Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Jaka



Riko harus memikirkan tentang banyak hal dalam satu waktu. Pertama, menolak tawaran Guild Ares. Ia harus punya alasan bagus agar Gama tidak memusuhinya. Bermusuhan dengan Guild besar pasti akan membuatnya sakit kepala.


Kedua, ia harus mencari tiga player lain untuk bergabung dalam Guildnya sendiri. Rizal memang sudah mengajukan diri. Akan tetapi anak itu hanya akan menjadi pemain cadangan kalau Riko memang sama sekali tidak bisa menemukan orang lain yang lebih cocok.


Terakhir, sekaligus yang paling sulit diputuskan, adalah tentang kuliahnya. Semenjak terjadi dungeon break, Riko sejenak melupakan tentang status mahasiswanya untuk sementara. Namun barusan ibunya menelpon dan kembali menanyakan perihal kelanjutan studinya. Bahkan setelah banyak hal terjadi di dunia, ijazah kuliah tetap menjadi prioritas bagi ibu Riko.


Riko memang tidak bisa menampiknya. Biar bagaimanapun, orang tua RIko sudah mengeluarkan banyak biaya untuk pendidikannya tersebut. Ia sendiri juga merasa sayang jika harus melepaskan perjuangan kuliahnya setelah bertahun-tahun ini. Tapi mana hal yang harus dia prioritaskan sekarang? Riko sepertinya tidak bisa jika harus mengerjakan semuanya dalam satu waktu. Sementara jatah cuti kuliahnya sudah habis. Tahun ini mungkin jadi tahun terakhirnya sebelum pihak kampus melalukan Drop Out terhadap dirinya.


Setelah melakukan pertimbangan panjang, akhirnya Riko memutuskan untuk melakukan hal yang bisa dia lakukan lebih dulu: mengajukan judul skripsi. Riko bertaruh untuk terakhir kalinya. Jika satu kali ini judul skripsinya kembali ditolak, maka ia akan memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus menjadi player.


 Selain itu, ia juga punya alasan lain kenapa masih memperjuangkan kuliah. Riko berniat untuk membujuk Sita, mantan pacarnya, agar mau menjadi anggota Guildnya. Sita mungkin akan luluh kalau Riko terlihat bersungguh-sungguh menyelesaikan skripsi. Ia sekaligus akan menjelaskan juga kalau kariernya sebagai player cukup menjanjikan. Sekali tepuk, dua nyamuk tertangkap.


Maka, setelah menyusun proposal sederhana yang sebenarnya hanya modifikasi kecil dari proposal skripsi pertamanya dulu, Riko pun pergi ke kampus. Riko berkuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia pergi ke gedung fakultasnya.


Perkuliahan sudah berjalan seperti biasa. Wajah-wajah mahasiswa baru sudah tidak banyak lagi dikenali Riko. Mereka adalah mahasiswa angkatan baru yang jauh di bawah Riko. Tanpa peduli pada tatapan adik-adik kelas yang melihatnya begitu asing, Riko langsung menuju kantor prodi untuk mengumpulkan proposalnya sekaligus melakukan input judul skripsi. Satu minggu lagi pengumumannya akan keluar.


“Mas Riko!” Sebuah suara tiba-tiba memanggilnya ketika Riko keluar dari ruang prodi.


Riko menoleh dan mendapati Jaka ternyata sudah berlari menyongsongnya.


“Jaka,” kata Riko membalas sapaan tersebut.


“Lama nggak kelihatan, Mas. Akhirnya mau lanjut skripsi?” tanya Jaka begitu mereka sudah cukup dekat. Keduanya pun berjalan bersama menyusuri koridor kampus.


“Iya. Sayang, Jak, kalau dilepas. Tapi ini yang terakhir. Kalau ditolak lagi, yaudah. Aku lepas aja. Yang penting aku udah usaha maksimal,” jawab Riko ringan.


“Nggak apa-apa, Mas. Semangat terus pokoknya. Ini aku juga baru kelar yudisium. Kemarin abis pendadaran. Semoga kamu juga bisa selese semester ini, ya, Mas.”


“Makasih Jak. Selamat juga ya buat kamu.”


Jaka tersenyum puas. Namun senyumnya lantas pudar. Pemuda itu tampak sedikit salah tingkah. Sepertinya ingin menanyakan sesuatu hal yang sensitif. “Nggak lanjutin jadi player, Mas?” tanya Jaka.


Riko menghela napas pelan lantas tersenyum. Sepertinya Jaka masih merasa tidak enak hati gara-gara kejadian saat rekrutmen dulu. Padahal karier Riko sebagai player cukup menjanjikan. Meski begitu, ia tidak ingin terdengar menyombong. Jadi Riko menjawabnya dengan sesimple mungkin.


