
Setelah menyelesaikan semua prosedur di perusahaan, akhirnya Riko pun bisa kembali ke kamar kosnya yang tenang. Sama seperti sebelumnya, begitu merebahkan tubuh di atas tempat tidur busanya yang usang, barulah Riko menyadari betapa lelah tubuhnya. Rasa pegal mulai menyerang karena kini ia tidak melakukan apa-apa lagi, sehingga semua fokusnya teralih pada rasa nyeri di tubuhnya.
“Haish … “ desahnya lelah. “Untung gajinya lumayan. Kemarin aku udah bayar kos. Sekarang bisa ditabung buat beli motor. Capek juga kemana-mana naik angkutan umum,” gumam Riko sembari mengecek uang di mobile bankingnya.
Gajinya sudah ditransfer begitu ia sampai di Akademi dan mengembalikan seragam merah hitamnya yang kotor. Riko bersyukur ia tidak harus ganti rugi karena seragam itu sudah compang camping akibat serangan dari rangga.
Sejenak Riko menerawang. Terbayang lagi olehnya bagaimana sikap buruk Rangga yang berniat membunuhnya. Orang itu bahkan menyebar fitnah tentangnya dan membuat Riko menjadi bahan hujatan orang-orang. Tinjunya kembali mengepal keras setiap kali mengingat hal itu. Entah dia yang bodoh atau memang Rangga yang keterlaluan. Sepertinya memang keduanya.
Riko kembali membayangkan tubuh dua orang player yang meninggal di dalam dungeon. Ia bergidik membayangkan kalau dirinya sendiri yang akan bernasib seperti itu. Dari peristiwa tersebut, Riko kini menyadari bahwa dirinya kini tengah berada dalam bahaya. Rangga sepertinya tidak main-main ingin membunuhnya.
Setelah Genesis muncul di dunia nyata, apakah kematian manusia menjadi hal yang wajar? Riko benar-benar muak memikirkan hal tersebut. Tidak. Dia tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Satu-satunya makhluk yang akan dia basmi hanyalah monster. Riko tidak mau membunuh sesama manusia. Kalau dia melakukannya, apa bedanya dirinya dengan para monster itu.
Akhirnya, daripada tenggelam dalam emosi, Riko pun mengalihkan pikirannya pada hal lain. Ia mencoba memikirkan tawaran Rhea untuk bergabung dengan Guild perempuan itu. Riko lantas mengecek surelnya, barangkali Rhea sudah mengirimkan detail kontrak yang dia bicarakan tadi. Dan benar saja, kontrak itu sudah bertengger di baris teratas inbox.
Riko membuka sebuah file yang terlampir. Tertulis nama Guild Corsage dan logo burung hantu berwarna hitam dengan sayap daun pada header. Surat itu ditulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Semuanya sudah diketik dengan rapi, seperti surat kontrak kerja pada umumnya. Riko membaca dengan cepat semua benefit yang ditawarkan. Semuanya menggiurkan, sesuai dengan yang sudah Rhea katakan langsung kepadanya. Bahkan nominal gaji bulanannya juga fantastis. Dua digit, setara dengan gaji seorang manager di perusahaan besar.
Riko beralih ke syarat kontraknya. Tidak sulit juga. Sebagai Blacksmith, Riko hanya diminta untuk memberikan seribu keping Kristal setiap bulannya dari hasil menambang. Lalu Riko harus bersedia melakukan refine senjata untuk semua anggota guild secara gratis dengan Kristal yang dimiliki oleh guild. Riko juga harus membuat senjata dan equipment khusus dari scroll yang dimiliki oleh guild.
“Tunggu. Rhea sudah memiliki scroll senjatan dan equipment?” desis Riko ketika membaca kontrak dengan seksama.
Scroll adalah sebuah item di Genesis yang berisi resep atau material untuk membuat sebuah potion, equipment atau senjata langka berlevel Expert hingga Legend. Scroll ini sangat sulit di dapatkan dan biasanya hanya ditemukan di sarang monster tertentu, atau hasil dari melebur beberapa item spesial. Rasa ingin tahu Riko pun tergelitik ketika membaca syarat tersebut. Ia juga ingin membuat equipment dari scroll. Barang yang dihasilkan pasti akan sangat luar biasa.
