
Tepat di hari kepindahan Riko, ketiga teman guildnya datang ke apartemen. Mereka membawa beberapa bingkisan dan mengucapkan selamat atas apartemen baru Riko. Gladys, sang archer yang pernah ikut dalam dungeon raid terakhir, turut datang bersama yang lainnya.
“Selamat, Riko, akhirnya kita udah punya guild sendiri. Dapet kantor baru juga,” ucap Zein gembira. Ia membawa satu pot kaktus berbunga merah jambu sebagai hadiah.
“Selamat buat kita semua,” sahut Rizal yang juga ikut gembira. Bingkisan buah-buahan segar dari Rizal sudah dibuka dan dimakan bersama-sama.
“Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya. Gladys, kamu beneran nggak mau ikut guild kita?” Jaka menimpali sembari menoleh pada gadis berambut pendek itu.
“Nggak ah, masih suka kerja sendiri. Bebas kapan mau nge-raid, kapan bisa istirahat. Kalian kalau missal mau dungeon kabarin gua aja. Siapa tahu gua bisa ikut,” celetuk Gladys sembari mencomot kue kering yang dia bawa sendiri. Entah untuk siapa sebenarnya dia membawa bingkisan kue kering itu.
“Kamu masih sibuk kuliah juga ya soalnya. Dasar maba,” goda Riko sembari tertawa ke arah Gladys.
“Yee … lu juga maba kali, Rik. Mahasiswa abadi.” Gladys balas terkikik geli.
Riko berpura-pura marah dan mendelik galak ke arah Glayds. “Awas kamu, ya,” ujarnya sembari mengacak-acak rambut gadis itu.
Meski baru sebentar berkenalan, tetapi hubungan mereka sudah cukup akrab. Riko merasa tim ini merupakan tim terbaiknya.
Mereka berempat terus bercanda dan berceloteh sepanjang malam. Ditemani rokok dan beberapa botol bir, pembicaraan mereka semakin seru dan tanpa terasa sudah lewat tengah malam.
Saat masih seru bercerita, mendadak bel pintu apartemen Riko berbunyi. Pemuda itu melirik jam di ponselnya. Sudah pukul 12.36. Siapa orang yang bertamu setelah lewat tengah malam itu? Dengan malas, RIko pun bangkit dari tempat duduknya di sofa ruang tamu.
“Bentar, ya. Aku cek dulu sapa yang datang,” ujar Riko sembari berjalan gontai ke arah pintu.
Ia sudah minum cukup banyak bir. Kini kepalanya terasa berat dan pandangannya jadi sedikit berputar-putar. Meski begitu Riko masih kuat untuk berjalan. Tanpa mengintip di lubang pintu, Riko langsung membuka begitu saja apartemennya.
Pemuda itu mendapati seorang gadis cantik bertubuh semampai berdiri di depan apartemennya. Meski sudah setengah mabuk, Riko merasa mengenali gadis itu. Ia mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. Dan benar saja, gadis yang berdiri di hadapannya itu tak lain dan tak bukan adalah Sita, mantan pacar Riko.
“Riko?!” pekik Sita tak kalah terkejut. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya dengan ekspresi bingung.
“Aku baru pindah ke sini. Kamu ngapain di sini?” RIko balas bertanya.
“Kamu? Pindah ke sini? Sama siapa?” tanya Sita tidak mengindahkan pertanyaan Riko.
“Ya pindah sendiri lah. Cuma lagi ada temen-temenku di dalam. Ngerayain kepindahan. Kenapa emangnya?”
“Nggak logis. Dapet duit dari mana kamu bisa tinggal di aparetemen ini? Kamu minta sama orang tuamu lagi?” selidik Sita tak percaya.
Riko menarik napas panjang untuk memulihkan kesadarannya yang sudah setengah kabur. Entah berapa botol bir sudah dia minum sampai kepalanya begitu berat dan membuatnya sulit berpikir.
“Aku? Aku … sekarang tinggal di apartemen sebelah. 1102,” sahut Sita sembari menunjuk ke arah pintu apartemen di depan Riko.
Riko menatap pintu bernomor 1102 itu lantas kembali melihat Sita dengan bingung. Terakhir kali ia tahu, Sita tinggal bersama kakaknya di kontrakan dekat kampus. Kenapa sekarang tiba-tiba SIta sudah pindah ke apartemen mewah? Memang berapa banyak gajinya sebagai karyawan kantor biasa?
