Genesis: The Lucky Blacksmith

Genesis: The Lucky Blacksmith
Persiapan Perjalanan



Lewat jam makan malam, akhirnya target jumlah item yang dibutuhkan Riko pun tercapai. Pemuda itu keluar dari dungeon setelah berhasil mengumpulkan lima ribu Wooden Board. Ia lantas meluncur menuju markasnya yang terletak tak jauh dari sana.


Riko merasa sedikit tidak percaya karena akhirnya ia memiliki guild dengan markas sebesar itu. Saat memasuki area Lobby, beberapa anggota baru guildnya tampak berlalu lalang. Mereka mengangguk sopan pada Riko selaku ketua guild. Rasanya cukup menyenangkan mendapat perlakuan seperti itu. Meski kini Riko menjadi punya tanggung jawab yg lebih besar untuk melindungi seluruh guildnya tersebut.


“Baru datang jam segini, Rik? Kamu harus perhatikan kesehatanmu juga loh. Baru kemarin keluar dari rumah sakit,” sapa Mona yang ia temui ketika naik ke lantai dua, lorong kamar-kamar yang kini dialihfungsikan sebagai ruangan kerja beragam divisi.


“Aku udah baikan, kok,” sahut Riko ringan. Namun, melihat raut wajah Mona yang khawatir Riko pun menjadi sedikit merasa bersalah.


“Maaf karena udah bikin kalian khawatir. Aku juga lagi banyak pikiran makanya harus ngelakuin sesuatu biar nggak kepikiran terus,” lanjutnya beralasan.


Mona menarik napas panjang, sadar bahwa rekannya itu memang sudah mengalami banyak hal yang memicu stress. “Yaudah kalau gitu makan dulu aja. Ada catering buat anak-anak guild. Atau kamu mau pesan di luar?”


tanya Mona kemudian.


Riko menggeleng. “Aku makan yang ada aja,” tukasnya.


Mereka berdua pun berjalan menuju kantin. Seorang juru masak sudah dipekerjakan untuk menyiapkan makanan bagi para anggota guild yang tinggal di sana. Menu malam itu adalah sayur lodeh dengan ikan. Ditambah kerupuk.


Kantin itu masih dipenuhi beberap orang yang tengah mengobrol santai sehabis makan. Riko melihat Rizal dan Zein yang duduk di salah satu meja bersama beberapa anggota guild yang lain.


“Udah kelar, Rik?” tanya Zein ketika Riko dan Mona duduk bersama mereka.


“Beberapa baju aja. Kita dapet akomodasi juga kan. Tapi aku masih nggak kebayang, kita bisa nontonnya dari mana yah. Kan perang besar tuh sepulau,” ujar Rizal menanggapi.


“Katanya guild Minerva siapin tribun besar yang bisa terbang di udara. Para juri dan tamu undangan bisa lihat dari atas,” terang Mona yang selalu update informasi.


“Kayaknya bakal seru,” komentar Zein bersemangat.


Sementara itu Riko justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Dalam acara akbar besok, ia pasti akan bertemu dengan para assassin dari guild Silverdeath, termasuk Rangga. Selama ini Riko sudah mengalami berbagai kesulitan gara-gara mereka. Dan belum sekali pun ia punya kesempatan untuk membalas Rangga. Ingin rasanya Riko melakukannya saat pertemuan mereka besok. Kalau saja Forging Master bisa mengikuti Guild War itu.


“Jangan mikir aneh-aneh. Ada waktunya buat gencatan senjata nanti. Tapi jelas nggak sekarang, Rik,” kata Mona tiba-tiba. Gadis itu menatap Riko seolah bisa membaca pikirannya.


“Iya. Gue tahu lo pasti murka banget. Kita settle-in dulu guild kita. Perkuat diri dan lakukan persiapan matang buat serangan balik,”tandas Zein menambahkan.


“Kita semua sama marahnya sama kamu, Rik. Terutama soal Jaka. Sampai sekarang aku juga nggak nyangka dia bakal ngelakuin itu,” ucap Rizal yang selama beberapa waktu belakangan memang menjadi cukup dekat dengan Jaka.


Riko menarik napas panjang. Lagi-lagi ia telah membuat teman-temannya khawatir. Memang benar kata-kata mereka. RIko harus menjadi lebih kuat untuk membalas dendam. Kondisinya saat ini masih belum


cukup.