juta.
Dari syarat level yang tertera dalam gulungan tersebut, level Riko saat ini masih belum tercapai. Minimal level blacksmith yang bisa mengerjakan resep tersebut adalah level 50. Selain itu, material-material yang dibutuhkan juga sangat langka dan sulit didapat.
Masalah level masih bisa diakali oleh Riko. Saat ini ia sudah berada di level 46. Setelah melawan naga kemarin, levelnya meningkat pesat. Ia cukup masuk dungeon sekali lagi untuk bisa menaikkan level sampai 50. Tidak sulit.
Akan tetapi yang sedikit menantang adalah mencari material pembuat senjata tersebut. Riko mempelajari gulungan resep tersebut.
Saint Staff (Crafting Material)
Material Requires:
10 White Ore
10 Star Dust
8 Oridecon
5 Chrystal Blue
1 Angelic Wings
1 Light Element
Biaya pembuatan: 17.049 Moonstone
Riko tidak yakin bisa mendapat semua material itu dari toko lelang. Dari semua daftar tersebut, yang paling sulit didapatkan adalah Angelic Wings dan Light Element. Keduanya hanya bisa diperoleh setelah mengalahkan monster bertipe cahaya yang ada di dungeon level tinggi. Entah apakah dungeon tersebut sudah muncul atau belum di dunia nyata saat ini. Riko tidak yakin.
“Seratus juta. Itu bayaran buat senjata ini. Aku akan kasih uang muka 30 persen dulu di muka. Sisanya ku transfer setelah senjata ini selesai,” kata Rhea memecah lamunan Riko.
Riko masih tampak berpikir. “Anu … buat bahan-bahannya, aku harus nyari sendiri?” tanya Riko kemudian.
“Ada beberapa informasi yang bisa bantu kamu nemuin bahan-bahan itu. Makanya, aku percaya diri buat kasih resep senjata ini. Untuk bahan-bahan nomer satu sampai empat, kamu bisa dapetin di pasar lelang. Udah banyak yang jual karena rata-rata monster level 30 ke atas mengandung salah satu dari empat bahan itu. Dungeon-dungeon level A juga biasanya menyimpan banyak Chrystal Blue dan Oredicon.
“Nah off the record ya, baru-baru ini ada dungeon level S yang muncul di daerah Nusa Dua. Kabarnya itu adalah Dungeon Abandoned Holy Land. Kamu juga tahu kalau dungeon itu berisi monster Incubus. Bos monsternya adalah Fallen Angel yang terkuat. Dengan mengalahkan Fallen Angel, dua material terakhir bisa didapatkan,” terang Rhea panjang lebar.
Riko mengangguk-angguk paham. Kalau dungeon tersebut muncul di Nusa Dua, artinya ia harus bepergian keluar pulau untuk mendapatkannya. Dan lagi Fallen Angel jelas bukan monster biasa. Dungeon level S itu bisa saja lebih berbahaya daripada mengalahkan naga seperti sebelumnya.
“Sorry nanya, seratus juta itu udah termasuk biaya mendapatkan material juga?” tanya Riko setelah mempertimbangkan tingkat kesulitan mendapatkan material tersebut.
Riko kembali berhitung. Tiga puluh persen uang muka itu tentunya langsung akan habis untuk membeli material-material dan biaya akomodsi untuk perjalanan timnya ke Nusa Dua. Masih ditambah biaya masuk dungeon level S yang terbilang cukup tinggi. Itu artinya pendapatan bersih yang diterimanya mungkin hanya sekitar tujuh puluh juta.
Belum lagi Riko juga harus berebut dengan guild lain yang mengincar dungeon tersebut. Meski Riko yakin, Rhea pasti sudah mengatur agar dungeon tersebut bisa diambil alih sehingga bisa dimasuki oleh tim Forging Master dengan bebas.
