Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Selamat



Riko berdiri di ruang tamunya sembari menatap dinding yang separuh hancur. Rasa lelahnya bercampur dengan kekesalan membuat pemuda itu menjadi sedikit sensitif.


“Cewek ini mau diapain, Rik?” tanya Zein yang sudah membaringkan sang gadis Assassin yang pingsan akibat skill ledakan milik Zein. Gadis itu kini dibaringkan di sofa ruang tamu apartemen Riko


Riko sudah cukup lelah mengurus para tetangga apartemen, termasuk Bapak Satpam yang sedari tadi mendatanginya karena suara ledakan. Riko harus berulang kali mengatakan kalau itu adalah kecelakaan kecil tabung gas yang meledak. Ia meyakinkan semua orang kalau sekarang keadaan rumahnya sudah baik-baik saja, sampai akhirnya mereka pun berhasil diusir.


Beruntung Sita sepertinya sedang tidak ada di rumah, sehingga tidak ikut panik karena kejadian tersebut.


“Udah berapa lama aku pergi?” tanya Riko kemudian.


“Ini hari ke sembilan. Besok pas sepuluh hari sejak lo masuk ke bengkel,” jawab Zein masih berkacak pinggang sembari mengamati gadis assassin itu.


Masker yang menutupi wajahnya sudah terbuka. Gadis itu sepertinya masih berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Seumuran dengan Gladys. Bisa-bisanya Rangga menyuruh anak semuda itu untuk membunuh. Pantas saja Riko merasa gadis itu sedikit ragu dengan serangannya tadi. Ia bahkan meminta maaf pada Riko.


“Kamu udah hubungi yang lainnya?” tanya Riko kemudian.


Zein mengangguk. “Mereka udah otewe ke sini,” jawab penyihir itu. “Ngomong-ngomong, sorry soal apartemen lo. Potong gaji gue juga nggak apa-apa deh. Tapi nyicil ya. Setahun bisa? Dua belas kali?” lanjutnya sembari mengamati dinding rumah Riko yang hancur.


Riko mendengkus pelan. Ia memang kesal, tetapi tidak setega itu pada orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.


“Santai aja. Lagian urgent juga kan. Kamu udah nyelamatin aku. Jadi nggak perlu potong gaji. Nanti biar Jaka yang urus pembangunannya lagi pakai uang guild. Senjata anak-anak Ares juga udah kelar separuh. Besok aku mau kasih ke mereka sekalian nerima pembayaran kedua,” jawab Riko tenang.


Zein berubah semringah. “Siap! Besok gue kawal lo biar aman. Perlu sewa mobil?”


Belum sempat Riko menjawab, pintu apartemennya sudah terbuka. Mona, Jaka dan Rizal muncul dengan wajah khawatir. Jaka berdecak pelan saat melihat kehancuran di apartemen tersebut. sementara Mona langsung memeriksa tubuh Riko dari atas sampai ke bawah.


“Astaga, Rik, kamu luka-luka,” ucap gadis itu sembari meraih tangan Riko dan mengamatinya dengan prihatin.


“Sini, aku sembuhin.” Rizal maju ke depan lantas mulai menggunakan skill penyembuhnya yang berpendar keemasan.


Riko membiarkan saja rekannya itu melakukan hal tersebut. Luka-lukanya lantas menutup dengan cepat sehingga rasa perih tidak lagi menyerang.


“Cewek ini pelakunya?” tanya Mona sembari melotot marah pada gadis muda yang tergolek tak sadarkan diri.


“Kita apain nih orang? Nggak perlu disembuhin kan?” tanya Zein yang juga masih berdiri di dekat si gadis assassin.


“Ngapain?  Kita laporin aja ke assossiasi. Percobaan pembunuhan terhadap player lumayan hukumannya. Udah ada bukti juga. Eh lukamu udah disembuhin ya? Gak bisa visum, sih. Tapi udah cukup lah saksinya juga. Ada CCTV kan?” cecar Mona panjang lebar.


Riko menggeleng pelan. “Aku belum pasang,” jawabnya pendek.


“Astaga. Zein! Kerjaanmu apa aja sih sampai nggak ngurus soal begituan? Kamu pasang lah sistem keamanan di sini. Yang lengkap. CCTV kek, pasang jebakan kek. Apa kek.” Mona mulai mengomeli Zein.


“Eh, iya. Gua kok nggak kepikiran yah dari kemarin?” ujarnya meringis.


Gladys datang tak lama kemudian. Gadis itu langsung memeluk Riko tanpa basa-basi sembari menangis khawatir. Riko harus menenangkannya selama beberapa waktu sampai membuat Mona tampak jengkel.


