
Setiap bangun pagi, Elena selalu di peluk oleh Arbecio. Ia sangat menyukai Arbecio yang memperlakukan dia dengan baik. Arbecio juga mengatakan kepadanya kalau mereka akan segera menikah.
"Sudah bangun sayang?" Tanya Arbecio kepada Elena.
"Em ya" Jawab Elena yang menunggu sebuah kecupan pagi di kening nya.
"Pagi sayang. Cup" Ucap Arbecio lalu mencium kening Elena.
"Pagi" Elena memeluk Arbecio dengan erat.
"Mau mandi sama?" Tanya Arbecio.
Elena menggeleng. "Belum bersedia" Jawab Elena.
Arbecio mengelus kepala Elena. "Tidak apa-apa, aku akan menunggu"
"Makasih sayang" Jawab Elena lalu mencium pipi Arbecio.
Arbecio turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia sangat senang karena Elena tidak mengingat apa-apa. Dengan begini, dia akan mudah untuk membalaskan dendam.
Belakangan ini kepala Elena terasa sakit, perasaan nya selalu tidak enak, seperti ada sesuatu yang salah. Elena bingung kenapa dia tidak mengingat Arbecio serta teman-teman nya. Lalu, sejak kapan dia tinggal di rumah yang begitu asing? Dia sebenarnya merasa curiga, tapi dia tidak menunjukkan kecurigaan nya.
Setelah mereka selesai mandi, Arbecio menggendong Elena turun dari lantai atas menuju ruang makan.
"Kamu sangat wangi" Ucap Elena saat di gendong.
"Asalkan kamu suka" Jawab nya.
Arbecio mendudukkan Elena di atas paha nya, kemudian ia mengambil sendok dan menyuapi Elena. Hal ini sudah sering terjadi saat pagi hari.
"Aku mau jalan-jalan, aku bosan di rumah" Ucap Elena.
"Kamu mau jalan-jalan kemana?"
"Terserah" Jawab Elena.
"Baiklah, aku akan membawa mu ke suatu tempat"
"Yeah" Ucap Elena dengan bahagia.
Ck wanita ini imut juga. Tapi sayang nya ini hanya sandiwara, sebentar lagi nasib nya akan sama seperti ibu ku Kylie. Hm sebelum kau masuk ke dalam penjara, aku akan memainkan mu sampai aku puas. Batin Arbecio.
Arbecio membawa Elena ke pantai. Suasana di pantai sekarang sangat ramai, banyak anak dan orangtua bermain bersama-sama sambil tertawa dan bercerita. Elena yang melihat hal itu hanya bisa ikut tersenyum.
"Mau main?" Tawar Arbecio kepada Elena.
Setelah beberapa lama mereka bermain, kepala Elena terasa sakit. Ia duduk sebentar dan memijat kepala nya, pikiran nya melayang entah kemana-mana.
Muncul di ingatan Elena kalau dia pernah pergi ke pantai bersama dengan keluarga dan seorang pria yang tidak di kenal nya. Pria itu memperlakukan dia dengan baik, pria itu bukan Arbecio, dia sama sekali tidak tahu siapa pria itu. Ia juga tidak tahu kalau mereka adalah keluarga, seingat nya dia tidak punya Ayah, Ibu, dan Kakak laki-laki.
Apa yang terjadi? Kepala ku sakit sekali. Siapa mereka? Ini sangat menakutkan. Batin Elena.
"El, elena? Kamu kenapa?" Tanya Arbecio khawatir.
"Sakit" Jawab Elena dengan suara kecil.
"Kita pulang ya?"
"I-iya"
Arbecio menggendong Elena ke dalam mobil, ia meletakkan Elena dengan lembut dan memasang sabuk pengaman Elena. Arbecio mengendarai mobil dengan cepat, ia khawatir sakit Elena akan bertambah.
15 menit kemudian, mereka sampai di rumah. Arbecio menggendong Elena ke dalam kamar dan memanggil dokter yang sudah menunggu mereka dari tadi. Dokter itu selalu berpikir kalau mereka adalah pasangan yang sangat cocok.
"Berikan obat ini kepada Nona Elena, sakit nya akan reda" Ucap dokter.
"Apa ingatan asli nya akan kembali?"
"Aku tidak tau. Mungkin suatu saat bisa kembali dengan sendirinya" Jawab dokter.
Arbecio menyuruh dokter untuk keluar. Ia duduk di samping Elena yang sedang tertidur. Ia mengelus kepala Elena dengan lembut dan mencium kening nya.
"Kalau nanti ingatan mu sudah pulih, aku sebaiknya membunuh mu saja. Terimakasih karena sudah bersedia bermain bersama ku. Aku akan membuat keluarga mu dan calon suami mu kecewa melihat diri mu"
Di tempat lain
Alvaro tetap tenang mencari keberadaan Elena, ia benar-benar yakin kalau Elena baik-baik saja.
"Tuan, kemana kita akan pergi selanjutnya?" Tanya asisten Varo.
"Ke sini"
"Baik Tuan"
Elena, ini adalah tempat terakhir, semoga kami menemukan mu di tempat ini.
Alvaro sudah sangat lelah mencari Elena kemana-mana. Jika Tuhan berkehendak, semoga mereka menemukan Elena di tempat yang akan mereka kunjungi.