EdBell

EdBell
Bab 51



"Kamu sayang cantik sayang" Ucap Arbecio sambil mengelus wajah Elena.


Elena membalas ucapan Arbecio dengan senyuman.


"Pakaian ini sangat mengganggu, mau di bukakan atau buka sendiri?" Tanya Arbecio dengan wajah mesum nya.


Elena sebenarnya merasa jijik, ia ingin sekali menampar dan memukuli Arbecio sampai mati.


"Aku buka sendiri saja" Jawab Elena.


Perlahan Elena mulai membuka pakaian nya. Ia mencubit dirinya sendiri agar tidak menangis. Kesucian nya akan di ambil oleh orang lain, sungguh sangat menyedihkan bagi nya.


Arbecio yang terpesona melihat tubuh Elena, merasa tidak tahan lagi. Ia membuka celana nya lalu membaringkan Elena di atas ranjang.


Jantung Elena berdetak dengan kencang. Untung menghilangkan ketakutan nya, ia menutup kedua matanya.


Tidak apa Elena, semua ini akan berlalu. Batin Elena.


Saat Arbecio mau menyatukan miliknya dan Elena, tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu dan menembak ke arah Arbecio. Hal ini tentu saja membuat Elena dan Arbecio terkejut.


Elena yang penasaran kini membuka kedua matanya. Ia mengambil selimut yang ada di atas ranjang, kemudian menutupi tubuh nya dengan selimut itu. Elena sangat bahagia karena dia dan Arbecio tidak jadi melakukan hubungan itu.


Sebelum Arbecio membalas tembakan orang itu, ia memakai celana terlebih dahulu. Kemudian ia memanggil pengawal nya dan mengeluarkan pistol.


Tapi semuanya sudah terlambat, orang tersebut sudah terlebih dahulu menghabisi semua pengawal Arbecio.


Dor


Arbecio menembak orang tersebut.


"Meleset" Ucap orang tersebut, yang tak lain adalah Alvaro.


"Va-varo?" Ucap Elena dengan suara kecil.


Deg, deg, deg


Jantung Elena berdetak dengan kencang, ia tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini.


Dor, dor, dor


Alvaro dan Arbecio saling tembak-menembak. Alvaro sangat pintar untuk menghindar, tidak seperti Arbecio. Arbecio selalu terkena peluru yang di tembak oleh Varo.


"Ahk! Sial!" Ucap Arbecio.


"Jika kau masih berani menembak, aku akan membunuh wanita ini!" Ancam Arbecio yang kini mengarahkan pistolnya kepada Elena.


Elena tertawa, ia menatap tajam Arbecio. Perlahan Elena berdiri dan mendekati Arbecio.


"Diam disana!" Tegas Arbecio kepada Elena.


Elena tidak mendengarkan Arbecio, ia tetap berjalan ke arah Arbecio dengan tatapan tajam.


Elena yang memakai selimut, merasa sangat susah untuk menyerang Arbecio. Saat Elena membuka selimutnya, Varo sangat sangat terkejut dan tidak percaya, sedangkan Arbecio malah tersenyum mesum.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alvaro kepada Elena.


"Cih lihat lah, calon istri mu tergoda kepada ku" Ucap Arbecio dengan percaya diri.


"Elena!"


Plak


Elena menampar Arbecio dengan sangat kuat. Ketika Arbecio memegang pipinya, Elena mengambil kesempatan untuk merebut pistol dari tangan Arbecio. Kemudian Elena menembak tangan dan kaki Arbecio.


Kini Arbecio berbaring di atas lantai dengan di penuhi banyak darah. Ia tidak bisa lagi menggerakkan tangan dan kakinya. Ia benar-benar ingin membunuh Elena pada saat itu.


"Sialan!!!!" Teriak Arbecio.


Dor


Karena sudah emosi, Varo menembak kepala Arbecio. Beberapa saat kemudian Arbecio meninggal.


Elena terduduk di atas lantai tanpa mengenakan apapun. Badan nya sangat lemas, banyak luka-luka di tubuh nya.