“Ck, coba aja dia nggak bisa baca pikiran. Pasti udah setuju aku masuk guildnya,” gerutu Riko saat ingat kemampuan Rhea itu.
Rasanya memuakkan kalau setiap waktu pikirannya harus dibaca oleh orang lain. Riko kadang-kadang suka berpikir random. Ia juga harus berhati-hati ketika memikirkan hal kotor atau sesuatu semacamnya. Padahal kan hal seperti itu tidak bisa diatur dengan mudah. Mengendalikan pikiran itu hanya bisa dilakukan oleh para praktisi spiritual yang sudah sangat mendalami ilmu mereka.
Riko menghela napas dengan kesal. “Nggak tahu deh. Pikir nanti dulu aja. Mending sekarang coba perbaiki senjatanya Lycan. Riko bangkit lantas mengangkat kasurnya hingga menempel di dinding. Ia harus membuat ruangan itu cukup luas untuk mulai menempa.
“Sistem, buka inventory,” perintahnya penek.
Inventorynya terbuka dan menampakkan seluruh barang yang sudah disimpan Riko. Riko tidak menghiraukan yang lainnya dan hanya mengambil Lycan Knife yang terbelah jadi dua.
“Repair,” ujar Riko menggumamkan skill perbaikan senjata.
Detik berikutnya satu set meja tempa berikut palu besi muncul di tengah ruangan kamarnya. Riko pun beranjak bangun lantas mengenakan apron dan sarung tangan kulit anti api. Dia letakkan senjata sang bos monster itu di atas paron, lalu mulai menempa. Denting logam dan semburan bunga-bunga api menemani Riko selama memperbaiki Lycan Knife.
Lycan Knife (Rusak) ---- 3% perbaikan
Lycan Knife (Rusak) ---- 6% perbaikan
Lycan Knife (Rusak) ---- 9% perbaikan
Lycan Knife (Rusak) ---- 12% perbaikan
“Wah, ini lebih cepet daripada waktu perbaiki set Noctorious,” kata Riko girang. Baru sebentar dia bekerja tapi peluhnya sudah mulai keluar. Meski begitu, ia tetap bersemangat melanjutkan pekerjaannya.
Lima belas menit berlalu. Semakin lama, proses perbaikan semakin terasa lambat. Lengan Riko sudah mulai kebas karena terus-terusan memukulkan palu tempanya ke pisau itu. Bagian besinya sudah tersambung, tapi masih ada bekas patahan yang menyala kemerahan.
Riko kembali memukulkan palunya hingga kurang lebih tiga puluh kali.
Lycan Knife ---- 100% perbaikan
Notifikasi tersebut muncul begitu senjata tersebut selesai diperbaiki. Cahaya keemasan menyeruak dari mesin tempa Riko. Lycan Knife itu lantas melayang dilingkupi cahaya dan seluruh patahannya tersambung sempurna.
Lycan Knife
Type : One-handed sword
Level : 35
- Atk : 180
-Base-
Def +58
Extra debuff: -30% Atk Foes | -30% Move Speed Foes
-Refine-
When Def reaches 170, Debuff +20%
-Requirement-
Level 20-40 | Swordman, Knight, Rune Knight
“Waaahh … mantaaaap,” pekik Riko puas. “Mendingan aku refine sampai +10 sebelum kujual. Biar harganya makin mahal,” lanjutnya membuat rencana.
Namun belum sempat ia melakukan refine, notifikasi sistemnya kembali muncul.
Selamat, Anda sudah membuka tittle baru sebagai “Master Repair”. Tittle ini akan mempercepat waktu Anda dalam memperbaiki senjata dan equipment. Kini anda bisa menempa senjata atau equipment berlevel maksimal 50 dengan atribut Master. Wow menyenangkan, bukan. ^^
Riko kembali tersenyum puas. Tittle ni akan membuatnya bisa memperbaiki senjata atau equipment yang lebih kuat. Ia juga bisa segera memperbaiki Noctorious Setnya jika sudah mendapat tittle Legendary Repair. Riko harus semakin sering memperbaiki senjata setelah ini.