
Alvaro ikut menjaga si bayi bersama bibi. Bayi nya sangat menggemaskan, membuat Alvaro ingin mencubitinya.
"Bibi, bibi, apa nanti Alvaro bisa menjadi contoh yang baik buat adik-adik Varo?"
Bibi mengelus kepala Varo. "Pasti bisa, mereka akan meniru kamu, baik dalam belajar, membantu orangtua, berbicara sopan, menghormati yang lebih tua, pokoknya yang bagus-bagus lah"
Varo mengangguk senang. "Iya, iya, Varo pasti bisa. Varo harap mereka menyukai Varo" Ucap Varo.
"Kenapa ngomong gitu?"
"Yah kan Varo hanya anak angkat bi, takut nya nanti mereka malah membenci Varo"
"Ga mungkin sayang, pasti mereka suka sama Varo kok"
"Iya bi"
"Sudah jangan sedih-sedih gitu, senyum dong"
"Iii" Varo tersenyum sambil menunjukan giginya yang putih.
"Kan tampan" Ucap Bibi.
"Bibi bisa aja" Jawab Varo.
Setelah Edbert dan Bella selesai mandi, mereka pergi ke ruangan bayi untuk melihat si bayi.
"Nangis ya dari tadi bi?" Tanya Bella.
"Ga kok Nyon, dia tertidur nyenyak" Jawab bibi.
"Ma" Panggil Varo kepada Bella.
"Iya?"
"Ma Varo mau bilang sama Papa, tapi Varo takut" Bisik Varo kepada Bella.
Bella tersenyum dan mengelus kepala Alvaro. "Ngomong aja, gapapa kok"
Edbert yang melihat mereka berbisik-bisik jadi penasaran.
"Ehem, ehem" Kode Edbert.
"Bilang aja sayang, tidak perlu takut" Bisik Bella terakhir kalinya.
Varo menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
"Pa" Panggil Varo.
"Apa? Sini duduk" Ucap Edbert sambil menepuk paha nya.
Varo berjalan ke arah Edbert dan duduk di atas paha nya.
"Varo boleh ga belajar di perusahan Papa?" Tanya Varo sambil menunduk.
"Hm?"
"Em a kalau ga boleh juga gapapa Pa, hehe"
"Siapa bilang ga boleh? Mulai besok saya akan membawa kamu ke perusahaan"
"Serius Pa?"
"Iya, belajarnya yang bagus, jangan main-main"
"Siap Pa, Varo sudah tidak sabar lagi" Ucap Varo dengan bahagia.
Edbert mengelus kepala Varo. "Gimana bahasa Inggris nya?"
"Lancar Pa, rencana nya Varo mau mempelajari bahasa lain, soalnya kalau kerja kayak Papa harus bisa bahasa asing"
"Bagus, Papa suka begini"
"Hihi"
"Varo mau belajar bahasa Mandarin?" Tanya Bella.
"Rencana nya gitu Ma"
"Bagus, nanti Mama panggil teman Mama untuk ngajari kamu"
"Em iya Ma"
Varo semakin lama semakin bahagia. Ia hanya anak angkat, tapi perlakuan Bella dan Edbert seperti orang tua kandung nya sendiri.
Keesokan hari
Varo sudah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan bersama Edbert. Tidak lupa ia membawa tas ransel nya untuk tempat buku dan alat lain nya. Ia juga membawa bekal yang sudah di siapkan oleh bibi.
"Pigi ya Ma" Ucap Varo.
"Hati-hati sayang, bagus belajar nya"
"Bye sayang" Ucap Edbert sambil mencium kening Bella.
"Dah, jangan lirik cewek lain"
Edbert dan Varo akhirnya berangkat ke perusahaan.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di perusahaan. Varo berjalan di samping Edbert saat masuk ke dalam perusahaan. Banyak orang yang melihat Varo dan menanyakan dia itu siapa. Varo biasa saja dengan perlakuan mereka, ia tetap berjalan dengan santai dan mengikuti Edbert.
Saat berada di dalam lift, Varo menanyakan yang tadi kepada Edbert.
"Pa kenapa semua orang melihat Varo? Apa ada yang salah pada Varo?" Tanya Alvaro.
Di dalam lift bukan hanya Varo dan Edbert, melainkan kedua asisten Edbert. Kedua asisten Edbert terkejut saat Varo memanggil Edbert dengan sebutan Pa.
