Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Mengembangkan Guild



Pintu gudang menjeblak terbuka tepat pada saat Riko akhirnya bisa menggerakkan tubuhnya. Para assassin itu sudah pergi dan kini gudang tua tersebut sudah diserbu oleh rombongan penyihir. Ada empat orang yang datang, termasuk Rhea sang ketua Guild.


Gadis itu berjalan menyongsong Riko dengan penuh kekhawatiran. Riko selalu kagum bagaimana Rhea bisa bergerak lancar padahal kedua matanya tertutup kain putih.


“Riko! Kamu baik-baik aja?” tanya Rhea begitu sampai di dekat Riko.


Riko mengangguk singkat, bersyukur karena senjata pesanan Rhea masih di tangannya. Pemuda itu lantas menyerahkan kotak senjata itu pada Rhea.


“Apa kamu diculik gara-gara senjata in?. Harusnya aku yang datang ke tempatmu, ya,” ungkap Rhea penuh penyesalan. Gadis itu menerima kotak senjata dari Riko lantas memandu pemuda itu keluar gudang.


Tiga penyihir lain yang diajak oleh Rhea kini sedang menyisir gudang untuk mencari jejak-jejak sang penculik. Namun sia-sia saja karena para Assassin itu pasti tidak meninggalkan bukti sedikit pun.


“Bukan. Bukan karena itu, kok. Orang itu emang udah bermasalah samaku dari dulu,” tukas Riko apa adanya.


“Apa cowok yang pernah hampir bunuh kamu di dungeon Gua Cerme?” tebak Rhea.


Riko mengangguk tanpa ragu. “Sekarang dia jadi ketua Guild Assassin, Silverdeath,” tambahnya geram.


“Orang itu. Kalau aja dia bukan assassin, pasti bakal lebih gampang nangkep gerombolannya. Sekarang si sopir taksi itu aja nggak bakal tahu kenapa dia ada di sana. Si irregular itu pasti terlibat,” sahut Rhea sembari mengedik ke arah sang sopir taksi.


Riko melihat taksi yang dia kendarai tadi melesat keluar dari gudang dengan hati-hati. Salah satu mage rekan Rhea sepertinya baru saja menyadarkan sang sopir dari kondisi transnya. Sopir itu sekarang terlihat linglung dan kebingungan. Skill seorang player memang berdampak besar bagi manusia biasa. Mereka tidak punya pertahanan untuk melawan skill-skill para player. Karena itu sebenarnya tabu bagi para player jika menggunakan skill mereka pada manusia biasa.


“Rhe, orang itu bilang kalau guild mereka juga terlibat dalam pembunuhan berencana. Katanya mereka juga nerima kerjaan sebagai pembunuh bayaran,” ungkap Riko teringat sesumbar Rangga tadi.


Rhea menghela napas berat. “Itu sudah rahasia umum di kalangan guild-guild besar, Rik. Temanmu itu emang orang yang berbahaya. Tapi keluarganya punya pengaruh besar buat ngelindungi dia sampai nggak tersentuh hukum. Udah gitu player-player assassin sepertinya emang dirancang biar nggak gampang ketangkap. Nggak ada bukti yang bisa memberatkan mereka, meski semua orang tahu kalau banyak pembunuhan udah mereka lakukan. Asosiasi bahkan nggak berhasil membekukan guild mereka,” kisah Rhea panjang lebar.


Riko menggeram marah. Rangga sudah benar-benar keterlaluan. Sejak dulu orang itu memang sudah tidak normal. Entah bagaimana pun caranya, Riko berharap suatu saat nanti dia bisa menghentikan sepak terjang Rangga yang brutal itu.


...***...


Setelah diselamatkan oleh Rhea, Riko sempat dirawat di markas guild Corsage. Tempat itu benar-benar ajaib karena setiap ruangannya memiliki nuansa yang berbeda. Ada ruangan yang dari luar tampak kecil, tetapi setelah masuk justru menjadi hutan rimba. Sementara ruangan tempat Riko dirawat berubah menjadi kamar mewah dengan awan-awan lembut dan alunan musik klasik yang menenangkan.


Meski menakjubkan, tetapi Riko memutuskan untuk tidak berlama-lama di markas guild terbesar kedua itu. Toh ia juga sebenarnya tidak mengalami luka serius. Karena itu, setelah menerima bayaran, serta sedikit perawatan, Riko pun kembali ke apartemennya.


