
Setelah selesai membuat senjata baru untuk teman-temannya, Riko dan Sita pun keluar dari bengkel. Sesuai perhitungan Riko, waktu yang dia habiskan di dalam bengkel kurcacinya tepat tiga hari di dunia nyata. Kemunculan Riko disambut oleh undangan peresmian markas mereka.
Mona menunggunya di apartemen ketika Riko muncul bersama Sita. Sontak suasana canggung pun terjadi. Mona tampak memasang ekspresi yang sulit diterka, sementara Sita yang cukup sensitive pada perasaan perempuan pun turut menjadi tegang. Sayangnya Riko sama sekali tidak punya kepekaan terhadap hal semacam itu. Pemuda itu dengan santai mengantar Sita pulang ke rumahnya, lantas kembali ke apartemennya sendiri.
“Kamu udah baikan sama mantanmu?” sindir Mona ketus.
“Yah, begitulah. Kesalahpahaman udah dilurusin. Jadi nggak ada alasan buat berantem kayak dulu lagi,” sahut Riko sembari tersenyum puas membayangkan ekspresi teman-temannya ketika diberi senjata baru nanti.
Mona hanya mendengkus pelan menanggapi, sementara Zein hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Riko yang bebal itu.
“Bagus kamu hati-hati sama dia. Aku punya sumber informasi yang bilang katanya ketua guild Silverdeath punya mata-mata di apartemen ini,” ujar Mona memperingatkan.
Riko mendesah pelan. “Nggak mungkinlah Sita nglakuin itu. Lagian darimana kamu tahu kalau Sita kenal sama Rangga?” balas pemuda itu.
“Aku punya informan. Dari semua orang yang tinggal di gedung ini, cuma dia yang sering berkomunikasi sama ketua Guild Silverdeath itu,” tukas Mona.
Sejenak Riko teringat kejadian saat melihat panggilan masuk dari Rangga di ponsel Sita. Ia lantas mulai sedikit goyah dan hendak meragukan Sita. Namun, Riko langsung menepis pikiran itu jauh-jauh. Sita yang dia kenal bertahun-tahun bukanlah orang yang akan mengkhianatinya. Bahkan saat dulu mereka pacaran dan Rangga terus mengejar-ngejar Sita, gadis itu tetap bisa membuktikan kesetiaannya. Sita adalah tipe orang yang memilih bicara terus terang daripada menyembunyikan sesuatu.
“Itu mungkin si Rangganya aja yang masih suka kontak Sita. Aku kenal baik Sita dan menurutku dia nggak seperti yang kalian pikirin,” tandas Riko tetap pada pendapatnya.
Mona tampak semakin kesal. Gadis itu lantas menyambar tas tangannya lalu beranjak pergi. “Terserah kalau kamu emang nggak bisa dikasih tahu. Aku cuma memperingatkan karena tindakanmu itu bisa ngehancurin guild kita,” tukas Mona lantas berlalu pergi sembari membanting pintu apartemen.
Riko melongo selama beberapa saat. “Baru kali ini aku lihat Mona ngamuk. Kenapa dia marah-marah? Lagi PMS kah?” tanyanya kemudian.
Zein menghela napas tak sabar. “Rik, Rik. Lo itu pura-pura bego atau bego beneran sih. Serah lo dah,” sahut pemuda itu sambil lalu.
Riko mengerti kalau dua temannya itu khawatir pada hubungannya dengan orang di luar guild. Namun, menurut Riko kekhawatiran itu sama sekali tidak berdasar. Ia mengenal Sita jauh lebih lama sebelum bertemu dengan anak-anak guildnya. Karena itu Riko cukup mempercayai Sita. Akan tetapi, rupanya fakta itu tetap tidak bisa diterima oleh Mona atau pun Zein. Sepertinya Riko harus membuat mereka mempercayai Sita di masa depan.
Pemuda itu pun memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan masalah itu lagi. Besok ia harus ke kampus untuk bimbingan. Lalu setelahnya, acara peresmian markas guild baru mereka juga akan diadakan. Riko harus bersiap-siap untuk kesibukannya tersebut.