
Alhasil Riko mendaftarkan Guildnya dengan nama Forge Master. Seusai menyelesaikan urusan administrasi di Asosiasi Player, Riko pun beranjak untuk mencari tempat tinggal baru. Uangnya sudah cukup untuk menyewa satu rumah atau apartemen untuk dirinya sendiri.
Riko sudah membuat janji dengan beberapa pemilik rumah dan berencana untuk melihat-lihat tempat mereka hari ini. Riko datang ke rumah pertama, tetapi tidak berselera karena tempatnya tidak terlalu bersih. Rumah kedua juga terlalu sempit. Hanya memiliki satu kamar, dan lokasinya juga di dalam gang kecil.
Sampai di rumah ketiga dan keempat, Riko tetap belum merasa cocok. Ia harus mencari tempat yang nyaman karena selain untuk tempat tinggalnya, Riko juga ingin menjadikan tempat tersebut sebagai markas atau kantor guildnya. Meski bukan kantor permanen, tetapi setidaknya ia harus menghuni tempat yang nyaman dengan uang yang sudah dia dapatkan. Tempat itu juga harus luas dengan banyak ruangan, karena Riko ingin membuat studio latihan di salah satu ruangannya.
Setelah berputar-putar tanpa hasil, Riko pun tiba di pemberhentiannya terakhirnya hari itu. Sebuah apartemen mewah yang dibangun dua puluh satu lantai. Riko sedikit minder karena datang dengan kendaraan roda dua. Ia harus membeli mobil setelah ini.
Seorang sales wanita menyambutnya di lobby apartemen. Melihat penampilan Riko, sales itu terlihat sedikit terkejut. Meski begitu, wanita tersebut tetap bersikap professional dan ramah terhadap Riko. Itu menjadi nilai tambah bagi Riko, karena ia sama sekali tidak merasa direndahkan.
Sang sales membawa RIko ke kamar di lantai sebelas. Wanita itu menjelaskan bahwa setiap lantai memiliki dua kamar saja. Riko sendiri akan ditawari kamar nomor 1101, yang berhadapan dengan kamar 1102.
Tempat tersebut ternyata cukup luas, bersih dan nyaman. Seluruh furniture di dalam kamar juga lengkap dan berkualitas. Ada ruang tamu, dapur, ruang makan, serta tiga tempat tidur yang luas. Sebuah ruang rekreasi juga disediakan di bagian belakang, dekat dengan balkon yang menghadap ke sisi jalan raya.
Riko merasa tempat ini benar-benar sempurna. Seluruh sistem penjagaan mulai dari lobby, tempat parkir, hingga lingkungan apartemen ini sempurna. Tidak ada tetangga yang akan mengganggu juga karena biasanya orang-orang yang tinggal di apartemen adalah individu yang tidak terlalu suka bersosialisasi. Semua kondisi itu sesuai dengan yang diharapkan Riko.
“Untuk biaya sewanya empat juta lima ratus ribu sebulan. Kalau mau sewa setahun sekaligus akan ada potongan harga,” terang sales itu.
RIko menelan ludah dengan kelu. Pendapatannya setelah dungeon terakhir hanya bisa digunakan untuk membayar enam bulan saja. Itu pun sudah ditambah dengan bayaran dari Jaka yang senjata dan Armornya sudah ditempa oleh Riko. Meski awalnya Riko berniat untuk melakukannya dengan cuma-cuma, tetapi Jaka memaksa untuk membayar Riko.
Selain itu, dia juga sudah menjual beberapa material yang dia dapat dari membunuh monster naga. Material-material yang hanya bisa digunakan oleh kelas alkemis.
“Kalau saya sewa setengah tahun dulu apa dapet diskon?” tanya Riko ragu-ragu.
Sales wanita itu tersenyum bisnis. “Bisa saya kasih harga khusus untuk pelanggan pertama bulan ini,”ucapnya professional.
Riko menatap nanar m-bankingnya. Uang dua digit yang baru saja masuk ke rekeningnya kini kembali menipis lagi. Pemuda itu akhirnya menyewa apartemen nomor 1101 yang sangat disukainya itu. Sebagai gantinya, seluruh pendapatannya langsung ludes dan hanya menyisakan satu digit uang untuk hidupnya sehari-hari.
