
“Riko Sanjaya?” ucap pemuda itu ragu-ragu.
Riko mengernyitkan dahinya. Kenangan buruk kembali muncul di benak pemuda itu. “Kau … ,” gumamnya pendek.
“Halo. Iya, ini aku, Rizal. Rizal Mahendra. Kita pernah satu tim waktu di Gua Cerme,” ujar pemuda yang rupanya teman Rangga.
“Yah, aku inget. Waktu itu kalau nggak salah, kamu sama temen-temenmu berusaha membunuhku. Sekarang ada urusan apa kamu manggil-manggil aku? Si Rangga nyuruh kamu ganggu aku lagi?” sergah Riko ketus.
Rizal menggeleng pelan. “Nggak gitu, Rik. Sejujurnya aku udah putus kontak sama Rangga sejak insiden itu. Dua orang mati di dungeon. Dia juga sama sekali nggak bertanggung jawab sebagai ketua tim. Aku cuma kenal dia dari temenku. Salah satu yang meninggal di dungeon waktu itu. Selebihnya aku nggak pernah akrab sama Rangga.”
“Oh,” sahut Riko tak peduli.
“Waktu kejadian itu … aku sebenarnya tahu kalau kamu yang ngalahin bos monster Lycan. Dan aku juga menyesal banget waktu itu nggak bisa bantu kamu. Baik waktu diserang sama anak-anak, atau pun waktu ngelawan Lycan. Aku harap kamu maafin aku,” lanjut Rizal masih terlihat canggung.
Riko menimbang-nimbang sejenak permintaan maaf Rizal itu. Sejujurnya Rizal memang tidak melakukan banyak hal padanya. Karena orang ini adalah priest, maka sudah sewajarnya ia tidak bisa menyerang Riko. Meski begitu, Rizal juga tidak menyembuhkannya saat terluka. Dia hanya diam saja melihat Riko menjadi bulan-bulanan teman-temannya.
“Jadi itu aja tujuanmu manggil aku? Kalau emang niat minta maaf kamu kan bisa hubungi aku dari kemarin. Baru sekarang minta maaf, kayak nggak ada penyesalan sama sekali,” timpal Riko masih kesal.
“Aku … kondisiku kurang baik sejak insiden kemarin. Kematian teman-temanku yang … tragis itu bikin aku sedikit terguncang. Jadi aku dirawat di sini, di bagian trauma healing buat player juga. Ini baru sesi yang ketiga,” terang Rizal apa adanya.
Riko baru tahu kalau ada fasilitas semacam itu di Asosiasi. Macam-macam saja. Meski begitu, ia tidak bisa menyalahkan Rizal. Pasti mengerikan melihat orang yang dia kenal hancur di depan matanya. Tubuh yang hancur secara harafiah. Terlebih sejak awal Riko juga merasa mental Rizal memang tidak sekuat tiga temannya yang lain.
“Yah. Okelah kalau gitu. Semoga peristiwa kemarin bisa jadi pelajaran buat kamu. Nggak sembarangan cari temen. Apalagi orang berbahaya kayak Rangga. Bagus kamu jauhi dia,” kata Riko kemudian.
“Kalau kamu? Ada urusan apa ke asosiasi? Trauma Healing juga?” tanya Rizal mencari bahan pembicaraan.
Riko mendengkus kecil. Kalau segala masalah dalam hidupnya ini diakumulasi, mungkin Riko memang sudah bisa dimasukkan dalam kondisi trauma. Sejujurnya ia juga butuh sesi terapi. Untungnya mental Riko sudah lebih kuat sekarang. Setidaknya ia masih bisa berpikir dengan waras.
“Nggak. Aku mau daftar guild,” jawabnya singkat.
“Guild?” tanya Rizal tertarik. Pemuda itu tampak berpikir sejenak. “Aku udah pernah lihat kamu bertarung sendirian ngelawan bos monster yang berkali-kali lipat lebih kuat darimu, Riko. Dan sejujurnya, aku kagum sama kemampuanmu. Kalau boleh, apa aku bisa gabung guildmu?” tanya Rizal tiba-tiba.
RIko langsung menghentikan langkahnya, lantas menatap Rizal dengan seksama. Pucuk dicinta, ulam tiba. Ia sudah mendapat satu kandidat calon anggota guildnya kalau Rizal mengajukan diri sendiri begini. Akan tetapi, apa anak ini bisa dipercaya? Biar bagaimanapun Rizal adalah mantan teman setim Rangga. Mengingat hal itu saja sudah membuat Riko waspada. Namun ia tidak bisa serta merta menolak Rizal. Dia juga butuh tiga player lain. Riko pun akhirnya memutuskan untuk mengulur waktu, sembari nanti dia akan mencari pemain lainnya.
“Kamu player level berapa?” tanya Riko kemudian, sok jual mahal.
“Aku player level A, kalau level jobku, Priest, aku udah di level 27,” terang Rizal apa adanya.
Hati nurani Riko berontak. Rizal benar-benar player berharga yang berada di level A. ia bahkan priest dengan level cukup tinggi. Dengan peralatan yang tepat, Riko bisa membuat Rizal menjadi support teammate terbaiknya selama di dungeon. Juga bisa menambah level guildnya. Tapi RIko tidak boleh tergopoh-gopoh. Ia harus tetap rasional, seperti biasa.
“Nih, simpan nomormu. Nanti kuhubungi lagi,” ujar Riko sembari menyerahkan ponselnya.
Rizal mengangguk singkat, lantas menuliskan nomor teleponnya di layar ponsel Riko. Tak berapa lama kemudian, ponsel Rizal berdering. Nomor RIko tertera di layarnya. “Aku juga simpan nomormu,” ucap Rizal sembari mengembalikan ponsel RIko.
“Oke,” jawab Riko singkat. Mereka berdua pun akhirnya berpisah.