
Penerbangan selama kurang lebih sebelas jam dilalui oleh rombongan Riko. Mereka juga harus tiga kali transit sebelum akhirnya mendarat di bandara Karel Sadsuitubun Langgur. Dari sana, mereka masih harus menyeberangi perairan menuju sebuah pulau kecil tanpa nama yang sudah dipersiapkan sebagai tempat untuk melaksanakan guild war.
Perjalanan panjang itu cukup melelahkan. Meski begitu, Riko sama sekali tidak kehilangan niatnya untuk menemui Jaka maupun Rangga. Mereka membelah laut menggunakan kapal ferry yang sudah disewa secara khusus bagi rombongan para player. Dari kejauhan, pulau tempat guild war dilaksanakan tampak tidak berbeda jauh dengan pulau-pulau lainnya.
Bibir pantai dengan pasir putih membentang sepanjang beberapa kilometer. Di tengah pulau, tampak hutan lebat dengan pepohonan homogen yang rapat. Saat sudah nyaris dekat dengan pulau tersebut, Riko bisa melihat beberapa benda terbang serupa piringan-piringan logam yang sangat besar dan banyak di atas pulau. Piringan logam itu sepertinya merupakan tribun penonton untuk melihat kelangsungan guild war di bawah sana.
Begitu mendarat di bibir pantai, rombongan Riko segera disambut oleh seorang guide yang membawa mereka menerobos hutan. Setelah berjalan selama kurang lebih sepuluh menit, rombongan itu pun akhirnya sampai di sebuah bangunan raksasa tempat piringan-piringan terbang diparkirkan.
Dan benar saja, sebuah landasan super besar yang berisi beberapa benda logam pipih besar serupa tribun melingkar. Bentuk tribun itu setengah lingkaran dengan tempat duduk berundak yang semakin ke belakang semakin tinggi. Panjang piringan tersebut mungkin mencapai lima belas meter dengan kapasitas penumpang sekitar lima puluh orang. Riko dan rekan-rekannya pun dipandu untuk duduk di tempat yang masih kosong.
“Silakan menonton dari tempat ini. Guild war pertama akan diadakan setengah jam lagi, yaitu antara dua guild rangking Sembilan dan sepuluh: Mistycane dan Red Lotus. Jika Anda ingin turun dari tribun karena kelelahan atau sudah cukup puas menonton, Anda bisa memencet tombol di bawah tempat duduk. Petugas kami akan menjemput dan mengantar Anda ke bawah. Ada hotel khusus bagi tamu undangan di sisi bangunan ini,” terang pemandu pria berkumis tipis itu.
Riko mengangguk-angguk mengerti. Untuk sekarang, sebaiknya ia melihat-lihat situasi lebih dulu sebelum mulai mencari Jaka maupun Rangga. Mereka pasti akan bertemu nantinya.
“Guild lain yang belum bertarung pada nunggu di mana?” tanya Riko kemudian.
Riko mengangguk puas. Sebaiknya memang ia melihat suasana seluruh pulau dari atas lebih dahulu untuk melanjutkan rencananya. Ia dan rekan-rekannya pun akhirnya duduk di salah satu tempat duduk berundak
tribun terbang.
“Buat apa kamu nanyain guild lain?” tanya Mona begitu mereka sudah duduk. Intuisi gadis itu benar-benar sangat tajam.
“Ah, nggak, kok. Aku Cuma penasaran dimana Gamaliel sama Rhea nunggu. Siapa tahu kita bisa kasih salam ke mereka dulu sebelum mulai bertempur,” kilah Riko cepat-cepat.
Mona tampak tidak puas. Gadis itu masih menatap Riko dengan curiga. Namun, ia memutuskan untuk tidak berkomentar lebih lanjut karena kini piringan terbang mereka mulai melayang pelan. Suara deru mesin membuat
mereka tidak bisa bercakap-cakap untuk sementara. Angin sepoi-sepoi mulai menerpa wajah Riko dan membuat pemuda itu semakin bersemangat.