“Masih kok. Aku lagi mau bikin guild ini, Jak. Tapi masih nyari orang buat gabung. Kamu mau nggak join,” ajak Riko tiba-tiba. Ia ingat Jaka adalah player yang lumayan oke, meskipun dia tidak tahu levelnya saat ini. Sebagai teman, Jaka juga termasuk setia kawan dan tidak neko-neko.


“Waduh. Guild ya. Aku denger emang udah mulai banyak guild yang muncul, ya, Mas. Tapi gimana ya, aku kayaknya mau fokus kerja dulu deh mas. Orang tuaku juga pengennya aku kerja kantoran aja. Kita kan nggak tahu sampai kapan dungeon break itu ada. Takutnya nanti tiba-tiba ilang, terus nggak ada pengalaman kerja nyata kan,” tolak Jaka tidak enak hati.


Jaka hanya tersenyum canggung. “Iya, Mas. Makasih tawarannya. Tapi ngomong-ngomong kalau jadi player emang bisa dapet duit Mas?” tanya Jaka lagi, tampak penasaran.


“Lho, kamu belum pernah coba masuk dungeon? Bukannya kemarin kamu juga ikut rekrutmen sama anak-anak yang lain?”


Jaka berubah murung. “Masalahnya, aku ditipu, Mas,” ujarnya muram.


“Hah? Ditipu? Gimana ceritanya?”


“Jadi sebenarnya waktu ketemu Mas Riko kemarin itu, kami mau daftar jadi player tapi pakai calo Mas. Katanya kalau pakai jasa dia, bisa dipastikan dapet level B ke atas. Yah emang aku dapet level B, sih. Cuma nggak tahu apa karena calo itu atau nggak.


“Nah masalahnya muncul pas kita harus mulai dungeon raid pertama. Ternyata seluruh data kami dipalsukan. Jadi semua pendapatan kami masuk ke si calo itu. Padahal kami juga udah bayar mahal lho buat pakai jasa dia.


“Pas kami tagih pendapatan kami, dia malah suruh kami gabung guild dia juga. Katanya semua pendapatan player bakal masuk ke kas guild, terus kami bakal digaji sesuai level dan kontribusi. Tapi gajinya kecil banget. Aku baca kontraknya juga kayak menjebak gitu. Akhirnya aku nolak, terus udah males jadinya lanjutin jadi player. Cuma si Ernes sama anak-anak yang lain justru masuk ke guild itu. Nggak tahu deh gimana nasib mereka sekarang,” terang Jaka panjang lebar.


Riko manggut-mangut sambil mendengarkan dengan seksama. Jadi karena itu Jaka menyerah menjadi player. Peristiwa tersebut memang menjengkelkan. Apalagi bagi orang awam yang baru menjadi player. Kenapa ada guild yang sejahat itu mengeksploitasi player lain. Riko berjanji agar kelak ia memperlakukan anggotanya dengan adil.


“Guild apa sih itu?” tanya Riko penasaran.


“Kalau nggak salah namanya Silverdeath,” ujar Jaka mengingat-ingat.


Darah Riko menghangat, sebentar lagi akan mendidih. Nama itu membangkitkan kemarahan Riko lagi.


“Silverdeath? Guildnya Rangga Sasmita? Gila ya orang itu kok bisa-bisanya … . Ah! ******!” umpat Riko marah.


“Mas Riko kenal sama ketua guildnya? Nah si calo ini kayak tangan kanannya gitu. Mereka keknya lebih kayak MLM deh daripada guild. Aku ya heran Mas. Makanya males,” ungkap Jaka turut kesal.


“Nggak sekedar kenal aku, Jak, sama orang itu. Aku punya utang sama dia. Utang ngehajar dia sampai hancur!,” geram Riko mulai emosi. “Gini aja deh. Aku bakal cari cara biar kita bisa masuk dungeon sekali lagi. Nanti kamu masuk ke timku. Aku tunjukin gimana cara mainnya kalau mau jadi player professional. Setelah kamu nyoba sekali sama aku, kamu boleh putuskan mau masuk guildku apa nggak. Gimana?” tawar Riko yang mendadak mendapat ide.


Jaka tampak berpikir sejenak. Tampaknya anak itu juga sebenarnya tertarik untuk menjadi player. Tawaran Riko tentu saja cukup menarik.


“Yaudah. Oke Mas. Aku mau. Kapan kita mau dungeon Raid?” tanya Jaka antusias.


“Nanti aku atur dulu, ya, Jak. Abis itu aku kabari kamu,” sahut RIko.