"Karena kamu tampan" Jawab Edbert.
"Papa tidak pernah serius, tidak seperti Mama" Canda Varo.
Lagi-lagi kedua asisten itu terkejut saat Varo memanggil istri Edbert Mama. Mereka berpikir bahwa Varo adalah anak Bella dan Edbert. Tapi kok tidak mirip ya hehe.
"Namanya juga Mama kamu"
"Nama nya juga istri Papa" Jawab Varo.
"Jangan begitu Nak, nanti kamu kebiasaan" Ucap Edbert dengan agak tegas.
"Iya Pa, maaf"
Varo dan Edbert masuk ke dalam ruangan Edbert. Varo di arahkan Edbert untuk duduk di meja kerja nya. Edbert membawa sebuah dokumen yang cukup mudah untuk di pelajari oleh Varo. Varo mengambil dokumen itu dan melihat nya. Di bacanya dokumen itu dengan teliti, rata-rata isinya tentang pelajaran ekonomi. Ia sangat menyukai ekonomi apalagi waktu menghitung-hitung, rasanya sangat mudah, tidak ada yang sulit.
Lama-kelamaan Varo mulai bosan karena dokumen itu terlalu mudah untuk di pelajari. Ia meminta dokumen yang lain kepada Edbert. Edbert menghela nafas dan memberi dokumen yang lain.
Setelah mempelajari dokumen yang satu ini, Varo merasa bahagia. Pengetahuan nya semakin meningkat, hal yang tidak dia tahu kini menjadi tahu.
"Nanti lagi, makan siang dulu" Ajak Edbert kepada Varo yang masih serius mempelajari dokumen-dokumen itu.
"Oke Pa, kita makan siang dimana ya?"
"Di restoran sebelah" Jawab Edbert.
"Enak Pa?"
"Nanti kamu cicipi dulu"
"Kalau Varo cicipi semua, boleh?"
"Boleh"
"Yey oke Pa. Papa memang baik"
"Uhuk, mana lebih baik, Papa atau Mama?"
"Em Varo ga bisa bedain, soalnya kedua nya sama-sama baik" Jawab Varo dengan serius.
Edbert mengelus kepala Varo. "Kamu juga harus baik"
"Iya Varo harus jadi anak yang baik"
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di restoran sebelah. Edbert memesan makanan seperti biasa, sedangkan Varo memesan yang rasanya menarik. Banyak mata yang tertuju kepada Varo, tapi Varo sama sekali tidak peduli.
"Pa Varo ingin punya perusahaan kayak Papa, boleh?" Tanya Varo sambil menunggu makanan datang.
"Kamu masih terlalu kecil Nak"
"Tapi Varo pengen Pa"
"Gini aja, coba kamu pimpin perusahaan Papa, tapi Papa dan rekan-rekan lain nya berada di belakang kamu. Kalau kamu bisa memimpin dengan baik, Papa kasih kamu buat perusahaan sendiri. Gimana?"
Varo mengangguk. "Mau banget Pa. Papa tenang aja, Varo pasti bisa!"
"Bentar lagi kamu udah 4 tahun ya?"
"Iya Pa, seminggu lagi"
"Sudah makin besar ya kamu"
"Hihi bagus dong Pa, supaya Varo bisa mewujudkan cita-cita Varo"
"Bagus, Papa suka itu"
Karena asik nya bicara, Varo dan Edbert tidak menyadari bahwa makanan nya sudah datang. Edbert menyuruh mereka untuk langsung meletakkan makanan di atas meja, kemudian menyuruh mereka pergi.
Varo mulai mencicipi makanan nya satu persatu. Hati nya berbunga-bunga, semua makanan yang di pesan nya sangat lezat, tidak percuma harga nya mahal. Edbert yang melihat Varo lahap makan tersenyum lebar. Ia sangat senang karena bisa membantu orang yang sangat membutuhkan bantuan.
"Gimana?" Tanya Edbert.
"Enak Pa, kalau Papa mau ambil aja" Jawab Varo.
"Iya makan lah, tidak usah terburu-buru"
Varo mengangguk dan melanjutkan makan, begitu juga dengan Edbert.
...〜(꒪꒳꒪)〜...
Jangan lupa dukungannya. Jangan ragu untuk kasih saran, tapi sarannya yang mendukung, bukan menjatuhkan. Terimakasih.