EdBell

EdBell
Bab 38 - EdBell



Varo sudah memimpin perusahaan selama satu bulan. Tidak ada masalah sama sekali, perusahaan malah semakin lancar dan semakin baik. Mereka terkejut melihat Varo bisa memimpin perusahaan dengan baik, padahal Varo masih kecil. Kalau Edbert sama sekali tidak terkejut, soalnya tekat Varo sangat besar, memang kadang Varo menanyakan beberapa hal kepada Edbert, tapi bagi Edbert itu sangat luar biasa.


Suatu saat perusahaan mengalami kerugian besar. Mereka semua khawatir karena perusahaan akan bangkrut. Varo menyuruh mereka untuk tenang dan mengerjakan apa yang di katakan oleh Varo. Sebelumnya banyak yang tidak setuju dengan ide Varo, tapi karena Edbert sudah berkata untuk melaksanakan, maka mereka akan melaksanakannya.


Setelah 2 Minggu, perusahaan kembali seperti semula. Mereka berterimakasih kepada Varo, mereka meminta maaf karena telah meremehkan ide-ide Varo. Tapi meskipun begitu, Varo tetap rendah hati, ia malah membawa nama Edbert, soalnya kalau Edbert tidak ada, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa.


"Sudah siap untuk mendirikan perusahaan sendiri?" Tanya Edbert kepada Alvaro.


"Varo siap!" Jawab Varo dengan yakin.


"Bagaimana Bella?" Tanya Edbert.


"Boleh saja. Tapi Varo harus tetap sekolah, tidak boleh memberitahu orang lain tentang perusahaan yang kamu punya, tidak boleh sombong. Mama ga suka kalau kamu nantinya jadi sombong"


"Varo ngerti Ma"


"Sebentar lagi kamu kan sudah sekolah, jadi Papa harap kamu ingat pesan Papa. Kalau ada orang yang merendahkan kamu, kamu biarkan aja, jangan lawan, gadak gunanya kamu merendahkan orang itu kembali. Kalau ada orang yang mau ngajak kamu berkelahi, hindari aja. Pokoknya jangan mau di ajak untuk melakukan hal jahat, tidak usah mendengarkan omongan orang tentang diri kita. Ingat ya, mereka hanya tau nama kita, bukan kepribadian kita"


"Iya Pa, Varo akan ingat pesan Mama dan Papa"


2 tahun kemudian


Bella dan Edbert mempunyai satu anak lagi, berjenis kelamin perempuan. Sekarang mereka sudah mempunyai sepasang anak. Varo sangat senang akhirnya dia mempunyai adik cewek. Yah sebenarnya Varo tidak menyebutnya adik, melainkan istri.


"Dua anak cukup kan Bel? Atau masih perlu di tambah?" Tanya Edbert.


"Udah dulu Bert, nanti lagi"


"Kalau kamu mau tambah, kamu tinggal bilang saja sama saya. Saya selalu siap untuk melakukan nya"


"Iiii kamu suka banget sih ngelakuin itu-itu" Ucap Bella sambil mencubit pipi Edbert.


"Aduh, aduh sakit Bell"


Bella melepas cubitan nya.


"Bukan nya kamu juga semangat untuk melakukan nya?" Tanya Edbert sambil membaringkan Bella ke atas ranjang.


"Kan kamu yang memulai nya sayang"


Kini posisi Edbert dan Bella saling berhadapan. Perlahan Edbert mendekatkan wajah nya ke wajah Bella.


"Karena kamu menggoda saya"


Cup


Edbert mencium bibir lembut Bella. Bella membuka mulut nya dan membalas Edbert. Mereka saling menikmati satu sama lain.


"Tyler" Ucap Edbert sambil menyerahkan ponsel Bella.


"Bentar aku angkat dulu"


"Halo Bella" Ucap Tyler dari seberang sana.


"Halo. Apa kabar?"


"Kami baik, bagaimana dengan kalian disana?"


"Baik juga"


"Anak-anak kamu lucu ya Bell, jadi pengen main ke sana" Ucap Tyler.


"Anak kamu juga lucu kok, aku juga pengen main ke sana, tapi kondisi masih begini"


"Hahaha iya lah. Ngomong-ngomong kami sudah pesan tiket, kemungkinan besok kami sudah sampai di rumah mu" Ucap Tyler mengejutkan Bella.


"Apa?! Kok ga bilang sih Tyler!? Kamu sama aja ya kayak Bunda dan Ayah datang secara tiba-tiba. Tapi yasudah lah tidak apa-apa, rumah ini selalu terbuka untuk kalian"


Setelah lama berbincang-bincang di telepon, akhirnya Tyler mengakhiri percakapan mereka. Bella menyimpan ponsel nya dan kembali duduk ke atas ranjang.


"Mereka mau datang ya?" Tanya Edbert.


"Iya nih, gapapa kan?"


"Gapapa sayang, tamu itu adalah raja"


"Kitanya kapan ke Rusia?"


"Besok" Jawab Edbert.


"Ih kamu ga pernah serius, malas deh"


"Saya serius saat melakukan hal penting, contoh nya seperti tadi" Ucap Edbert yang membuat Bella malu.


"Ahk apaan sih Bert"


"Masih malu? Padahal saya sudah sering lihat semuanya"


"Ahk kamu!"


Bella mengambil bantal dan memukulkan nya kepada Edbert. Edbert yang tidak mau kalah juga mengambil bantal dan menyerang Bella. Akhirnya mereka melakukan perang bantal.