Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Masa Lalu Datang Kembali



Riko tinggal di Bali selama dua hari. Rhea sudah mempersiapkan tempat tinggal untuk Riko dan kawan-kawannya di hotel bintang lima yang mewah. Mereka mendapat menginap di president suite yang memiliki empat kamar tidur terpisah, lengkap dengan ruang tamu, ruang makan, dapur hingga Jacuzzi bathup yang mewah.


Mona, di sisi lain, langsung dipanggil kembali ke cabang guild Corsage di Bali. Guild-guild besar memang memiliki cabang di berbagai kota. Sementara Riko menikmati liburan di Bali, ia menyadari sesuatu. Gara-gara artikelnya yang viral saat menyelesaikan dungeon Level S, wajah Riko jadi tersebar di mana-mana. Seluruh sosial media menampilkan profilnya hingga ke informasi mendetail seperti tinggi badannya, bahkan ukuran sepatu.


Riko sampai merinding akan kemampuan orang-orang itu menggali informasi. Resiko menjadi terkenal rupanya seberat ini. Sudah begitu, ketika Riko datang ke suatu tempat, restoran misalnya, orang-orang dengan cepat mengenalinya. Anak-anak muda, terutama perempuan, mulai berani mendekat dan meminta foto bersama. Rupanya Riko menjadi role model bagi anak-anak muda yang berhasil bangkit dari kegagalan dan membuktikan kemampuan dirinya.


Semua orang nampaknya tahu kalau Riko mulanya hanya mahasiswa abadi yang menjadi player dengan level terendah. Keberhasilan Riko menuntaskan dungeon level S itu pun seolah menginspirasi orang-orang untuk bisa menjai sepertinya. Beban seberat itu mendadak muncul di pundak Riko tanpa pernah dia minta sebelumnya.


“Itu artinya kamu udah cukup membuktikan diri, Rik. Jangan terlalu dipikir berat,” nasehat Mona ketika akhirnya mereka berdua menikmati waktu bersama di rooftop bar hotel tempat Riko tinggal.


Sesuai janji, Mona mentraktirnya minuman, tetapi alih-alih kopi, Mona justru memberi Riko sebotol wine mahal dan makanan mewah dari hotel tersebut. Riko sudah bersikeras untuk membayar makan malam mewah tersebut, tetapi Mona terus menolak. Jadilah mereka makan malam berdua karena tiga rekan Riko yang lain sudah asik menikmati night club di daerah Legian. Sayang Riko tidak bisa ikut karena wajahnya yang sudah banyak dikenali.


“Tapi kayaknya aku belum sehebat itu, Mon. Masih banyak yang belum kucapai,” ucap Riko sembari mengiris daging steiknya.


“Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kita emang baru kenal, tapi menurutku kamu udah melakukan yang terbaik,” hibur Mona tampak tulus.


Riko mendengkus pelan. Mungkin ia memang hanya butuh penyesuaian saja. Sebaiknya Riko memikirkan hal-hal baik saja daripada yang negatif. Keduanya lantas melanjutkan makan malam romantis itu diiringi live band yang syahdu di bawah taburan bintang malam. Pemandangan rooftop bar hotel tersebut memang luar biasa. Segalanya tampak sempurna hari ini.


Mona pun tampaknya terbuai oleh suasana. Seusai makan malam, Riko mengantarkan gadis itu ke ruang kamarnya yang juga ada di hotel tersebut. Seusai bererima kasih dan berjanji akan membalas traktiran hari itu, Riko pun bersiap kembali ke kamarnya sendiri. Namun tiba-tiba Mona yang sudah setengah mabuk meraih kerah baju Riko dan menarik pemuda itu mendekat.


Tanpa aba-aba, Mona mencium pipi Riko begitu saja, membuat pemuda itu tertegun sejenak. Dengan bingung Riko menatap Mona yang sudah tersenyum menggoda. “Makasih buat hari ini, Rik,” ucap gadis itu.


Riko masih setengah terkejut, tetapi ia segera menguasai diri. “Oh, iya. Aku juga makasih, Mon,” sahutnya salah tingkah.


Kenapa Mona tiba-tiba menciumnya? Meski hanya di pipi tapi rasanya tetap mendebarkan. Itu jelas bukan tindakan wajar seorang teman yang baru kenal, kan? Apa Mona mengharapkan sesuatu darinya? Atau ini cuma efek alkohol? Benak Riko terus dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tersebut.


