
Sudah tiba waktu nya untuk melihat anak itu dan melakukan tes DNA. Wajah Edbert terlihat santai dan tenang, tapi jantung nya berdetak sangat kencang. Ia sangat takut hal-hal buruk akan terjadi di kehidupan nya.
Saat Edbert melihat anak itu, ia sangat terkejut. Anak itu sangat mirip dengan dia, tapi walaupun begitu, Edbert harus melakukan tes DNA juga.
"Mama apa dia Papa Alvaro?" Tanya anak itu saat berada di mobil
"Kamu akan tahu nanti sayang" Jawab wanita itu.
Edbert duduk di depan, sedangkan wanita itu dan anak nya duduk di kursi belakang.
Saat sampai di rumah sakit, Edbert langsung menyuruh dokter untuk melakukan tes DNA. Ini lah hal yang paling di takutkan Edbert.
Beberapa saat kemudian hasil tes DNA sudah keluar. Persis seperti tadi, wajah Edbert terlihat tenang, tapi jantung nya berdetak dengan sangat kencang.
"Ini hasil nya Tuan" Ucap dokter itu sambil memberikan selembar kertas kepada Edbert.
Edbert yang melihat kertas itu sungguh terkejut dan tidak percaya. Kenapa bisa anak itu adalah anak nya?! Seingat nya dia tidak pernah melakukan hubungan apa-apa kepada wanita lain.
Edbert melihat anak itu lalu menggendong nya keluar. Wanita itu mengikuti Edbert dan anak nya dari belakang, ia sangat senang akhirnya dia bisa mendapatkan Edbert kembali.
"Papa" Panggil anak itu.
Dengan terpaksa Edbert harus menerima keberadaan anak dan wanita itu.
Edbert membawa wanita itu dan Alvaro ke kediaman Edric. Ia memberitahu kedua orang tua nya dengan menjelaskan secara perlahan. Mami Edbert terkejut, jantung nya berdetak kencang, ia sungguh tidak percaya atas apa yang di dengar nya. Sedangkan Papi menunjukkan wajah datar nya, dia sama sekali tidak percaya kepada wanita dan anak laki-laki nya itu. Papi berusaha berakting untuk menerima wanita dan anak laki-laki itu.
"Kamu cucu saya?" Tanya Papi dengan sopan
Alvaro hanya diam, ia takut sehingga memeluk erat wanita yang ada di samping nya.
"Tidak apa-apa Nak. Dia kakek kamu"
"Kakek?"
"Ya saya kakek kamu. Sini sama kakek" Tawar Papi
Perlahan Alvaro jalan ke arah Papi. Papi mengangkat Alvaro kemudian mendudukkan Alvaro di atas paha nya.
"Siapa nama kamu?"
"Al-alvaro" Jawab nya
"Dah berapa tahun kamu?"
"2 menjelang 3" Jawab nya
Mami yang melihat Papi berbicara dengan Alvaro sangat tidak suka. Kenapa Papi sangat mudah menerima orang asing masuk ke dalam keluarga mereka? Bagaimana nanti dengan Bella? Apa mereka tidak memikirkan perasaan Bella?!
"Ehem"
Papi menoleh ke Mami, ia tau maksud dari istri nya itu.
"Alvaro turun ya, sama Mama kamu dulu"
"Iya Kek"
"Saya mau ngomong sama wanita dan anak ini. Kalian berdua tolong pergi lah!" Ucap Mami dengan tegas kepada Edbert dan Papi
Papi langsung bergegas pergi dari tempat itu sambil menarik Edbert. Papi dan Edbert pergi ke taman belakang, Edbert tau tujuan Papi nya, pasti ada hal penting yang mau di bicarakan.
"Ada apa Pi?"
"Kau percaya kepada wanita itu?"
"Hahaha menurut Papi saya percaya? Saya punya tujuan sendiri. Papi tenang saja"
"Papi tahu, tapi kita harus berhati-hati sama wanita itu. Kalau kamu menyakiti dia, maka dia akan melaporkan kamu ke orangtua nya. Dan yang paling gawat nya, Papi takut Bella akan dijadikan sasaran"
"Kenapa Papi ngomong gitu?"
Di sisi lain
"Saya belum tau nama kamu" Ucap Mami
"Bukan nya semalam sudah saya bilang ya?"
"Oh maaf saya lupa. Saya tidak mengigat nama kamu, soalnya kamu tidak penting bagi saya"
"Tidak apa-apa. Perkenalan nama saya Aurora Belen"
"Oke. Sekarang saya mau bertanya. Sejak kapan kamu mengenal anak saya?"
Aurora diam sejenak.
"Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Anak Anda mabuk dan melakukan sesuatu kepada saya" Jawab Aurora.
"Omong kosong! Anak saya tidak pernah berhubungan dengan wanita lain, kecuali istri nya!" Bentak Mami
Alvaro yang mendengar hal itu hanya bisa duduk diam. Ia sangat takut kalau ada orang di sekitarnya berantam.
