
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu Riko pun datang. Hari ini Riko akan memulai proses peleburan untuk membuat senjata pesanan Rhea. Semua bahan yang dibutuhkan sudah terkumpul. Syarat level Skill dan Level karakter Riko juga sudah terpenuhi. Berkat membunuh Fallen Angel, kini Riko sudah berada di level lima puluh dua. Semuanya sudah siap pada tempatnya, termasuk scroll sakral yang dibutuhkan.
Ini kali pertama bagi Riko untuk mencoba skill Weapon Mastery, skill khusus untuk membuat senjata yang baru bisa aktif setelah mencapai level lima puluh. Di apartemennya yang luas, Riko sudah mempersiapkan satu ruangan khusus yang sengaja ia khususkan sebagai ruangan menempa.
Ruangan itu sepenuhnya kosong dan hanya berisi satu sofa panjang yang bisa digunakan untuk beristirahat jika Riko sudah terlalu lelah menempa. Selain itu, tidak ada perabot lain karena sepengalamannya, seluruh alat penempaan akan muncul dari sistem Genesis setiap kali ia menggunakan skill.
Kini, setelah semuanya siap, Riko sudah berdiri dengan penuh percaya diri di dalam ruangan tempanya itu. Seketika ia menyadari kalau sayap raksasa Fallen Angel yang baru dia dapatkan tempo hari mungkin tidak akan muat berada di dalam ruangan tersebut. Lebih dari itu, bagaimana cara melebur sayap raksasa berbulu putih itu agar menjadi elemen Angelic Wings yang dibutuhkan? Pasti ia akan membutuhkan tungku super besar yang tidak akan muat berada di ruangan tersebut.
Riko berpikir keras sebelum memulai skillnya. Kalau saja ada blacksmith lain yang pernah melakukan penempaan senjata sebelumnya, Riko mungkin bisa bertanya kepada senior tersebut. Sayangnya, sejauh ini Riko masih menjadi blacksmith dengan level tertinggi. Ini kali pertama seorang blacksmith akan membuat senjata, yang mana artinya Riko tidak bisa bertanya kepada siapa pun.
“Ah, bodo amat. Gas aja,” gumam Riko akhirnya menyerah berpikir.
Ia pun lantas membuka fitur skillnya di jendela sistem Genesis. Hologram biru berpendar di hadapan Riko. Setelah memilah-milah menu, ia pun segera memilih skill Weapon Mastery Level 1. Beberapa detik berlalu dan Riko tidak merasa ada sesuatu yang terjadi, hingga akhirnya, secara perlahan pemuda itu menyadari bahwa sudut-sudut ruangannya kini telah berubah.
Seperti bara api yang merambat perlahan membakar kertas, dinding-dinding ruangan Riko, berikut lantai dan langit-langitnya, secara perlahan berubah menjadi berwarna emas. Gerakan perubahan itu perlahan tapi pasti, semakin lama semakin meluas hingga menjalar di bawah kaki Riko.
Pemuda itu berdecak kagum mengamati skill barunya tersebut. setelah kurang lebih lima menit berlalu, ruangan tersebut sudah sepenuhnya berubah. Kini Riko berada di sebuah bengkel pandai besi yang sangat megah. Luasnya mungkin mencapai lima puluh meter persegi, dengan langi-langit berbentuk kubah yang sangat tinggi, nyaris tidak terlihat ujungnya.
Seluruh dinding ruangan tersebut dipenuhi kaca yang menyinarkan cahaya keemasan seperti pagi hari yang hangat. Sebuah pohon raksasa berdiri tepat di tengah ruangan tersebu. Batangnya mungkin selebar tiga meter, dengan dedaunan rimbun yang dipenuhi buah-buahan merah yang menggoda. Bunga-bunga mawar merah cantik yang berbau harum tampak menghiasi taman yang ada di tengah ruangan, seolah tak peduli dengan hawa panas yang dikeluarkan oleh tungku raksasa di ujung ruangan.
Taman itu seperti pemanis di tengah-tengah peralatan berat yang jamak ditemui di dalam bengkel pandai besi. Selain tunggu setinggi sepuluh meter yang menyala-nyala panas, banyak juga berjajar paron-paron mengkilau yang seperti baru, belum pernah digunakan. Di sisi lain dinding, menggantung segala alat capit, gunting besi dan sebagainya, yang biasa digunakan untuk membentuk senjata.
