
Riko pun memasuki dungeon itu mendahului empat rekan timnya yang lain. Sebuah area reruntuhan menyambut pemuda itu. Tempat tersebut seperti bekas kuil batu besar yang sudah hancur hingga hanya menyisakan puing-puing yang berserakan di seluruh permukaan tanah yang lembab.
Hanya ada beberapa dinding yang masih berdiri dengan separuh bangunan sudah hancur. Di tengah puing-puing tersebut, sebuah altar batu menjulang berbentuk lingkaran yang berundak sampai tujuh tingkat. Huruf-huruf kuno terukir di atas altar tersebut dan membentuk pola rumit yang mirip dengan pola sihir yang sering dibuat oleh Zein.
“Kuno banget ya tempatnya. Bisa-bisa nemu artefak kita di tempat ini, Mas Rik,” komentar Jaka sembari mengamati keadaan.
“Energi sihirnya kuat banget di sini. Energinya holy sih, tapi kek kecampur sama sihir gelap juga,” kata Zain menimpali.
“Tempat ini kayak tempat pemujaan untuk memanggil spirit cahaya. Tapi yang datang justru Fallen Angel. Antek-anteknya ikut ke sini, Incubus dan Succubus,” terang Mona yang kini berjalan mendekati altar. Gadis itu sepertinya bisa membaca tulisan kuno.
“Kamu penyihir berelemen gelap?” tanya Riko sembari berjalan mendekat.
Mona mengangguk pelan. “Sihirku berlawanan sama bos monsternya. Tapi buat ngelawan succubus atau incubusnya mungkin nggak akan terlalu berefek.”
“Serahkan aja sama kami,” jawab Riko kemudian. Mona melirik Riko dengan malas. Tampaknya gadis itu sedang meremehkannya. Namun Riko tidak terlalu mengambil sikap. Alih-alih pemuda itu segera memanggil Rizal untuk mulai memberikan Buff.
Rizal mengerjakan bagiannya dengan baik. Semua buff priestnya sudah diberikan dan menambah kekuatan seluruh anggota tim. Sebuah hologram notifikasi pun muncul di hadapan mereka. Anehnya hologram tersebut berwarna merah, seperti tanda bahaya.
Selamat datang di dungeon Abandoned Holy Land,
Dungeon ini hanya bisa dimasuki oleh satu tim yang berada di party yang sama. Silakan menyelesaikan dungeon dalam waktu 180 menit. Bos monster akan muncul setelah anda berhasil membunuh monster dengan jumlah tertentu.
Apabila hingga tenggat waktu selesai player tidak bisa menyelesaikan dungeon, maka celah dimensi akan terbuka dan semua monster dari dalam dungeon akan keluar di dunia manusia.
Portal dimensi akan kembali terbuka setelah bos monster berhasil dibunuh.
Selamat bersenang-senang. ^^
*Perhatian: Dungeon level tinggi. Mohon perhatikan kekuatan level anda sebelum setuju memulai raid.
Pesan berbintang yang ada di bagian bawah notifikasi tersebut membuat Riko sedikit terganggu. Meski begitu ia tidak bisa mundur lagi. Riko sebagai ketua tim pun menekan tombol ‘Ya’ untuk memulai raid dungeon.
Sekonyong-konyong barisan monster menyerupai manusia bersayap hitam tersummon di area tersebut. monster-monster itu memang memiliki tubuh seperti manusia, tetapi wajahnya benar-benar mengerikan dengan mata hitam legam dan mulut penuh taring. Dua tanduk merah tua muncul dari kepalanya yang tertutup rambut perak. sebuah ekor setan muncul di belakang punggung makhluk tersebut.
“Setan cowok itu incubus, terus yang setan cewek seksi itu succubus. Bener nggak sih?” tanya Jaka sembari bersiap-siap dengan pedang besarnya serta armor lengkap yang habis ditempa oleh Riko.
Riko sendiri suah membawa kapak merah andalannya, juga armor lengkap dari ujung kepala sampai kakinya.
“He-he, habis monsternya seksi, Mas. Jadi segan mau nyerang,” sahut Jaka sambil nyengir.
“Jangan lengah, Jak. Mereka nggak punya ampun,” nasehat Riko.
