
3 menit kemudian, Alex keluar dari kamar mandi, lalu kembali ke ruang makan. Ia duduk di tempat nya, kemudian meminum minuman penutup.
Saat Nenek meminum minuman nya, Nenek tiba-tiba batuk dan mengeluarkan darah. Elizabeth, Elena, Alex, serta Varo, terkejut melihat Nenek. Mereka berempat berdiri dari tempat duduk nya, lalu mengangkat Nenek ke dalam mobil.
Elena tidak bisa mengobati Nenek di rumah karena dia tidak membawa peralatan nya.
Saat di perjalanan, Elizabeth dan Alex sedikit berdebat. Hal itu membuat Nenek tambah sakit.
"Setau ku minuman itu baik-baik saja. Apa kau menaruh sesuatu di minuman Nenek?" Tanya Elizabeth yang sedang memeluk Nenek.
"Kamu menuduh ku?" Tanya Alex kembali.
"Aku tidak menuduh mu, aku hanya bertanya" Jawab Elizabeth.
"Ya kau tidak menuduh ku, tapi nada bicara mu seolah-olah menuduh ku" Ucap Alex yang sedang menyetir.
"Sudah aku bilang, aku hanya bertanya!" Ucap Elizabeth dengan nada agak marah.
Alex menarik nafas nya dalam-dalam.
Jangan emosi Alex, jangan emosi. Dia hanya khawatir dengan keadaan Nenek. Nenek adalah satu-satunya keluarga yang dia punya. Dia tidak mau kehilangan Nenek. Tahan, jangan emosi. Batin Alex.
"Ka-kalian jangan bertengkar, Nenek tidak sanggup melihat nya. Uhuk, uhuk" Ucap Nenek dengan sedih.
"Kami tidak bertengkar Nek" Jawab Elizabeth.
Alex tidak menjawab, dia hanya diam saja.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Para perawat langsung membawa Nenek dan mengecek keadaan nya.
"Nenek pasti baik-baik saja" Ucap Elena yang berusaha menghibur Elizabeth.
Elizabeth menangis, lalu memeluk Elena. Elena yang kebingungan memeluk kembali Elizabeth. Elena melihat Alex, lalu memberi kode untuk menghibur nya. Alex menjawab Elena dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Varo mengajak Alex untuk berbicara di tempat lain. Varo ingin tau apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.
Alex menceritakan semua yang terjadi di dalam mobil.
"Jadi hanya seperti itu?" Tanya Varo yang hampir tertawa.
"Kamu tidak usah tertawa, ga lucu" Ucap Alex.
"Hahaha kamu cakapi saja luan dia, trus minta maaf walaupun ga salah. Nanti hati nya juga balek lagi kok" Ucap Varo.
"Ngomong mudah, melakukan nya yang sulit" Ucap Alex.
"Semua itu mudah, cepat lah" Ucap Varo.
"Ya sudah, ayo kembali" Jawab Alex.
Saat mereka kembali ke tempat semula, hanya Elena yang duduk di ruang tunggu, mereka tidak melihat Elizabeth.
"Mana Elizabeth?" Tanya Alex kepada adik nya.
"Di dalam, tadi Nenek menyuruh dokter untuk memanggil nya" Jawab Elena.
Di dalam ruangan.
"Nenek" Ucap Elizabeth dengan sedih.
"Nenek jangan tinggalin Elizabeth ya"
"Sayang, Nenek sudah tua, Nenek sudah tidak sanggup lagi"
"Permintaan Nenek hanya satu Nak, menikah lah dengan Alex, dia pria yang baik. Nenek minta tolong, kabulkan lah permintaan Nenek yang terakhir"
"Elizabeth akan menikah dengan Alex Nek, tapi Nenek jangan tinggalin Elizabeth ya?"
"Nek?"
"Panggil Alex" Ucap Nenek.
"Sebentar Nek"
Elizabeth berlari memanggil Alex.
"Iya Nek?" Tanya Alex.
"Nenek merestui hubungan kamu dan Elizabeth Nak, Nenek mohon kalian menikah lah. Tolong kabulkan permintaan Nenek yang terakhir. Kalian nantinya akan menjadi keluarga yang bahagia Nak"
"Alex akan menikahi Elizabeth Nek, Alex janji" Ucap Alex.
"Iya Nek, Elizabeth berjanji akan menikah dengan Alex" Ucap Elizabeth.
"Bagus, tepati janji kalian" Ucap Nenek dengan tersenyum, lalu menghembuskan nafas terakhir.
"Ne-nenek? Jangan tinggalkan Elizabeth Nek!" Ucap Elizabeth sambil menangis.
Alex berusaha menenangkan Elizabeth di dalam pelukan nya.
"Hiks, hiks, hiks, Nenek"
"Nenek sudah sehat, jangan menangis" Ucap Alex.
"Nenek, Alex Nenek, hiks, hiks, hiks"
"Jangan menangis sayang, cup, cup, cup"
Elena dan Varo beserta dokter masuk ke dalam ruangan untuk mengurus mayat Nenek.
Keesokan hari nya, Nenek di kubur di samping kuburan Kakek. Elizabeth benar-benar tidak menyangka Nenek akan pergi secepat itu.
Setelah pemakaman selesai, Elizabeth dan Alex kembali ke dalam rumah. Ada seseorang memberikan kertas tagihan kepada Elizabeth. Saat itu Elizabeth benar-benar tidak punya uang, ia mau berhutang, tapi Alex tidak memperbolehkan.
"Aku saja yang bayar" Ucap Alex.
"Ta-tapi kita bukan siapa-siapa" Ucap Elizabeth.
"Kita calon suami istri" Ucap Alex lalu memberi uang kepada orang itu.
Orang itu berterimakasih, lalu pergi.
"Terimakasih" Ucap Elizabeth.
"Kenapa berterimakasih? Bukan kah kau adalah istri ku?" Ucap Alex.
"Alex" Ucap Elizabeth dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan menangis lagi. Kita istirahat ya, kamu sudah lelah" Ucap Alex.
"Kita pulang?" Tanya Elizabeth.
"Iya, masalah ini akan di urus Elena dan Varo" Ucap Alex lalu menggendong Elizabeth.
Alex memasukkan Elizabeth ke dalam mobil. Alex duduk di tempat nya lalu menyetir dengan cepat.
Beberapa saat, mereka sampai di rumah.
Alex melihat Elizabeth sedang tertidur nyenyak. Ia keluar dari mobil, lalu menggendong Elizabeth ke dalam rumah. Ia meletakkan Elizabeth di atas ranjang dengan perlahan, lalu menyelimuti nya.
Alex mandi sebentar, setelah itu ia tidur di samping Elizabeth sambil memeluk Elizabeth.