"Hahaha heh dengar ya! Kalau anak Anda tidak mau menikahi saya, maka saya akan merusak hubungan nya dan istri nya! Mereka tidak akan pernah berbaikan!"
"Cih! Aku tidak peduli, aku akan memakai cara apapun agar anak anda menikahi saya!"
"Tidak tahu malu!" Bentak Mami
Karena mami dan Aurora saling membentak-bentak, Alvaro menangis ketakutan. Tangisan nya sangat kuat, sehingga terdengar oleh Edbert dan papi.
"Ada apa itu?" Tanya Papi heran
"Ga tau Pi. Kita lihat aja"
Edbert dan Papi berjalan dari taman belakang menuju ruang tamu.
"Cup, cup, cup, sayang diam ya" Ucap Aurora yang berusaha menenangkan anak nya.
"Ada apa ini?" Tanya Edbert seketika
Edbert melihat Mami yang duduk manis seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Aurora dan Alvaro seperti ditindas, mereka sangat menyedihkan.
"Apa yang Mami lakukan?!" Ucap Edbert sedikit marah kepada mami nya
"Maksud kamu? Oh kamu membela wanita itu ya? Hebat kamu Edbert, hebat!" Jawab Mami dengan tegas
Edbert terdiam, ia memberi kode kepada Papi lalu membawa Aurora dan Alvaro keluar dari rumah itu. Mereka masuk ke dalam mobil dan pigi ke suatu tempat.
"Mami, mami tenang ya" Ucap Papi kepada Mami
"Lihat anak yang kamu besarkan! Sungguh tidak berpendidikan!"
"Sayang kamu tenang dulu. Aku ceritain semua ke kamu ya. Jangan emosi dulu" Ucap papi lalu menceritakan rencana nya dan Edbert kepada mami.
Setelah selesai cerita, akhirnya mami memahami maksud Edbert. Mami berencana untuk ikut ke dalam rencana Edbert dan papi, lalu memasukkan Aurora ke lubang nya sendiri.
Di sisi lain
Edbert membawa Aurora dan Alvaro ke apartemen yang jarang di tempati nya. Edbert menyuruh mereka untuk tinggal sementara di apartemen itu.
"Saya minta maaf untuk kejadian tadi" Ucap Edbert
"Tidak apa-apa, ini bukan salah kamu" Jawab Aurora
Alvaro berjalan mendekati Edbert.
"Papa" Ucap Alvaro
Dengan sekuat tenaga, Edbert menahan emosi nya. Ia menjawab panggilan anak itu lalu menggendong nya.
"Papa Alvaro mau tidur" Ucap Alvaro
"Mau tidur? Papa temenin nih?"
Alvaro mengangguk, menandakan iya.
Edbert membawa Alvaro ke kamar dan menemani nya tidur. Sedangkan Aurora berencana memasak untuk mencuri perhatian Edbert. Ia yakin Edbert pasti akan menikahi nya dan lebih mencintai nya dari pada Bella.
Malam hari kemudian
Aurora mengajak Edbert dan Alvaro untuk makan malam bersama. Edbert mengakui masakan Aurora enak, tapi lebih enak masakan Bella. Demi menutupi akting, Edbert memakan semua masakan Aurora, Aurora yang melihat itu tersenyum dan hati nya berbunga-bunga.
"Syukurlah habis. Aku tadi kurang yakin kalau kamu mau menamakan nya" Ucap Aurora.
"Hm kenapa aku tidak mau? Masakan istri dari anak ku tentu saja rasanya lezat" Ucap Edbert
Aurora tersenyum, wajah nya sedikit memerah.
"Alvaro kembali ke kamar dulu ya. Mama sama Papa ada urusan" Suruh Aurora kepada anak nya
Tanpa lama-lama Alvaro langsung kembali ke kamar nya. Kini tinggal lah Aurora dan Edbert berduaan.
Kepala Edbert tiba-tiba pusing, suhu tubuh nya meningkat dengan cepat. Ia sangat kepanasan sehingga membuka pakaian nya di depan Aurora.
"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Aurora sambil menutup kedua matanya.
"Saya, sangat panas Bella!" Ucap Edbert.
"Cih Bella lagi Bella lagi"
Dengan perlahan-lahan Aurora membawa Edbert ke kamar. Ia mencampakkan Edbert dengan kasar ke atas ranjang, lalu ia duduk di atas tubuh Edbert.
"Bella..." Ucap Edbert
"Tolong aku Bella"
"Hahaha Bella? Aku Aurora bukan Bella! Kamu terlalu mencintai wanita busuk itu! Lihat saja aku akan memusnahkan nya. Ahahah"
"Bella ehmm"
...〜(꒪꒳꒪)〜...
Jangan lupa dukungannya