Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Perbaikan Skill



Riko akhinya dibolehkan pulang sehari kemudian. Hal yang dilakukan Riko begitu keluar dari rumah sakit adalah mencari Jaka. Namun tentunya hal itu tidak semudah yang dia bayangkan. Rasa marah dan kecewa di dalam hatinya sudah begitu memuncak, tetapi Jaka tidak bisa dia temukan.


Kosan Jaka sudah ditinggalkan sejak seminggu yang lalu. Sang pemilik kos berkata bahwa pemuda itu tidak memperpanjang sewanya di sana dan pindah tanpa berkata apa-apa. Lagi-lagi Riko harus menelan kekecewaan. Ponsel Jaka sudah tidak aktif. Ia tidak bisa dihubungi sama sekali seolah hilang ditelan bumi.


“Kita semua udah coba cari anak itu, Rik. Cuma ternyata kita kelolosan. Nggak nyangka kalau dia bakal ngelakuin ini ke lo. Gila emang tuh anak,” rutuk Zein sambil menyetir. Pemuda penyihir itulah yang menemani Riko mencari keberadaan Jaka yang hilang secara misterius.


“Emang brengsek si Rangga itu. Sebenarnya apa yang udah dia lakuin ke Jaka,” geram Riko masih menahan emosi.


Zein hanya menghela napas. “Sekarang gimana skillmu?” tanyanya kemudian.


Riko menggeleng pelan. “Belum kucoba. Habis ini mau kucek kalau udah sampai di apartemen,” ujarnya.


Perjalanan menembus kota pun akhirnya berakhir. Riko dan Zein sampai di apartemen mereka, disambut oleh anak-anak yang lain dengan sebuah pesta kecil-kecilan untuk menghibur Riko. Perasaan Riko pun sedikit membaik. Sejenak ia makan bersama dengan rekan-rekannya itu, lantas begitu pesta berakhir dan satu per satu temannya pergi, Riko pun akhirnya punya waktu untuk sendiri.


Pemuda itu meninggalkan Zein yang beristirahat di kamar tamu, sementara Riko berjalan ke ruang kosong untuk mencoba skill Weapon Masterynya. Ia tidak begitu terkejut ketika membuka fitur skill melalui sistem, dan mendapati bahwa kemampuan Weapon Mastery sudah kembali terkunci. Panel itu tidak aktif seperti skill yang belum terbuka sama sekali.


Riko berdecih marah. Meski begitu, ia mengingat pesan Fili untuk mengikuti perintah sistem demi membuka kembali skill tersebut. Maka, pemuda itu pun tetap memencet panel skill Weapon Mastery tersebut. Sekonyong-konyong sebuah pesan hologram transparan muncul di hadapannya. Riko membaca notifikasi sistem tersebut dengan cermat.


 


Skill: Weapon Mastery (tidak aktif)


Kerusakan terjadi pada sistem anda akibat serangan dari player lain. Skill Anda dibekukan untuk sementara waktu. Anda bisa membantu para kurcaci memperbaiki bengkel dengan mengumpulkan beberapa item berikut:


1000 Blue Magic Wood


2.000.000 Crystal


Serahkan seluruh item tersebut pada NPC di dungeon Snow Island agar dapat diberikan kepada para kurcaci.


Catatan:


-          Dungeon Snow Island hanya terbuka di waktu-waktu tertentu. Harap sesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan.


-          Waspadai skill Mirror Trace dari Assassin yang dapat menyabotasi skill lawan.


 


“Anjay, mahal bener dua juta kristal. Terus dimana coba aku bisa dapetin Wooden Board sama Blue Magic Wood?” gerutu Riko kesal. “Lagian kenapa baru sekarang sih dikasih tahu soal skill assassin itu,” lanjut pemuda itu terus merutuk.


Pada akhirnya, karena tidak punya pilihan lain, Riko pun memutuskan untuk segera memperbaiki skillnya dengan mengumpulkan bahan-bahan sesuai permintaan sistem. Termasuk mencari dungeon Snow Island dari internet.


“Anjay, Jepang. Harus gitu aku ke Jepang?” omelnya ketika menemukan lokasi yang dimaksud.


Riko terus menggerutu hingga keluar dari ruang kosong apartemennya. Pemuda itu masih menscroll pencariannya di internet ketika mendadak bel apartemennya berbunyi. Sepertinya ada tamu tak diundang yang datang.