“Ciuman itu cuma kejutan kecil. Aku udah nyiapin kejutan besar buatmu. Kamu tunggu aja,” lanjut Mona sembari mengedip.


Sedetik kemudian gadis itu lantas menutup pintu meninggalkan Riko yang masih berdiri kebingungan di koridor hotel.


 


Esok paginya Mona sudah tidak terlihat lagi. Kabarnya ia mengambil penerbangan pertama untuk kembali ke Jogja. Riko dan yang lainnya pun juga sudah bersiap-siap. Pesawat mereka dijadwalkan terbang sore itu. Satu jam lamanya Riko terbang hingga akhirnya sampai di Bandara Internasional Yogyakarta.


Riko langsung pulang ke apartemennya tanpa singgah kemana-mana. Ia juga harus mulai mempersiapkan proses pembuatan senjata pesanan Rhea. Saat sampai di depan pintu apartemennya, ia bertemu dengan Sita yang baru saja keluar dari kamarnya. Mantan pacar Riko itu menatapnya dengan sendu. Riko tidak mempedulikannya dan hanya menatap lurus ke arah pintu apartemennya.


“Kamu beneran nggak selesaiin kuliah?” tanya Sita membuka percakapan. Riko masih berusaha membuka pintu apartemennya yang dikunci dengan sistem kartu.


“Rik? Kenapa nggak jawab?” Sita kembali bertanya. Kali ini lebih lembut.


Riko pun menarik napas panjang lalu berbalik menghadapi Sita yang rupanya sudah berada tepat di belakangnya. Keduanya pun terkejut dan otomatis melangkah mundur untuk menjauh.


Melihat Sita yang seperti itu, hati Riko pun luluh. Ia tidak suka melihat Sita sedih.


“Kenapa tiba-tiba nanyain kuliah?” tanya Riko kemudian.


“Aku lihat kamu di sosmed. Kamu udah terkenal sekarang. Kelihatannya kamu serius mau menekuni karir sebagai player,” ucap Sita tampak cemas.


“Yah kerjaan itu lumayan menghasilkan soalnya. Lihat aja apartemen ini,” jawab Riko apa adanya. “Tapi aku masih mau usahain skripsiku sekali lagi, kok,” tambahnya kemudian.


Seulas senyum terbit di wajah Sita. “Syukurlah kalau gitu,” ucapnya lega.


“Syukur yang mana nih? Karena karirku apa karena kuliahku?” tanya Riko menggoda.


“Dua-duanya,” jawab Sita tersenyum.


Riko mendengkus pelan. “Jadi kamu ngajak ngobrol aku beneran cuma buat mastiin aku lulus kuliah atau nggak?”


“Nggak juga. Aku cuma pengen tahu kabarmu. Semenjak kita putus, rupanya kamu juga udah berusaha keras sampai bisa sesukses ini,” kata Sita terus terang.


“Nggak ada yang tahu masa depan kayak gimana, Sit,” jawab Riko.


Sita hanya tersenyum. “Kayaknya kamu capek. Masuk gih. Istrirahat,” ujar gadis itu.


Riko mengangguk setuju. “Oke. Aku masuk duluan kalau gitu.”


Pemuda itu sudah kembali berbalik ke arah pintu apartemennya ketika tiba-tiba Sita kembali memanggilnya.


“Rik, kalau ada waktu, boleh aku mampir?” tanya Sita tiba-tiba.


Riko mengernyit bingung. “Buat apa?” tanyanya otomatis.


Sita mengangkat bahunya dengan ringan. “Mampir aja. Kayak dulu, bisa nonton bareng atau sekedar ngobrol-ngobrol.”


Riko menatap Sita sekali lagi. Pemuda itu menghela napas sembari mempertimbangkan tawaran tersebut. Tak bisa dipungkiri, Riko juga sesekali masih memikirkan Sita dan kenangan mereka di masa lalu. Keduanya sudah berpacaran cukup lama. Sepertinya tidak ada salahnya Riko membiarkan Sita untuk datang ke apartemennya. Toh mereka juga harus akrab karena bertetangga.


“Yaudah datang aja. Pakai nanya,” jawab Riko kemudian.


Senyum Sita terkembang semakin besar. “Oke. Makasih. Nanti aku main-main bawa makanan. Kayak dulu,” ujarnya ceria.


Riko hanya membalasnya dengan senyuman.