Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Putaran Pertama



Pemandangan pulau dari atas terlihat begitu indah. Pulau tersebut dipenuhi hutan dengan pepohonan heterogen bermacam-macam bentuknya. Tepat di tengah pulau, terdapat sebuah tanah lapang yang dikelilingi hutan lebat. Di kedua ujung pulau yang berseberangan, berdiri bangunan megah tempat markas kedua guild yang akan bertarung. Satu bercorak merah, sementara yang lain memiliki corak biru.


Riko dan para penonton lain menyaksikan pemandangan spektakuler itu melalui tribun melayang. Benda terbang itu tidak hanya ada satu. Setidaknya lusinan tribun lain turut melayang-layang pelan di udara seperti balon-balon terbang yang mengambang mengikuti arah angin.


Tak lama setelahnya, suara terompet panjang melengking terdengar, membahana di seluruh pulau. Suara tersebut menjadi pertanda dimulainya acara yang sudah ditunggu-tunggu: pertarungan antar guild putaran pertama. Pertempuran pertama itu dilakukan oleh dua guild tingkat atas yaitu Ares melawan Minerva. Para ahli pedang yang dipimpin oleh Gamaliel sendiri menyeruak dari tim yang bermarkas merah. Mereka meraung penuh semangat membelah hutan menuju lapangan luas yang ada di tengah pulau.


Sementara itu, pihak tim biru adalah para alkemis dari guild Minerva. Mereka menggunakan bahan-bahan peledak dan ramuan kimia berbahaya untuk melawan para swordman dari Ares. Pertarungan langsung dibuka dengan ledakan keras dari granat beracun yang dilemparkan oleh pihak Minerva. Beruntung area tribun penonton dilengkapi dengan pelindung transparan yang bisa menghalau segala dampak serangan termasuk racun di udara.


Riko mengamati pertarungan sengit di bawah kakinya itu dengan takjub. Rasanya seperti benar-benar memainkan game menggunakan perangkat virtual reality. Orang-orang di bawah sana begitu kecil dan jauh dari tempat Riko berada. Namun, ia juga sadar bahwa kenyataan ini bukanlah sekadar virtual reality. Pertempuran itu benar-benar terjadi dan para player di bawah sana benar-benar terluka parah, bahkan mungkin bisa ada yang tewas.


Pemuda itu bergiik ngeri. Seperti inikah peperangan di dunia nyata. Meski para player itu sudah dilengkapi dengan penguatan tubuh sedemikan rupa, serta senjata-senjata ampuh, tetapi luka tetaplah luka. Nyawa manusia juga hanya satu. Sekali mereka mati, tidak ada fitur respawn di dunia nyata.


“Ares terdesak. Orang-orang dari Minerva itu pakai senjata jarak jauh,” komentar Mona tampak serius mengamati jalannya pertempuran.


“Tapi petarung pedang kan nggak gampang mati. Defence mereka loh tebel banget. Alot matinya. Lihat aja, udah dibom berkali-kali masih aja pada hidup lagi,” tukas Zain menanggapi.


“Tapi nggak gitu kelihatan soalnya ketutup asep sama debu. Kan nggak tahu siapa yang masih hidup sama siapa yang udah mati.” Gladys mencicit dengan suara gemetar. Jelas gadis muda itu ketakutan.


“Ini terlalu brutal,” komentar Rizal tak kalah gemetar. Priest itu bahkan mengalihkan pandangannya ke arah lain demi tidak menyaksikan pertempuran di bawah sana.


Untungnya mata Riko segera menemukan dua sosok tersebut. Gama tampak menggenggam sebilah pedang besar berwarna emas berkilau yang tampak sangat kuat. Pedang itu sudah berlumur darah – yang entah darah siapa, Riko tidak ingin memikirkannya –, tetapi tetap bisa mengeluarkan energi yang luar biasa. Satu kibasannya membentuk semacam tornado setinggi dua meter yang langsung membelah formasi para alkemis di ujung lain lapangan. Kibasan pedang Gama yang lain juga dapat memunculkan pisau-pisau angin yang menyabet hingga radius puluhan meter. Sungguh level seorang ketua guild terkuat itu memang tidak main-main.


Lima belas menit pertama, Minerva memang tampak seperti di atas angin. Serangan bom racun mereka memang berhasil melumpuhkan para swordman dari guild Ares. Akan tetapi itu hanya sementara. Serangan balik segera dimulai oleh Gama dan anak buahnya. Mereka seperti zombie-zombie yang bangkit dari balik ledakan besar yang diarahkan pada tubuh mereka. Dengan armor lengkap yang sudah setengah hangus, anggota guild Ares menyerang musuhnya tanpa kenal ampun.


Guild war itu hanya akan berakhir jika salah satu pihak berhasil menguasai markas pihak lainnya. Hal itu dilakukan dengan cara menyelinap masuk ke dalam markas tim lawan lantas memasukkan chip khusus agar warna markas musuh bisa berubah menjadi seperti milik mereka. Meski begitu, ada batas waktu untuk melakukannya. Apa bila dalam waktu dua jam tidak ada satu pun markas yang berhasil direbut, maka pertarungan guild akan tetap diakhiri, dan pemenang akan ditentukan melalui jumlah musuh yang berhasil dikalahkan.


Di baju setiap player yang mengikuti guild war itu telah dipasangkan sebuah alat khusus untuk mendeteksi apakah mereka masih layak bertarung atau tidak. Para player yang sudah terluka parah atau bahkan meninggal – semoga tidak sampai sejauh itu – akan langsung di teleport ke safe area yang ada di dekat pintu masuk pulau. Di sana para priest sudah berjaga untuk menyembuhkan mereka. Para player yang sudah keluar dari arena itu dianggap telah kalah.


Begitulah peraturan yang telah dibaca Riko melalui sebuah hologram khusus yang menyala di depan kursinya di tribun sesaat sebelum pertarungan berlangsung tadi. Meski kelihatannya sudah ada tindakan preventif, tetapi tetap saja bahaya itu nyata. Kalau pun tidak mati, kondisi cacat bisa juga terjadi. Meski begitu entah kenapa Riko justru merasa bersemangat. Ada bagian dari dirinya yang ingin ikut terjun dalam pertarungan di bawah sana. Setidaknya dengan set legendarisnya, kemungkinan menang Riko masih bisa meningkat. Itu pun kalau lawannya bukan Ares atau Corsage.


Pertempuran Ares versus Minerva tergolong singkat. Pada menit ke tiga puluh tujuh, markas guild Minerva yang sebelumnya berornamen biru, mendadak berubah menjadi merah. Hal itu menandakan bahwa Ares telah berhasil menyelinap dan merebut benteng pertahanan Minerva.


Sekali lagi suara terompet panjang dan melengking terdengar membahana di seluruh sudut pulau. Para pemain yang masih berada di tengah lapangan satu per satu diteleport menuju markas mereka masing-masing. Tak lama setelahnya tanah di bawah tempat pertarungan bergetar lantas terbelah menjai dua, memunculkan semacami podium raksasa dengan seorang pria dewasa berbadan tegap berdiri tepat di tengahnya.


“Pertarungan putaran pertama, Tim A: Guild Ares versus Guil Minerva. Pemenang: Ares!” seru pria berbadan tegap itu dengan pengeras suara sihir yang bisa terdengar seantero pulau.


Seruan gegap gempita pun kembali terdengar dari beberapa podium penonton, disusul dari arah markas Guild Ares yang ada di salah satu ujung hutan. Riko mendesah lega. Seperti yang sudah bisa ditebak. Kekuatan Gama memang tidak main-main.