Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Kabar Gembira



Riko meninggalkan kediaman Gamaliel dengan bersungut-sungut. Sepanjang perjalanan pemuda itu menggerutu sampai-sampai Zein terus berupaya menghiburnya.


“Lah, siapa dia, ngelarang kita ikut Guild War. Kita juga kan Guild terdaftar,” rutuk Riko sepanjang perjalanan bermobil menuju apartemennya.


“Bukannya gitu, Rik. Gue ngerti kenapa dia nggak kasih kita ikut Guild War. Kita ini masih guild berkembang. Lo juga harus mikirin anak-anak yang lain dong. Gue tahu lo pasti gatel banget pengen langsung bisa berantem sama tuh orang. Tapi dengan SDM kita yang sekarang, bukan cuma berbahaya, nyawa taruhannya. Ini bukan di dalam game lagi yang kalau mati bisa revive. Mati yang mati aja. Koid. Langsung ketemu Yang Maha Kuasa,” tegas Zein berusaha menyadarkan Riko dari amarahnya.


Riko mendengkus kesal. “Padahal kemarin kamu yang paling getol buat nangkep mereka,” celetuknya sembari menatap ke arah jalan raya.


“Ya kan beda masalahnya. Kalau kita lewat jalur hukum kan nggak perlu mempertaruhkan nyawa.”


“Jelas-jelas dia berniat bunuh aku.”


Zein menghela napas panjang. “Juju raja deh, sebenarnya lo cuma pengen bisa berhadapan langsung sama si ketua guild Silverdeath itu kan? Rangga Sasmita. Lo maunya kalian bertanding secara langsung dan lo kalahin dia. Buat apa? Lo butuh pengakuan juga dari dia?” selorohnya tepat sasaran.


“Sok tahu kamu,” sahut Riko cepat. Pemuda itu tidak bisa mengelak lagi karena tebakan Zein memang benar. Itulah yang diinginkan Riko, menghadapi Rangga secara langsung dan mengalahkannya dengan telak.


Tidak ada kepuasan jika hanya menghancurkan orang itu secara perlahan. Riko ingin melukainya dengan tangan sendiri. Lalu menghancurkan guild yang dia bangun hingga tak bersisa.


“Nanti bakal ada waktunya lo ngadepin dia langsung. Tapi nggak sekarang, Rik. Lo juga tahu Silverdeath punya irregular. Assassin yang kemampuannya ngendaliin orang pakai bayangan. Shadow Chaser. Kita bukan cuma kalah kalau nekat ngelawan seluruh guild mereka sekarang. Forging Master bisa dihabisin,” pungkas Zein menutup pembicaraan mereka.


Pada akhirnya Riko menahan diri hingga sampai di apartemen. Ia harus menelan kemarahannya sendiri dan berhenti memikirkan tentang kesempatan yang mungkin akan terlewat begitu saja. Tanpa sadar waktunya untuk bertemu Mona sudah tiba.


Gadis itu datang dengan dandanan yang sangat cantik. Mona yang sehari-hari memang selalu tampil modis, kali ini tampak lebih berusaha terlihat cantik dibanding biasanya. Mendapati Riko yang sedang bermuram durja, Mona mencoba untuk mencairkan suasana. Gadis itu membawa Riko ke lokasi tempat guild mereka akan bermarkas.


Sebuah bangunan hotel tua berlantai tiga menyambut kedatangan Riko dan Mona di sebuah bukit pinggir pantai. Lokasinya memang sangat strategis dengan pemandangan pantai yang indah. Tempat itu punya halaman yang luas yang mungkin sebelumnya berupa taman dan area drop off menuju lobby hotel. Namun kini area taman sudah terbengkalai dan ditumbuhi rerumputan liar.


Meski begitu bangunannya sendiri masih bagus, berdiri dengan kokoh. Keduanya mencoba berjalan masuk. Secara keseluruhan, tempat itu tergolong bersih untuk ukuran bangunan yang tidak digunakan. Mona menjelaskan bahwa tetap ada pegawai yang selalu membersihkan tempat itu secara rutin. Bahkan di pintu masuk tadi seorang penjaga juga terlihat mengawasi kedatangan Riko dan Mona.