Mona-lah yang pertama kali muncul begitu tahu Riko sudah sampai di apartemen. Gadis itu rupanya sudah mendapat kabar dari temannya di guild Corsage tentang tragedy penculikan Riko. Zein, Jaka, Rizal dan Gladys pun datang tak lama setelahnya. Mereka semua tampak geram karena insiden tersebut.


“Si brengsek itu nggak ada kapoknya emang. Apa perlu kita kasih pelajaran ke mereka?” amuk Zein sembari mengepalkan tangan.


“Kalau dengan kekuatan kita yang sekarang, mustahil kita bisa menang ngelawan Silverdeath. Guild mereka udah punya puluhan member. Nyelundup diam-diam juga susah karena mereka ahlinya serangan tersembunyi,” sahut Mona logis.


“Jancuk! Nggak ada akhlak! Main culik aja sok kaya mafia!” rutuk Jaka tak kalah emosi.


“Sabar, Jak. Kalau mereka main kotor, nanti bakalan kena batunya sendiri. Sekarang kita harus fokus buat bertahan dulu,” Gladys menimpali.


“Aku sempat pernah sekali ke markas mereka, Rik. Tempatnya kayak bekas gedung olah raga yang udah nggak dipake gitu. Waktu itu aku kesana buat briefing mau masuk dungeon. Penjagaannya emang berlapis dan banyak player assassin yang sembunyi di balik penyamaran gitu. Menurutku bukan ide bagus kalau kita balas nyerang langsung ke markas mereka,” terang Rizal kemudian.


Riko memang tidak berniat membalas Rangga dengan cara kekanakan tersebut. Tujuannya bukan sekedar melukai Rangga atau antek-anteknya, melainkan membubarkan guild busuk mereka dan memenjarakan semua anggota yang terlibat pembunuhan. Karena itu, ia harus punya strategi jangka panjang yang tepat. Riko tidak boleh gegabah.


“Untuk sekarang kita harus fokus buat nambah jumlah anggota dulu. Kalau guild kita udah mulai berkembang dan bisa nguasain minimal dua dungeon permanen, posisi kita bakal lebih stabil. Aku butuh orang buat ngurus administrasi semacam ini, termasuk pengajuan untuk mengambil alih dungeon permanen yang belum dikuasai guild lain. Apa ada di antara kalian yang bisa urus hal-hal kayak gini? Atau aku perlu rekrut orang baru?” tanya Riko kemudian.


Mona langsung mengangkat tangan. “Aku bisa. Biar aku yang bikin sistem administrasi guild dan ngurus birokrasi. Gini-gini aku lulusan Management Bisnis,” ucap gadis itu dengan senyum terkembang.


“Oke, bagus. Makasih Mon. Nanti aku hitung bonus gaji dan tunjangan jabatan sebagai Manager Administrasi, ya,” kata Riko yang sembarangan menyebut nama jabatan baru untuk Mona.


Mona tertawa lepas. “Santai. Kita merintis bareng-bareng kok. Nanti pokoknya kamu tinggal ACC aja, Bos,” kelakar gadis itu.


Gladys lantas turut mengangkat tangannya. “Aku juga mau daftar Guild. Kayaknya seru juga main bareng kalian,” ucapnya ceria.


“Kamu pikir kita cuma main-main, Gladys?” protes Jaka diikuti tawa seluruh anggota guild lainnya.


Akhirnya pembentukan susunan kerja Guild Forging master pun selesai. Atas keterampilannya di bidang administrasi, Mona di daulat menjadi Wakil Ketua Guild. Zein, sang warlock level S, bertanggung jawab atas keamanan seluruh anggota, terutama Riko. Pemuda itu pun akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama Riko untuk sementara waktu.


Jaka dan Rizal punya tugas untuk merekrut lebih banyak anggota baru. Mereka merencanakan rekrutmen terbuka dalam waktu dekat. Untuk sementara Riko bisa mempercayakan pekerjaan-pekerjaan itu pada rekan-rekannya, sementara dia sendiri harus fokus mencari uang dan mendapatkan markas yang lebih besar. Tidak mungkin mereka harus terus-terusan berkumpul di apartemen itu. Jika anggota Guild sudah lebih dari sepuluh orang, Riko perlu gedung yang lebih besar.


Baru saja memikirkan hal itu, ponsel Riko mendadak bordering. Nama Gamaliel Gunawan tertera di layar gawainya. Riko tersenyum simpul. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.