Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Membebaskan



Riko kembali ke bengkelnya dan beruntung segalanya baik-baik saja di sana. Hanya para kurcaci yang masih sedikit terlihat ketakutan. Fili menjelaskan bahwa memang ada mantra khusus yang bisa membuat seseorang menjebol dinding penghalang dimensi ke bengkel tersebut.


Jika orang itu berhasil masuk, mungkin dimensi itu akan hancur dan Riko tidak akan bisa datang ke sana lagi. Itu sama saja seperti skill Weapon Masetery Riko akan menghilang. Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana Rangga bisa mengetahui tentang skill Riko tersebut dan sampai bisa menyabotase sejauh itu.


Orang-orang yang tahu tentang kemampuan Riko itu terbatas hanya para anggota inti guildnya. Enam orang termasuk dirinya. Beragam asumsi muncul di benak Riko. Akan tetapi tidak ada satu pun yang terdengar masuk akal. Karena tidak punya banyak waktu, akhirnya Riko hanya segera mengemasi senjata-senjata buatannya yang sudah jadi lantas kembali keluar dari bengkelnya.


Hari sudah pagi saat dia muncul. Beberapa pekerja bangunan tampak memenuhi apartemennya dan memperbaiki dinding yang hancur. Kemunculan Riko yang tiba-tiba mengejutkan mereka, tetapi tidak ada yang bertanya apa-apa. Sepertinya Zein sudah lebih dulu memberitahu tentang hal tersebut.


“Lo udah kelar? Mana senjatanya?” tanya Zein menyambut Riko. Secangkir kopi panas mengepul di tangannya.


“Aku masukin inventory. Nggak cukup kalau ditenteng semua. Yang lain kemana?” Riko balas bertanya.


“Kerja dong. Mona masih survey dungeon baru sama si Rizal. Jaka ngurus meeting sama anggota baru di luar. Si Gladys kuliah. Rajin bener tu anak. Udah punya duit juga masih kuliah aja,” sahut Zein.


Riko tercenung sejenak. Ia memikirkan kuliahnya sendiri yang sudah terbengkalai. Meski begitu pemuda itu memilih fokus pada pekerjaannya dulu sekarang.


“Terus si penyusup itu?” tanya Riko kemudian.


“Oh, itu. Tuh, gue kurung di kamar tamu,” kata Zein sembari menunjuk salah satu kamar lain yang ada di apartemen Riko.


“Dikurung? Emang nggak kabur dia?”


“Si Jaka pasang pelindung pakai skillnya. Terus gue tambahin pakai sihir penguat. Dia juga masih lemah gara-gara serangan gue kemarin. Jadi nggak bisa kabur juga.”


Riko mengernyit. Rupanya dua rekannya itu masih punya banyak skill berguna. “Tapi nggak kamu siksa kan?”


“Nggak lah. Masih manusiawi gue. Gladys juga kasih dia makan. Cuma orangnya aja songong. Sok keras padahal anak kemarin sore.”


Riko mendengkus ringan lantas berjalan menuju kamar yang dimaksud. Zein mengikutinya dari belakang.


“Lo mau ngecek? Bentar gue bukain,” tutur Zein lantas mengeluarkan tongkat sihirnya yang panjang.


Pemuda itu lantas merapal mantra di depan pintu tempat gadis assassin dikurung. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru terang muncul di depan pintu kamar tersebut. selama beberapa detik Zein merapal mantra hingga akhirnya bunyi klik pelan terdengar.


“Udah. Masuk aja,” ucap Zein kemudian.


Riko pun masuk ke dalam kamar tersebut. ruangan itu sudah kacau balau. Bantal dan tempat tidur terkoyak, perabot jatuh berguling di lantai. Sang penghuni kamar tampaknya mengamuk semalaman. Kini gadis assassin bernama Lana itu kini tengah berusaha menghancurkan dinding dengan katarnya.


Akan tetapi yang keluar hanyalah percikan api karena dinding penghalang yang dibuat Jaka sudah melingkupi ruangan tersebut. Lana menatap Riko dan Zein dengan sorot mata tajam saat mereka berdua masuk ke dalam kamar. Wajahnya tampak marah. Makanan yang diberikan oleh Gladys tak tersentuh dan justru tumpah berantakan di lantai.


“Dasar cewek ngerepotin! Nggak tahu terima kasih. Udah bagus dibiarin hidup malah ngacak-acak kamar orang,” sembur Zein kesal.


Riko terdiam sejenak. Ia menatap anak muda itu dengan sedikit rasa iba. Di matanya, Rangga lah yang telah bersalah membuat gadis muda ini menjadi sosok penjahat.


