EdBell

EdBell
Bab 42



Akhirnya Elena dan Alvaro pergi ke Italia. Alex sangat senang dengan kepergian mereka, ia mengucapkan kata perpisahan dengan sangat bahagia.


Mereka pergi menggunakan pesawat pribadi Alvaro. Elena senang karena bebas melakukan apa yang dia mau.


Elena duduk di samping Alvaro dan memeluk nya. Ia menciumi Alvaro yang sangat wangi. Padahal Alvaro tidak memakai parfum, tapi bisa sewangi itu.


"Kakak"


"Hm?"


"Kalau Elena punya pacar, apa kakak akan marah?"


"Tidak"


"Hah? Kenapa? Seharusnya Kakak marah!"


"Kenapa saya harus marah? Itu pilihan kamu"


"Ahk Kakak benar-benar membuat ku kesal! Pantesan tidak ada wanita yang mau pacaran sama Kakak! Jomblo dari lahir sampai sekarang"


Alvaro menatap wajah Elena. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Elena.


"Saya hanya mau kamu, bukan wanita lain" Bisik Varo yang membuat wajah Elena memerah.


Elena berusaha menjauh dari Alvaro, tapi Alvaro memegang pinggang Elena dan mendorongnya ke depan.


Perlahan Alvaro mengelus bibir Elena. Semakin lama bibir Alvaro semakin dekat dengan bibir Elena. Alvaro mencium bibir Elena dengan lembut. Elena terkejut. Ia tidak menghentikan Alvaro, ia membiarkan Alvaro melakukan apa yang dia suka.


Kembali sadar, Alvaro melepas ciuman nya. Ia merasa bersalah karena telah mengambil ciuman pertama Elena.


Elena memegangi bibir yang barusan di cium oleh Varo. Jantung nya berdetak kencang, wajah nya memerah. Melihat reaksi itu, Alvaro berpikir bahwa Elena akan membencinya.


Kakak, apakah kamu sudah terbiasa melakukan hal seperti itu? Kenapa rasanya Kakak sangat pro? Batin Elena.


"Maaf" Ucap Varo.


"Maaf untuk apa Kak?"


"Maaf untuk yang barusan" Jawab Varo dengan rasa bersalah.


Elena tertawa. "Hahaha! Kamu kenapa Kak? Elena sangat menyukai, Kakak seperti sudah pro dalam hal itu. Apa Kakak sering melakukan nya? Atau Kakak dulu pernah melakukan hal itu dengan mantan Kakak"


Karena semakin bahagianya, Elena jadi keceplosan dengan omongan nya.


"What do you mean?!"


"Ups. Ti-tidak ada"


"Dengar sayang, aku hanya melakukan nya kepada mu" Ucap Varo.


Wajah Elena kembali memerah. Ia memukuli dada Varo dan sedikit kesal.


"Tapi kau tidak pernah melakukan nya kepada ku! Kau berbohong!" Ucap Elena.


"Kamu masih kecil sayang" Jawab Varo.


"Tidak, aku sudah besar. Kakak jahat! Kakak berbohong!"


"Huff, kita belum menikah"


"Huhu aku tidak mau tahu! Aku mau kakak melakukan nya sekarang!"


"Elena!"


"Kakak jahat!"


"Kakak tapi Elena mau sekarang" Ucap Elena sambil merapatkan wajahnya ke dada Varo.


"Nanti sayang, suatu saat kamu akan mengerti" Ucap Varo sambil mengelus kepada Elena.


Kakak aku itu tidak sepolos yang kalian pikirkan. Sebenarnya aku lelah berpura-pura polos dan lemah di hadapan kalian, tapi aku sangat ingin melakukan nya. Tapi tidak apa-apalah, sikap ku yang ini khusus hanya untuk keluarga saja. Kalau di depan orang lain harus berbeda, hahaha. Batin Elena.


Varo mengenal nafas. Adik kecil tolong jangan berdiri di atas Elena. Tahan, tahan


"Kamu kenapa Kak?"


"Tidak apa-apa, mau ke toilet sebentar"


"Elena ikut"


"Kamu"


"Gendong, gendong, Elena ikut"


"Baiklah"


"Yey"


Akhirnya bisa satu kamar mandi dengan Kakak


Sampai di kamar mandi.


"Kalau sudah selesai luan saja kembali. Perut Kakak agak tidak enak"


"Kakak gapapa? Tidak perlu Elena temani?"


"Tidak, kamu di sebelah saja"


Dengan cepat Varo masuk ke dalam toilet dan mengunci nya.


Ahk sial! Lagian kenapa kamar mandinya ada dua sih. Nyeselin!


Ck dia masih kecil, jangan berbuat macam-macam. Batin Varo.


Beberapa saat kemudian Varo kembali duduk di samping Elena.


"Kakak lama" Ucap Elena.


"Tadi Kakak sudah bilang"


"Elena bosan lho Kak! Elena mau tidur"


"Ya silahkan"


"Tidur bersama Kakak"


Elena menarik tangan Varo dan membawanya ke dalam kamar. Ia mendorong Varo ke atas ranjang dan menyelimutinya. Ia naik ke atas ranjang lalu memeluk Alvaro dengan erat.


"Selamat tidur Kak"


Tunggu sebentar lagi, kamu akan tahu Kakak seperti apa.


Varo mengelus kepala Elena supaya ia cepat tertidur.


...〜(꒪꒳꒪)〜...


Jangan ragu untuk kasih saran, tapi sarannya yang mendukung, bukan menjatuhkan.