EdBell

EdBell
Bab 21 - EdBell



Perlahan pekerjaan Edbert mulai selesai. Rencananya setelah semua pekerjaan nya selesai, ia akan menyusul Bella ke Rusia. Sudah 2 Minggu lebih mereka tidak berjumpa, saling kabar-kabaran juga jarang, di karenakan sibuk satu sama lain.


"Permisi, maaf mengganggu waktu Anda Tuan. Barusan saya mendapat telepon dari Tuan besar, katanya nanti sepulang kerja, anda pulang ke kediaman, ada hal yang mau di bicarakan" Ucap asisten pribadi Edbert.


"Kenapa tidak langsung menghubungi saya?"


"Kata Tuan besar ponsel anda tidak aktif"


Edbert mengecek ponsel nya. Ia menghela nafas, ia lupa bahwa ia sedang mematikan ponsel nya. Biasanya saat di jam kerja Edbert selalu mematikan ponsel nya. Tidak akan ada yang menghubunginya kecuali istri tercinta.


"Baiklah"


Setelah pulang kerja, Edbert mampir ke toko roti untuk membeli roti kesukaan Papi dan Mami nya. Sudah lama ia tidak membawa roti untuk kedua orang tua nya, mungkin hari terakhir dia membawa roti adalah waktu hari ulang tahun Mami nya.


Sampai di kediaman, Edbert sempat heran karena ada mobil asing parkir di halaman nya. Mobil itu tidak kalah mewah dengan mobil nya, mungkin saja itu adalah mobil teman Papi nya.


"Selamat datang Tuan" Sambut para asisten rumah itu


"Maaf atas keterlambatan saya" Ucap Edbert kepada kedua orangtuanya


"Kamu tepat waktu" Jawab Papi


Edbert duduk lalu melihat orang asing yang duduk di depan dan di samping nya. Mereka ada tiga orang. Dua orang adalah orang tua dari wanita yang di bawa mereka. Jadi bisa di simpulkan bahwa mereka adalah Ayah, Ibu, dan anak.


Sejak kedua orangtua Edbert dan kedua orangtua wanita itu bicara, wanita asing itu selalu melihati Edbert secara diam-diam. Jujur saja Edbert sangat risih dengan tatapan itu, ia ingin sekali mencaci-maki wanita itu sekarang juga.


"Ehem" Edbert menarik perhatian Papi nya


"Ada urusan apa Papi memanggil saya?" Tanya Edbert


Saat Edbert ngomong, wanita itu selalu melihati nya secara diam-diam dan kadang senyum-senyum sendiri.


Edbert yang memerhatikan hal itu hanya bisa sabar. Ia berharap bisa cepat-cepat keluar dari kediaman itu.


"Papi akan membahas tentang kerjasama perusahaan kita dan paman ini"


Saat mendengar ucapan Papi nya, Edbert mulai serius untuk mendengarkan. Ia sangat senang bisa bekerja sama dengan perusahaan orang asing itu, tapi ia khawatir hal buruk akan terjadi. Bukan hal buruk pada perusahaan, tapi kepada wanita asing itu. Edbert takut wanita itu akan merusak hubungan nya dan Bella.


Beberapa saat kemudian, Papi sudah selesai membahas kerjasama antar perusahaan. Edbert pamit keluar untuk menghirup udara segar, sekalian untuk menghindari wanita asing itu. Tapi siapa sangka, wanita itu mengikuti Edbert secara diam-diam dan tiba-tiba memeluk Edbert dari belakang.


"Jangan menyentuh ku!" Bentak Edbert


"A-aku minta maaf kakak. Aku melakukan ini karena aku menyukai mu" Ucap wanita itu sok lembut.


"Cih! Sebaiknya kamu masuk saja. Jangan mengganggu ku!" Bentak Edbert


Wanita itu menundukkan kepalanya, perlahan ia mengeluarkan air mata dan menangis.


"Hiks"


Edbert yang mendengar suara itu langsung membalikkan badan nya menghadap wanita itu.