“Woaaah … .” Riko tak henti-hentinya berdecak kagum. Ia mengelilingi tempat itu dengan penuh rasa takjub. Seluruh tubuhnya sampai merinding karena skill barunya itu ternyata bisa membuat sebuah ruang dimensi yang sehebat itu.
Saat masih terpesona dengan keadaan tersebut, mendadak ujung baju Riko seperti ditarik-tarik oleh sesuatu. Riko menoleh dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati sesosok laki-laki kerdil degan wajah penuh jenggot dan rambut panjang yang acak-acakan. Tinggi sosok itu mungkin hanya satu meter. Seluruh tubuhnya begitu pendek, hingga tangannya pun seperti tangan anak-anak. Sebuah topi kerucut warna merah tersemat di kepalanya.
Riko kaget bukan kepalang. Pemuda itu sampai terlompat ke belakang sembari memekik keras.
“Siapa kamu!” serunya terkejut.
“Apakah Anda adalah Master yang baru?” tanya sosok berjanggut tersebut.
“Ma, Master?” tanya Riko bingung.
“Ka, kami?” Riko semakin bingung.
Pertanyaan Riko tersebut langsung terjawab dengan munculnya kurcaci-kurcaci lain dari balik pohon, seolah mereka memang tinggal di dalam pohon, atau di atasnya. Setidaknya ada enam kurcaci lain yang mengenakan pakaian berwarna warni, berikut topi kerucut mereka masing-masing. Fili, yang menyapa Riko pertama kali, berpakaian merah. Lalu ada yang jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Sudah seperti pelangi.
Begitu melihat Riko, semua kurcaci itu lantas membungkuk hormat dan berseru serempak. “Selamat datang, Master!”
Riko hanya bisa melongo. Mulutnya ternganga dengan bingung. Bahkan dalam gamenya dulu, saat ia masih memainkannya secara online di ponsel, tidak ada fitur semacam ini. Saat akan membuat senjata, karakternya hanya perlu memasukkan item-item yang sesuai dalam panel dan hupla! Senjata baru sudah jadi.
Akan tetapi pemandangan ini benar-benar mengejutkannya. Mendadak ia menjadi master dari delapan kurcaci asing berjanggut tebal.
“Ka, kalian bukan tuyul, kan?” pada akhirnya hanya kalimat itu yang berhasil terucap dari mulut Riko.
Fili mendongak dan menegakkan tubuhnya menghadap Riko. “Tuyul? Apakah itu senjata baru yang akan kita buat hari ini, Master?” tanyanya polos.
Pertanyaan itu mengonfirmasi Riko bahwa mereka bukan sejenis lelembut. Sedikit banyak pemuda itu bisa bernapas lega. Setidaknya ia tidak sedang dibawa ke alam barzah atau semacamnya. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menguasai keadaan.
“Oke sebelumnya aku ingin kalian memperkenalkan diri. Namaku Riko. Sekain Fili yang baju merah ini, tolong kalian memperkenalkan nama kalian satu persatu,” ucap Riko mulai mendalami peran sebagai master baru.
“Baik, Master Riko,” ucap para kurcaci serempak. Akhirnya mereka pun memperkenalkan diri satu persatu, dimulai dari yang berwarna jingga. Bahkan saat berkenalan pun mereka mengikuti urutan seperti pelangi.
“Kili!” Kurcaci berpakaian jingga berseru. Rambutnya seperti warna rambut jagung, agak kemerahan dengan janggut yang dikepang kecil.
“Mili.” Adalah nama kurcaci kuning yang berambut coklat tua.
“Dili,” ucap seorang kurcaci berwarna hijau yang janggutnya masih pendek, dikucir kecil di bawah dagu, seperti kuncup bunga yang terbalik.
“Dori.” Kurcaci yang berwarna biru berucap. Ia tampak lebih tenang dari teman-temannya. Rambutnya dan janggutnya berwarna putih, entah karena usia atau memang begitu adanya.
“Nori,” ucap Kurcaci berwarna Nila. Suaranya lebih lembut dari yang lain, dan kurcaci ini juga tidak berjangut sama sekali. Entah kenapa Riko merasa yang satu ini adalah seorang kurcaci perempuan.
Dan akhirnya, kurcaci terakhir berpakaian ungu pun menyebutkan namanya. “Dainn, yang paling muda dan cekatan di antara yang lain, Master,” ujarnya sembari membungkuk hormat lagi.