Riko melihat-lihat sejenak dan sepertinya tempat itu memang cocok dijadikan markas guildnya. Terlebih jika ia ingin punya banyak anggota. Ruangan-ruangan kamar yang tidak terpakai bisa dipugar menjadi tempat latihan yang luas. Mereka juga bisa berlatih di pinggir pantai kalau bosan berada di dalam ruangan.


Riko menarik napas panjang sembari mengamati lautan dari hall lantai dua. “Kayaknya aku emang terlalu emosional. Kesempatan buat ngehajar Rangga dengan tanganku sendiri bikin aku nggak sabaran,” ungkap pemuda itu sudah sedikit memahami ambisinya yang membabi buta tadi.


Mona berdiri di sebelahnya, tampak simpatik dan penuh perhatian. “Aku ngerti perasaanmu. Setelah apa yang orang itu lakukan samamu, wajar kalau kamu sampai semarah itu. Rhea juga cerita tentang masa lalu kalian pas masuk dungeon bareng. Ketua Guild Silverdeath itu berusaha bunuh kamu dan setelah ditolong dia justru ngaku-ngaku sebagai pahlawan. Orang kayak gitu emang nggak layak buat dibiarin.”


Ucapan gadis itu membuat Riko merasa lebih baik. Mona memang pandai menghibur. Riko merasa perasaannya divalidasi dan tidak serta merta disalahkan karena merasa marah.


“Makasih udah ngertiin,” kata Riko sembari menatap Mona dengan lembut.


Mona balas menatapnya lalu mengangguk pelan. “Jadi ketua itu nggak mudah, Rik. Karena harus mikirin banyak orang dan menahan diri untuk nggak bertindak sembarangan. Meski begitu, kami semua ada di pihakmu. Dan aku berjanji bakal wujudin apa pun harapanmu tentang guild ini. Akan ada waktunya ketika kita semua udah siap menghadapi Silverdeath, atau guild manapun yang mungkin mengancam kita,” pungkas Mona kemudian.


Riko akhirnya bisa tersenyum. Mona benar. Ia tidak boleh bertindak gegabah hanya karena masalahnya sendiri. Sekarang lebih baik ia fokus pada pengembangan guildnya dulu. Juga pengembangan kemampuannya. Jika ia dan seluruh rekannya di guild semakin kuat, maka mereka pasti bisa menghadapi tantangan apa pun yang menghadang.


Setelah selesai melakukan survey lokasi, Riko pun membawa Mona ke sebuah restoran pinggir pantai yang terkenal. Ia sudah melakukan reservasi sebelumnya, sesuai dengan janji mereka kemarin. Suasana menjadi lebih rileks setelah itu. Kemarahan Riko sudah mereda dan pembicaraan bisnis pun bergulir dengan santai.


Di tengah makan malam romantic tersebut, mendadak ponsel Riko berdering. Sebuah pesan masuk memanggil-manggil. Awalnya Riko tidak ingin menggubrisnya. Akan tetapi melihat nama pengirim yang tertera, atensi Riko pun terpancing: Pak Dibyo Dekan FISIP.


Sontak pemuda itu pun mengerutkan keningnya sembari menyambar ponsel. “Sorry, sebentar ya Mon,” ucapnya meminta izin pada Mona.


Gadis itu mengangguk pelan sembari menatap ponsel Riko dengan penasaran. Namun, Mona berusaha untuk tidak terlalu terlihat ikut campur. Ia hanya melirik diam-diam sambil berpura-pura mengiris steik daging sapinya.


Riko, sementara itu, sudah membuka pesan singkat dari Dekan fakultasnya.


“Riko, kapan kamu mulai bimbingan. Skripsimu udah di ACC sejak seminggu yang lalu tapi kamu nggak pernah datang ke kampus. Mau lulus nggak?” ketik Pak Dibyo dalam pesan singkat tersebut.


Mata Riko membulat. Sebelum membalas pesan dari Dekannya itu, Riko menyempatkan diri untuk mengecek di website kampusnya tentang daftar mahasiswa yang judul Skripsinya sudah di ACC. Dan benar saja, namanya sudah ada dalam daftar tersebut. Seketika, Riko merasa bimbang. Haruskah ia menyelesaikan kuliahnya atau fokus pada guildnya?