Lana berdecih ringan. “Cuma orang bego yang nanya begituan. Harusnya kamu udah tahu siapa orang yang ngirim aku buat bunuh kamu,” tuturnya ketus.


Zein sudah akan meledak marah, tetapi Riko mencegahnya.


“Jadi tujuanmu emang buat bunuh aku?” tanya Riko kemudian.


“Apa lagi tujuanku,” sahut Lana ringan, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Kenapa kalian terus ngincar aku? Kami nggak pernah ganggu guild kalian,”


Lana hanya mengangkat bahu ringan. “Mana aku ngerti masalahmu sama bos. Aku nggak peduli juga. Tugasku cuma ngikutin perintah tanpa banyak tanya.”


Riko mendesah pelan. Tidak ada gunanya menanyakan hal klise semacam itu. seharusnya ia juga tahu bagaimana Rangga dari dulu selalu berusaha menjatuhkannya tanpa alasan. Rasa iri itu memang mengerikan.


“Gimana caramu nyabotase skillku? Darimana kamu tahu kalau aku lagi pakai skill itu di sini?” tanya Riko lagi.


Lana mendengkus pendek. “Aku nggak punya kewajiban buat jawab pertanyaan itu. Sekarang sebaiknya kamu lepasin aku atau assassin-assassin lain bakal ngegrebek rumah ini buat nyari aku,” tukas gadis itu tanpa rasa takut.


Zein tampaknya tidak bisa lagi menahan dirinya. Pemuda itu meledak marah sambil menunjuk-nunjuk ke arah Lana. “Heh! Cewek nggak tahu diri! Lo itu udah ngelakuin tindakan kriminal tahu! Lo itu penjahat tapi kelakuan lo kayak nggak ada rasa bersalahnya sama sekali!” semburnya.


Lana hanya menyeringai tipis. “Jangan naïf. Kalian pikir dunia para player itu cuma manis-manisnya aja? Cuma karena lebih kuat dari orang biasa, jadi ngerasa hebat? Di atas langit masih ada langit. Siapa yang lebih kuat, dia yang bakal menang,” ucapnya sinis.


“Kalau gitu bilang sama bosmu buat berhadapan langsung samaku. Jangan main tusuk dari belakang kayak pengecut,” tukas Riko mulai geram.


Gadis itu tertawa kecil seolah mengejek cara berpikir Riko yang terlalu naïf. “Emang kayak gitu cara kerja Assassin. Apa yang kamu harapin dari kami? Menyerang dengan gagah berani? Macam hero pembela keadilan? Hal bodoh kayak gitu nggak ada di kamus kami para assassin. Kami kerja di bawah tanah, membunuh dalam kegelapan. Kalau pun sekarang kamu bunuh aku di sini, assassin-assassin lain bakal dikirim ke rumahmu. Kamu nggak bakal bisa lolos, Riko Sanjaya. Namamu udah ada dalam daftar prioritas target yang harus kami lenyapkan,” ancam gadis itu tanpa rasa takut.


Zein, sang pemuda bersumbu pendek, sudah mulai merapal mantra untuk menghanguskan Lana. Akan tetapi lagi-lagi Riko mencegahnya.


“Lepasin anak ini,” ucap Riko membuat Zein tercengang-cengang.


“Rik, lo yang bener aja. Dia mau bunuh orang loh. Dia mau bunuh lo!” seru Zein histeris.


Riko bergeming. Keputusannya sudah bulat. “Kalau emang kayak gini cara main Rangga, aku juga punya cara sendiri buat hadapin dia. Menurut kalian mungkin naïf, tapi bagiku ini kekuatan. Setidaknya aku masih punya akal buat berpikir rasional. Nggak bertindak kayak hewan rendahan,” kecam pemuda itu tajam.


“Setelah ini mari kita buktikan saja. Sikapku yang naïf, atau cara busuk kalian yang bakal menang,” tutup Riko sembari mengedik pada Zein, memberi kode untuk melepaskan perempuan muda itu.


Zein terlihat ingin protes. Akan tetapi Riko benar-benar tak terbantahkan. Pada akhirnya pemuda penyihir itu pun kembali merapal mantra dan membuka penghalang sihir yang sudah dibuat olehnya bersama Jaka.


Lana menatap Riko dengan tajam sebelum akhirnya berbalik pergi dan kabur lewat jendela. Padahal apartemen Riko ada di lantai sebelas. Namun gadis assassin tersebut sepertinya tidak mengalami kesulitan berarti saat melompat dari sana dan mendarat di atap-atap bangunan lain. Riko memperhatikan gadis itu pergi hingga menghilang di sebuah atap ruko tak jauh dari sana.