Alvaro membuka jaket nya lalu memakaikan kepada Elena.


"K-kak" Panggil Elena dengan suara lemas.


"Jangan takut, kita pulang sekarang" Ucap Alvaro.


Sampai di tempat


Para pengawal dan asisten Varo terkejut saat Varo menggendong seorang wanita. Mereka melihat dengan teliti bahwa wanita itu adalah Nona Elena. Mereka merasa bersalah karena membiarkan Varo mencari Nona Elena sendirian.


Varo membawa Elena ke kamar nya. Ia meletakkan Elena di atas ranjang lalu membuka jaket yang di kenakan Elena.


"Aku akan mengobati luka mu, tapi sebaiknya kamu mandi terlebih dahulu" Ucap Varo


"Elena lapar" Ucap Elena dengan mata berkaca-kaca


"Iya Kakak tau. Kamu Kakak mandikan dulu, setelah itu kamu makan lalu kakak mengobati kamu. Ya?"


Elena mengangguk. "Tapi mandinya jangan lama"


"Iya"


Varo menggendong Elena ke dalam kamar mandi. Ia memasukkan Elena ke dalam bathtub lalu ia memandikan Elena.


Beberapa saat kemudian Elena sudah selesai mandi. Varo membalut tubuh Elena dengan handuk, kemudian ia menggendong Elena ke atas ranjang.


Varo mengambil nasi serta ikan untuk di makan oleh Elena. Varo tidak tega membiarkan Elena makan sendiri, ia menyuapi Elena dengan penuh kasih sayang. Elena sudah begitu haus, ia meminta minum dari Varo lalu meminum air satu gelas sekaligus.


"Kamu kurusan" Ucap Varo sambil menyuapi Elena


"Elena ga di kasih makan sama minum Kak" Jawab Elena dengan raut wajah sedih


"Maaf Elena, Kakak datang terlambat" Ucap Varo


"Ga kok Kak, Kakak datang di waktu yang tepat"


"Benarkah? Trus yang tadi?"


"Elena ga lakuin itu sama dia Kak. Tadi hampir terjadi, tapi Kakak datang nya tepat waktu" Ucap Elena meyakinkan Varo


"Kalo Kakak ga percaya, Kakak bisa cek kok"


"Kakak percaya. Sudahlah jangan di bahas lagi, cepetan makan, biar Kakak oles obat nya"


Beberapa saat setelah selesai makan.


"Kamu ga malu di oles sama Kakak?" Tanya Varo yang sedang mengoles obat ke tubuh Elena


"Em disini tidak ada perempuan Kak, Mama juga tidak ada disini. Lagian Kakak juga calon suami Elena. Sebenarnya Elena malu, tapi ya begitu lah"


"Sakit?" Tanya Varo


"Pe-perih, rasanya nyawa Elena sudah akan berakhir"


"Kamu ngomong apa? Papa, Mama, Alex, dan Kakak nyariin kamu dengan susah payah. Jangan mati dulu"


"Ya ga gitu juga Kak. Tapi apa nanti waktu Elena kembali, Mama sama Papa akan marah sama Elena?"


"Ga ada yang marah, mereka akan senang karena kamu masih hidup"


"Kakak!!"


"Sudah selesai. Kamu pakai baju ini, setelah itu istirahat"


"Apa Kakak tidak punya bra?"


"Ti-tidak, pakai lah yang ada"


"Tapi Elena kesusahan memakainya Kak"


Varo mengenal nafas kemudian memakaikan pakaian Elena.


"Terimakasih Kakak"


"Yasudah istirahat sana"


"E-elena tidak mau sendiri Kak. Setidaknya Kakak nemani Elena sampai tertidur nyenyak"


"Baik lah"


Varo naik ke atas ranjang lalu memeluk Elena. Ia mengelus-elus kepala Elena sampai Elena tertidur dengan nyenyak.


Akhirnya aku menemukan mu Elena. Ini semua salah ku, aku ceroboh dalam menjaga mu. Mulai sekarang aku akan menjaga kamu dengan baik. Batin Alvaro.