Ini adalah kesempatan wanita itu, jadi dia langsung memeluk Edbert dengan erat dan menangis di tubuh Edbert.


Wanita sialan! Batin Edbert


"Aku sudah lama mencari mu. Tolong terimalah aku dan anak kita. Tidak mau kah kamu bertemu dengan anak kita dan menikahi ku untuk bertanggung jawab? Aku mohon" Wanita itu memohon sambil menangis


"Kamu salah orang, saya tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun kecuali istri saya" Jawab Edbert dengan datar dan dingin


Wanita itu semakin erat memeluk Edbert.


"Apa kamu sudah lupa? Kamu kemarin mabuk dan memaksa ku untuk melakukan hubungan terlarang. Saat aku tahu aku hamil, aku ingin aborsi, tapi kata dokter kalau aku aborsi, maka aku tidak akan punya anak lagi. Aku mohon, menikah lah dengan ku. Aku rela jadi istri kedua, asalkan anak ku bisa berkumpul kembali bersama Ayah nya"


Edbert sungguh tidak percaya kepada wanita itu. Seingat nya ia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun.


"Bawa aku besok menemui anak itu. Aku tidak percaya kepada omongan yang tidak mempunyai bukti" Tegas Edbert.


Wanita itu melepas pelukan nya dan menghapus air mata nya.


"Terimakasih, saya sangat berterimakasih" Ucap wanita itu sambil menundukkan kepalanya


Kedua orangtua wanita itu menghampiri Edbert dan putri nya, lalu ia mengajak putri nya untuk pulang dan tidak lupa berpamitan kepada Edbert.


Setelah mereka pergi jauh, Edbert kembali masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah saat aneh, seperti di penuhi hawa dingin.


"Duduk!" Ucap Papi dengan tegas


Edbert sudah tahu apa yang akan di bicarakan oleh Papi nya.


"Dengar dulu penjelasan saya. Saya tidak pernah melakukan hubungan terlarang kepada siapapun! Kalau pun saya pernah, saya akan langsung mencari wanita itu dan bertanggung jawab!" Ucap Edbert


"Lalu wanita itu siapa Edbert?! Siapa?!!" Bentak Papi


Mami yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam. Ia tidak mau memihak kepada siapapun. Misalnya kalau Bella berada di tempat itu, apa yang akan terjadi? Mami selalu memikirkan perasaan Bella, ia sama sekali tidak mau kalau Bella nanti di duakan oleh Edbert.


"Saya tidak tahu Pa! Tadi saya sudah menyuruh dia untuk membawa saya besok menemui anak itu"


"Sialan! Jika besok anak itu adalah anak mu, apa yang akan kau lakukan?!"


"Aku..." Edbert tidak tau mau menjawab apa


"Anak bodoh! Apa kau tidak memikirkan perasaan Bella dan keluarga nya?! Bagaimana jika mereka mengetahui hal ini?! Mau dimana di taruh muka Papi Nak, mau dimana?!"


"Maaf Pi, saya juga tidak tau apa yang harus saya lakukan, tapi saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Jika itu adalah anak ku, maka saya akan meminta maaf kepada Bella dan kedua orangtua nya. Saya sudah siap menerima semua nya"


"Baik! Itu adalah urusan kamu! Papi dan Mami tidak mau ikut campur. Urus saja urusan mu sendiri!"


"Ya saya tahu. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, Pi, Mi"


Dengan cepat Edbert meninggalkan kediaman. Setelah sampai di rumah nya, ia langsung mandi dan menenangkan pikiran nya.


Bagaimana kalau anak itu adalah Edbert? Apa Bella dan orang tuanya akan membenci diri nya? Apa Bella akan meminta cerai atau hal lain semacam nya? Sungguh, Edbert tidak bisa memprediksi apa yang akan di katakan Bella nanti nya.


Tapi di hati Edbert, ia sungguh mencintai Bella. Tidak ada yang bisa menggantikan Bella, bahkan wanita itu sekalipun. Edbert hanya bisa berharap semoga anak itu bukan anak nya.