Melawan Fallen Angel memang sangat beresiko. Akan tetapi kesempatan itu juga sangat sayang untuk dilewatkan. Riko mungkin bisa mendapat material lain yang berharga, juga meningkatkan level seluruh anggota Guildnya. Belum lagi reputasi yang bisa diperoleh oleh Forging Master jika berhasil menyelesaikan dungeon. Ini benar-benar keputusan yang sulit.
“Aku harus diskusi dulu sama anak-anak guildku. Kemungkinan kami tetep bakal raid sendiri di dungeon itu. Tapi aku butuh satu mage lagi dari guild mu buat join. Kalau bisa yang berelemen gelap. Atau nggak, lebih bagus lagi kalau kamu punya anggota assassin,” ujar Riko kemudian.
“Hmm … assassin ya. Para assassin sekarang kebanyakan ada di guild Silverdeath. Aku nggak yakin apa bisa nemu player assassin lagi dalam waktu dekat. Kalau mage bertipe gelap, ada. Aku bisa turunin satu anggota guildku buat bantu kamu. Bayarannya kami yang tanggung,” jelas Rhea.
“Silverdeath? Itu bukannya guildnya manusia busuk itu?” Riko bertanya sembari merujuk pada musuh bebuyutannya, Rangga Sasmita.
Rhea mengangguk singkat. “Guild itu terkenal dengan permainan kotor mereka. Sekarang Silverdeath udah masuk ke rangking lima besar dari jajaran guild-guild lain. Tapi banyak yang waspada sama mereka karena kabarnya mereka nggak segan-segan buat bunuh player dari guild lain untuk manjat rangking. Sebenarnya itu juga krisis buat kami guild-guild tingkat atas. Ares pasti juga ngalamin hal yang sama. Tapi kamu nggak perlu khawatir karena dia nggak ngusi guild di rangking bawah.”
Riko sedikit kesal karena Rhea secara tidak langsung mengatakan bahwa Forging Master ada di peringkat bawah. Meski pernyataan itu tidak salah, tetap saja melukai harga diri Riko. Namun perhatian terbesarnya adalah pada berita bahwa guild yang dibuat oleh Rangga kini sudah melesat sampai ke rangking lima besar. Fakta itu saja membuat RIko merasa gusar.
“Orang brengsek itu emang bakal nglakuin segala cara buat bisa mendapatkan keinginannya,” geram Riko penuh emosi.
“Nggak perlu kamu pikirkan. Aku tunggu jawaban kamu sore ini, Riko. Raid dungeon di Nusa Dua nggak bisa nunggu lama-lama. Kalau kamu oke, besok tim mu udah harus berangkat,” timpal Rhea kemudian.
Riko kembali menguasai perasaannya lantas mengangguk pelan. “Oke. Aku kabari sore ini.”
Rhea pulang setelah selesai membicarakan keperluannya dan menghabiskan porsi masakan Jepang yang dia bawa. Kini Riko kembali sendirian di apartemen. Saatnya bagi Riko untuk mendiskusikan rencana Raid dungeon berbahaya itu dengan rekan-rekannya yang lain.
“Mas Riko yakin mau ke Bali buat raid dungeon? Aku sih oke. Sekalian jalan-jalan,” Jaka menanggapi dengan optimis.
“Dungeon level S itu agak berat, sih. Apalagi harus lawan bos monster sekelas malaikat. Apa kita yakin bisa beresin dungeon itu terus pulang dengan selamat?” Seperti yang sudah diduga, Rizal tentu saja akan merasa ragu dengan tawaran tesebut.
“Kalau kamu nggak berani nggak harus ikut kok, Zal. Nanti aku coba cari priest yang mau kerja freelance,” tukas Riko membalas dalam chat grup Forging Master Guild.
“Gampang itu kalau cuma Fallen Anggel. Yang susah tuh Falling in Love. Hahaha … jadi kalau aku sih, Oke!” Zein menjawab dengan berkelakar. Para penyihir sepertinya memang punya jiwa yang sedikit unik. Meski begitu Riko mendesah lega. Setidaknya tiga dari empat anggota guild setuju melakukannya.
“Yaudah kalau gitu aku juga berangkat,” balas Rizal kemudian.