Meski begitu, Riko cukup puas. Ia sudah selesai melakukan pindahan. Hanya perlu satu hari untuk melakukannya karena barang dari kos sempitnya itu hanya sedikit. Kini, untuk pertama kalinya, Riko menikmati hidup di sebuah apartemen mewah yang nyaman.
Seluruh furniture sudah lengkap, jadi Riko tidak perlu menambah barang apa-apa lagi. Tempat tidur minimalis, ruang makan dengan meja kayu panjang yang simple tapi terkesan mewah, bahkan dapur dengan kompor otomatis yang canggih.
“Ya, halo,” sapa Riko setelah mengangkat telepon.
“Riko Sanjaya. Apa kabar? Akhir-akhir ini lagi jadi buah bibir, ya,” sebuah suara yang familiar terdengar dari balik panggilan tersebut Gamaliel Gunawan.
“Gama?” tanya Riko memastikan.
“Iya. Ini aku. Aku telpon karena dengar kabar buruk dari DIrga. Katanya kamu nggak mau gabung guildku ya?” tanya Gama tanpa tedeng aling-aling.
Riko menarik napas panjang. “Iya, Gam. Sorry. Tapi aku emang udah ada rencana sendiri. Kayak yang aku udah bilang ke Dirga kemarin.”
Gama ber-hmm sejenak, tampak berpikir. “Yah, aku juga udah mikirin tawaranmu, sih. Kalau emang itu keputusanmu, aku juga nggak bisa maksa. Tapi terus gimana kamu bisa dungeon raid kalau nggak gabung grup? Kamu tetep mau kerja sama perusahaan dan pemerintah? Kan jadi nggak bisa dapet apa-apa kalau kerja sama mereka. Semua hasil raid harus diserahin ke perusahaan.”
Riko menimbang-nimbang untuk memberi tahu Gama tentang Guildnya. Meski masih baru, tetapi sepertinya tidak apa-apa ketua Guild terbesar itu tahu. Mungkin Gama justru akan membantunya.
“Sebenernya aku bikin guild sendiri, Gam. Namanya Forging Master. Abis semua urusan administrasi selesai, nanti aku kirim surat penawaran kerjasama untuk pembuatan senjata dan equipmentnya,” ungkap Riko.
“Oya? Kamu bikin guild sendiri? Baguslah kalau gitu. Cuma hati-hati, guild baru akhir-akhir ini lagi diincar. Ada beberapa guild menengah yang suka ngerusuh. Aku nggak bisa bilang siapa. Tapi kamu tetep hati-hati aja.” Gama memperingatkan.
“Diincar? Kenapa?”
“Kayaknya persaingan antar guild. Guild-guild rangking menengah lagi gencar-gencarnya narik anggota biar bisa manjat rangking. Gitulah. Pokoknya kamu hati-hati aja. Oya, kalau gitu kapan aku bisa mulai order senjata nih? Bentar lagi anak-anak pada mau raid di dungeon level S, jadi aku butuh equip yang kuat.”
“Sekarang juga nggak apa-apa. Tapi kontrak kerjanya nyusul ya,” sahut Riko sembari meringis. Ia sudah keburu butuh uang.
“Oke. Nanti aku mampir ke tempatmulah. Sekalian lihat kantor baru,” jawab Gama setuju.
“Siap,” jawab Riko senang.
Pelanggan pertama sudah dia dapatkan. Dari sebuah guild terbesar saat ini. Riko tersenyum lega. Tampaknya segalanya lancar akhir-akhir ini. Apalagi nama Riko juga sedang banyak diperbincangkan karena baru saja berhasil menyelesaikan dungeon level tinggi. Saat ini, dungeon-dungeon yang muncul mulai diberi label menurut tingkat kesulitannya.
Hal itu dilakukan semenjak terjadinya kasus kematian di beberapa dungeon karena perbedaan level pemain. Riko kemarin beruntung karena dia mendapat akses dungeon level tinggi berkat bantuan Rhea, orang dalam. Kedepannya Riko harus bisa berusaha sendiri mendapatkan dungeon-dungeon level tinggi agar bisa memperoleh uang serta barang-barang bagus lainnya.