
Riko mengemudikan mobilnya dengan penuh amarah. Ia hampir membatalkan rencananya untuk mengajak Sita ke acara peresmian markas guildnya. Akan tetapi Riko merasa perlu mendengar penjelasan Sita. Di lubuk hatinya yang terdalam, Riko berharap Sita menyangkal semua kecurigaannya.
“Aku nggak bisa kasih tahu semuanya, Rik. Tapi tolong percaya samaku. Hubunganku sama Rangga nggak seperti yang kamu pikirkan,” kilah Sita saat keduanya berkendara di dalam mobil sedan Riko.
“Terus kenapa dia masih terus nemuin kamu? Kapan hari itu aku juga lihat dia telepon kamu. Dia terobsesi apa gimana sih?” desis Riko kesal.
“Dari dulu emang dia kan kayak gitu, Rik. Cuma aku nggak pernah tanggapi kok,” ucap Sita sungguh-sungguh.
“Terus apa yang kamu bicarain sama dia?” tanya Riko kemudian.
Sita terdiam sejenak. “Itu … bukan apa-apa. Cuma masalah biasa. Dia ngajak pergi, tapi terus aku tolak,” ucap gadis itu sembari melempar pandangan ke arah jalan raya.
Riko melirik sekilas. Entah kenapa ia merasa Sita sedang menyembunyikan sesuatu. Meski begitu, Riko juga tahu bahwa saat ini ia tidak punya hubungan apa-apa dengan Sita. Seharusnya Riko tidak berhak untuk melarang gadis itu bertemu dengan orang lain. Tapi bukan Rangga! Jelas Riko tidak akan bisa terima kalau Rangga yang harus dekat dengan Sita.
“Kita emang udah nggak pacaran, Sit. Terserah kamu kalau mau mulai deket sama orang baru. Tapi aku nggak bisa terima kalau orang itu Rangga,” kata Riko kemudian.
Sita menoleh sembari mengerutkan kening. Gadis itu tampak terganggu dengan ucapan Riko. “Kok kamu ngomongnya gitu?” tanyanya dengan kesal.
“Setelah semua yang aku lakuin buat kamu, sekarang kamu bisa enteng banget bilang gitu,” tukas Sita dengan nada meninggi.
Riko mendengkus pelan. “Jadi sekarang kamu itung-itungan? Segitu pengennya kamu dekat sama Rangga? Kenapa nggak dari dulu sekalian? Sekarang kamu udah kayak nusuk aku dari belakang, tahu nggak?!” bentak pemuda itu marah.
Kedua mata Sita tampak berkaca-kaca. Gadis itu terdiam, seolah menelan rasa sakit hatinya sendiri. “Turun … ,” gumamnya pelan.
Riko ber-hah bingung menanggapi.
“Aku mau turun! Berhenti di sini!” seru Sita emosional.
Riko yang tak kalah marah pun akhirnya menepikan mobilnya ke trotoar. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sita pun keluar dari mobil lalu membanting pintu. Riko yang kemarahannya sudah di ubun-ubun pun langsung mejaju pergi tanpa menoleh lagi. Kedua orang itu tengah dihinggapi kemarahan yang tak terelakkan.
Sesampainya di markas baru Guild Forging Master, Riko segera disibukkan oleh persiapan acara syukuran yang bertubi-tubi. Ia dan para anggota guildnya mulai membereskan ruang ballroom yang akan digunakan sebagai tempat acara peresmian berlangsung. Mona sebenarnya sudah menyewa jasa event organizer dan memesan catering untuk persiapan acara tersebut.
Meski begitu, Riko tetap melakukan beberapa pengecekan untuk memastikan semuanya sempurna. Kesibukan tersebut berhasil mengalihkan pikiran Riko sejenak. Ia tidak lagi terlalu kalut gara-gara pertengkaran dengan Sita. Mona, Zein, Gladys, Jaka dan Rizal juag sudah ada di sana. Mereka masing-masing sedang mengamati proses persiapan di berbagai titik. Food Stall, panggung, hingga tata letak kursi tamu undangan VIP.
Riko menarik napas pelan. Sebaiknya sekarang ia fokus saja pada acara ini dan mengesampingkan masalah Sita serta Rangga. Acara Guildnya akan dimulai saat jam makan malam nanti. Riko juga harus bersiap-siap.