“Siap, Mas Riko. Kalau gitu ayo maju.” Jaka mengangkat pedang besarnya lantas menyerbu ke arah para monster yang sudah menyeringai siap memangsa mereka.
Dua jenis monster itu sayangnya punya dua kemampuan yang berbeda. Incubus, sang monster berjenis kelamin pria, meyerang degan serangan fisik menggunakan sebuah gada berduri yang mengeluarkan racun setiap kali membentur obyek keras.
Sementara itu Succubus, yang perempuan, menggunakan senjata cambuk yang mengeluarkan sihir pesona yang membuat player berjiwa lemah bisa terpikat padanya dan berhenti menyerang. Seperti terkena stun.
Beruntung Riko bukan pemuda yang terlalu tergila-gila pada wanita. Karena itu, lecutan-lecuta cambuk Succubus yang menguarkan sihir pesona tidak terlalu berpengaruh terhadapnya. Riko tetap bisa membantai para monster tersebut dengan kapaknya yang kini sudah berlumuran darah.
Hal yang sama berlaku pada Zein. Zein adalah orang yang logis dan hanya mengejar kekuatan daripada wanita. Lebih dari itu, ia adalah seorang penyihir cahaya yang secara otomatis bisa menetralkan sihir hitam pasangan monster yang berjumlah ribuan itu.
Masalah justru muncul dari Rizal dan Jaka. Kedua rekan tim Riko itu sudah terpikat Skill Charm dari Succubus. Mereka berdua berdiri kaku dengan tatapan kosong dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena terpedaya oleh para succubus yang mengelilingi mereka.
Riko dan Zein harus mati-matian melindungi kedua rekannya yang membeku dengan mata penuh damba itu dari serangan para monster lainnya. Hal yang tidak mudah dilakukan tentu saja, karena mereka juga harus menghindari sihir beracun dari Incubus.
Pertarungan hari itu berlangsung lebih lama dari perkiraan Riko. Dua rekan tim mereka tidak berfungsi dengan baik. Ketiadaan priest membuat buff mereka tidak bisa diperbaharui. Sementara Jaka sang swordsman yang seharusnya bertindak sebagai tanker juga tidak bisa diandalkan lagi.
Semua serangan mengarah pada Riko karena Zein dan Mona berada di pinggir medan pertempuran. Kedua penyihir itu harus menjaga jarak untuk menyerang. Situasi tersebut benar-benar merepotkan. Beberapa kali Riko terpaksa menahan rasa sakit karena terkena pukulan dari Incubus.
Pemuda itu mengerang kesakitan ketika paku-paku tajam yang mencuat dari gada sang Incubus menggores tubuhnya: lengan, punggung hingga dadanya. Belum lagi lecutan cambuk Succubus yang terus-terusan mengenai seluruh tubuh Riko, bahkan hingga ke kakinya. Monster-monster ini sangat kuat!
“Nggak bisa gini. Jaka sama Rizal harus disadarin!” gumam Riko sembari mengayunkan kapaknya untuk membelah tubuh salah satu Incubus yang menyerangnya. Lambaikan kapaknya yang selanjutnya memotong tubuh succubus menjadi dua, tepat di bagian perut.
Sembari terus menyerang, Riko secara perlahan mendekati Jaka yang masih mematung tak jauh dari tempatnya berdiri. Jaka sudah dipenuhi darah karena luka-luka dari succubus dan incubus yang mengerumuninya. Beruntung pemuda itu adalah swordsman yang memiliki defence tinggi. Pada tingkat luka tersebut, orang biasa mungkin sudah pingsan.
“Jak!”seru Riko sembari melakukan manuver serangan kapak ke segala arah.
Jaka tak bergeming. Riko pun akhirnya mencari celah untuk menyadarkan Jaka dengan ‘sentuhan fisik’. Setelah menyingkirkan sejumlah monster yang mengerumun di area tersebut, Riko pun menampar wajah Jaka dengan bagian sisi kapaknya yang luas. Tamparan itu sangat kuat sampai-sampai tubuh Jaka terguling beberapa kali di atas tanah.
Riko tercengang sendiri dengan kekuatan pukulannya. “Harusnya kutampar pakai tangan nggak sih?” gumamnya pada diri seniri.
Sayangnya RIko tidak punya waktu untuk mengecek kondisi Jaka lebih lanjut karena serombongan monster kembali mengerumun untuk menyerangnya.