“Udah, aku nggak apa-apa, Dys,” ucap Riko sembari mengusap puncak kepala Gladys.


“Zein ini kerja nggak bener. Udah suruh jagain tapi malah nggak fokus. Harusnya aku tetap di sini aja buat ngawasin Zein,” gerutu Gladys merengut kesal pada Zein.


“Iya, iya, sorry. Ini salah gue. Maaf … ,” sahut Zein pasrah.


Akhirnya sang archer muda itu pun sudah kembali tenang. Ia melepaskan pelukannya pada Riko setelah Mona terus-terusan berusaha memisahkan mereka dengan dalih Riko perlu istirahat. Mereka akhirnya kembali membahas sang assassin muda yang kini mulai mengerang kesakitan.


“Loh, ini anak kampusku. Beda fakultas tapi seangkatan. Aku pernah ketemu pas inisasi universitas,” celetuk Gladys ketika akhirnya sempat melihat wajah sang assassin.


“Oya?” Sontak semuanya pun terkejut.


“Iya. Namanya Lana. Aku nggak tahu kalau dia player. Ngomong-ngomong dia udah mau sadar tuh. Nggak kita ikat atau gimana gitu?” tanya Gladys kemudian.


Zein dan Jaka pun buru-buru mencari tali. Akan tetapi Riko mencegahnya.


“Nggak usah. Bukan dia penjahat sebenarnya. Orang yang harusnya kita jatuhkan itu adalah dalang di balik aksi ini. Nggak ada gunanya kita nangkep ekornya. Aku tahu persis sifat orang itu. Anak ini juga korban. Kalau dia ketangkep, Rangga pasti cuma bakal ngebuang dia gitu aja. Emang nggak punya perasaan orang itu,” cegah Riko kemudian.


“Setidaknya dia bisa kasih kesaksian buat ngehukum guild itu Rik. Tapi kamu yakin ini juga kerjaan Silverdeath?” sahut Mona.


Riko mengangguk. Siapa lagi yang mungkin mengirim assassin untuk membunuh manusia biasa?


Zein mendesis marah. “Orang itu kenapa cari perkara terus sih sama lo? Ada masalah apa sama dia? Iri? Apa gimana? Padahal kita juga nggak pernah nyinggung mereka,” gerutu pemuda itu.


Riko hanya menghela napas pelan. “Emang busuk aja hatinya,” jawabnya pendek.


Semua orang di tempat itu pun setuju. Dua peristiwa berturut-turut sudah menimpa Riko gara-gara sabotase Rangga. Riko merasa sangat marah. Ingin rasanya ia segera menghancurkan orang tersebut. Akan tetapi belum sekarang saatnya. Riko masih belum punya cukup kekuatan. Meski dua guild besar mungkin akan mendukungnya, Ares dan Corsage, tetapi itu saja tidak cukup.


“Kenapa dia nggak main dengan fair. Lewat guild war, misalnya. Kita udah punya tambahan anggota setelah sembilan hari kamu pergi, Rik,” ucap Rizal tiba-tiba.


Riko menoleh pada rekan priestnya itu. “Bagus. Kamu dapat berapa orang?” tanyanya.


“Tiga belas. Tapi kita butuh tempat yang lebih besar. Karena itu sementara aku baru coba cari gedung buat kantor guild kita. Belum ada yang harganya masuk akal. Mungkin kalau pun dapet di daerah pinggiran kota yang agak murah. Gimana? Kebetulan Mona juga katanya berhasil ambil alih dungeon di pinggir kota,” ucap Rizal menjelaskan.


Mona pun menggangguk setuju. “Parangkusumo. Aku dapat dungeon di pantai itu. Agak jauh dari pusat kota. Tapi lumayan aktif. Monsternya kelas menengah. Makhluk laut gitu. Giant Crab sama duyung. Masalahnya bosnya agak kuat, tapi belum muncul lagi sejak sebulan yang lalu. Katanya bos itu bakal muncul tiga bulan sekali. Masih aman buat sekarang,” terang gadis itu.


“Oke. Kerja bagus. Atur regulasi buat guild-guild kecil yang mau sewa tempat itu buat berlatih. Juga pekerjakan beberapa blacksmith buat nambang kristalnya. Pendapatannya bisa buat nambah kas guild kita. Sekarang, aku mau balik ke bengkel dulu, ambil senjata yang udah jadi. Tolong urus anak ini sebalum aku ke sini lagi, ya,” ucap Riko sembari menunjuk sang gadis assassin yang tampak akan segera sadar itu.