“Kok kamu pindah nggak bilang-bilang? Kamu masih kerja di kantor yang dulu itu kan?” tanya Riko memastikan.
“Lah kenapa aku harus bilang sama kamu. Kita juga udah putus. Harusnya aku yang nanya. Kok bisa kamu pindah ke apartemen mewah gini? Emang kamu udah kerja?” sergah Sita tak mau kalah.
Riko menghela napas panjang sembari menyibakkan rambutnya yang berantakan. “Banyak hal terjadi setelah kita putus, Sit,” ujarnya kemudian.
Sita mendengkus pendek sembari melipat tangan. “Sebanyak-banyaknya hal yang terjadi nggak mungkin kamu bisa sewa apartemen mewah gini cuma dalam beberapa bulan. Kamu main judi? Apa gimana?” selidik Sita sembari menatap Riko dengan pandangan meremehkan.
Riko berdecak kesal. “Emang nggak pernah berubah kamu, Sit. Selalu ngremehin aku bisanya. Sia-sia kemarin aku kepikiran buat hubungi kamu lagi. Terserah kamu mau mikir gimana. Aku udah nggak mau peduli. Terus lagian kamu juga ngapain malem-malem datengin rumah orang?”
Sita tercekat sejenak. Gadis itu sepertinya tidak menyangka kalau Riko bisa marah juga padanya. Selama ini Riko selalu bersikap lembut dan mengalah. Namun sekarang Riko tampak begitu tegas dan dominan. Entah kenapa hal itu membuat Sita merasa sedikit tertegun.
“Eh … itu … aku cuma mau bilang, tolong jangan berisik. Suara dari dalam kamarmu kedengaran sampai ke tempatku,” ucapnya sedikit tergagap.
“Oh, itu. Sorry. Aku baru pindah jadi belum tahu kalau dinding apartemennya ternyata tipis. Nanti kami pelanin suaranya,” sahut Riko sembari memegang gagang pintunya, bersiap untuk kembali ke dalam. Kepalanya terlalu pusing untuk berurusan dengan sang mantan pacar. Riko sedang malas berdebat.
Di sisi lain, Sita justru mengamati Riko lekat-lekat. Sudah hampir dua bulan sejak terakhir kali mereka bertemu. Riko sepertinya sudah berubah. Selain auranya yang lebih kuat dan tegas, tubuh Riko juga tampak semakin tegap. Dadanya yang bidang kini dihiasi otot-otot liat proporsional. Sita tidak bisa menduga kenapa Riko bisa berubah sedrastis itu. Bahkan meski berada dalam keadaan mabuk, setengah sadar, RIko justru tampak lebih maskulin.
“Rik, ada siapa yang dateng? Kok lo lama banget di depan pintu?” Suara Gladys terdengar dari balik punggung Riko.
Riko menoleh dan mendapati gadis berambut pendek itu sudah berdiri di belakangnya dengan wajah penasaran. “Oh, ini, tetangga depan apartemen. Kita terlalu berisik ngobrolnya,” sahut Riko menjelaskan.
“Oh, sorry,” celetuk Gladys sembari meringis.
“Yaudah, kalau gitu. Kamu bisa balik ke kamarmu. Sorry karena udah ganggu. Next kita bakal lebih tenang,” ucap Riko beralih menatap Sita yang tampak terkejut melihat Gladys.
Akan tetapi Sita buru-buru mengembalikan kesadarannya. Ia lalu mengangguk pelan ke arah Riko. “O, oke. Kalau gitu aku balik dulu,” ucapnya lantas cepat-cepat masuk kembali ke kamarnya sendiri.
Riko menutup pintu dengan perasaan campur aduk. Bingung, heran dan malu. Bagaimana bisa dia pindah ke depan apartemen mantan pacarnya. Entah kenapa pemuda itu merasa masa depannya di tempat ini tidak akan bisa tenang.
“Lo kenapa. RIk? Jatuh cinta ya sama si penghuni kamar depan?” goda Gladys sembari menyikut lengan Riko.
Riko menghela napas pelan. “Nggak gitu … . Ah udahlah. Yuk balik aja gabung sama anak-anak,” ujarnya kemudian.