Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Sadar



Riko mendapati dirinya terbaring di dalam ruangan rumah sakit. Bukan ruang sembarangan karena bilik itu begitu luas dan dipenuhi perabot mewah. Di sampingnya, Gladys menggenggam tangan Riko sambil menangis sesenggukan. Mona juga duduk di sisi tempat tidur yang lain, sementara rekan-rekan guildnya yang lain duduk di sofa yang juga ada di bilik tersebut.


“Riko? Kamu udah sadar?” pekik Mona yang pertama kali menyadari bahwa Riko sudah membuka mata.


Pemuda itu mengerang pelan. Suaranya serak seolah sudah lama tidak berbicara. Tubuhnya juga sangat lemas dengan selang infus yang menempel di salah satu pergelangan tangannya.


Seruan Mona mengundang anak-anak lain di tempat itu untuk bangkit berdiri dan segera mengerumuni Riko. Gladys mendongak lantas menatap Riko dengan kedua matanya yang sembab dan penuh air mata. Mona juga bangkit berdiri dan mendekat ke arah tubuh Riko yang masih terkulai. Selain kedua gadis itu, masih ada Zein dan Rizal yang juga ada di sana. Jaka tidak tampak di mana-mana.


“Rik, akhirnya lo sadar? Gue panggil perawatnya dulu!” seru Zein lantas meluncur pergi melalui pintu geser otomatis.


“Gimana perasaanmu? Mau minum?” tanya Mona penuh perhatian.


“Iya, boleh. Di mana ini?” tanya Riko yang meski mengetahui bahwa tempat itu adalah bilik perawatan, tetapi tidak yakin bahwa ia pernah mendatangi rumah sakit tersebut.


“Medical Center untuk para player. Rumah Sakit ini milik Guild Holy Bible. Para priest yang menyembuhkanmu bilang kalau tubuhmu terluka karena serangan skill Assassin lain dari dalam tubuhmu,” terang Rizal yang notabene juga seorang priest.


“Kamu udah berada dalam keadaan vegetatif selama tiga hari penuh, Rik. Healernya bilang kamu mungkin nggak akan bangun lagi kalau sampai lewat lima hari nggak sadar,” tukas Mona sembari mengulurkan segelas air putih.


“Jaka di mana?” tanya Riko kemudian.


Mona dan Rizal pun saling berpandangan. Sementara itu Gladys yang sudah lebih tenang menjawab dengan suara bergetar. “Jaka. Si sialan itu kayaknya ngehianatin kita,” ujarnya sembari mengusap air mata. Satu tangan gadis itu masih menggenggam telapak tangan Riko.


Riko menghela napas dengan muram. “Jadi ada yang tahu nggak alasan Jaka ngelakuin itu?” tanya Riko kemudian, masih berharap kalau temannya itu berada di bawah ancaman hingga akhirnya terpaksa mengikuti kemauan Rangga.


Sayangnya, belum sampai ada yang sempat menjawab, seorang priest bertunik putih dan dua orang perawat dengan tunik yang mirip muncul dari balik pintu otomatis. Zein berjalan di belakang mereka dengan napas tersengal, seperti habis berlari.


“Syukurlah, akhirnya Anda sudah sadar. Saya akan memeriksa kondisi tubuh Anda sebentar,” ucap sang priest yang terlihat masih muda.


Rekan-rekan Riko yang sedari tadi mengerumun di sisi tempat tidur pun mundur untuk memberi celah pada priest tersebut memeriksa Riko. Kedua tangan priest itu teracung kedepan. Cahaya emas muncul dari telapak tangannya lantas melingkupi seluruh tubuh Riko. Rasa hangat yang nyaman menyapa pemuda itu. rasanya vitalitas Riko dipulihkan seketika.


“Saya sudah mengirimkan energi penyembuh. Sejauh ini, yang sudah kami lakukan adalah merawat tubuh Anda agar tidak melemah. Saya tahu bahwa kesadaran Anda terlempar ke dimensi sistem. Kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk memanggil kembali kesadaran Anda itu. Tapi syukurlah Anda akhirnya bisa menemukan jalan untuk kembali. Sekarang Anda hanya perlu memulihkan stamina saja lalu bisa pulang,” terang priest tersebut dengan ramah.


Semua orang di ruangan itu pun mendesah lega. Meski begitu, pikiran Riko masih bercabang. Selain tentang Jaka, Riko juga masih dihadapkan pada kemungkinan untuk tidak bisa menggunakan skill Weapon Masterynya.