EdBell

EdBell
Bab 60



Malam hari pun tiba. Alex membawa Elizabeth makan malam bersama keluarga nya. Elizabeth masih terlihat kaku dan gugup. Elizabeth mengakui kalau dia sudah lapar, tapi kalau nanti dia makan dengan rakus, takutnya kedua orang tua Alex tidak suka melihat nya.


Elizabeth melihat mereka semua makan dengan anggun, dia berusaha mengikuti mereka, untung saja dia pernah belajar kehidupan orang kaya.


"Um lezat banget, memang masakan Mama adalah yang terbaik" Ucap Elena.


Elena sebenarnya sadar kalau dari tadi Elizabeth berusaha mengikuti mereka. Ia tau Elizabeth bukan dari keluarga berada, jadi dia membuat rencana agar situasi tidak terlalu canggung. Elena tidak mau Elizabeth merasa terkucilkan di rumah itu. Elena memang sangat pengertian, dia cepat sekali peka nya.


"Makan pakai sendok, garpu, pisau, sumpit, memang meresahkan ya. Kenapa sih lebih puas makan pakai tangan" Ucap Elena memberikan kode kepada keluarga nya.


"Anak Papa memang benar deh, makan pakai tangan lebih puas" Ucap Edbert yang meletakkan sendok nya kemudian mencuci tangan nya.


"Bi ambilin cuci tangan" Ucap Bella.


"Tau aja kamu El, Kakak dari tadi emosi pakai pisau" Ucap Alex.


"Kalau aku emosi pakai sumpit" Ucap Varo.


"Hahaha kita pakai tangan aja!!" Ucap Elena dengan senyum lebar di wajah nya.


Elizabeth ikut tersenyum melihat Elena. Ia jadinya mengikuti mereka makan memakai tangan. Karena Elizabeth melihat mereka rebutan makanan, jadi dia ikut-ikutan saja. Elizabeth menjadi tidak terlalu kaku lagi saat makan.


Setelah selesai makan


"Kalian ke ruang tamu duluan, Papa mau ngomong sama Elena" Ucap Edbert kepada Elizabeth dan Alex.


"Baik Pa"


"Iya om"


"Mau ngomong apa Pa?" Tanya Elena.


"Kami disini mengerti maksud kamu tadi, jadi Papa mau bertanya, kamu setuju Alex menikah sama Elizabeth?"


"Kok tanya sama Elena?" Tanya Elena balik.


"Elena, di keluarga ini kamu yang paling bisa melihat sikap seseorang. Dari wajah nya kamu tau kalau dia jahat atau baik, makanya kami selalu mendengar keputusan kamu" Jawab Edbert.


"Emang keputusan Elena selalu benar ya?"


"Tidak sayang, tapi keputusan kamu adalah yang terbaik" Jawab Bella.


"Kalau Elena dari awal suka melihat Kak Elizabeth, apalagi tadi waktu berbelanja. Kalau menurut Elena sih, Kak Alex dan Kak Elizabeth itu cocok. Tapi kan kita juga harus mendengar keputusan mereka, siapa tau mereka hanya mau pacaran, tidak mau menikah" Ucap Elena.


"Kalau bagi kamu sudah cocok, kita sudah bisa tenang" Ucap Edbert.


"Tapi kalau mereka mau menikah, Elena minta tolong deh jangan sekarang dulu. Soalnya kan Jackson masih mengintai kita" Ucap Elena.


"Iya benar juga kamu" Jawab Bella.


"Oi Kak, Lu jangan sakit hati ya Elena bilang gitu" Ucap Elena.


"Tidak akan. Sebenarnya saya malas mengakui dia sebagai orangtua saya" Jawab Varo.


"Tidak apa-apa Varo, kamu tidak akan menikah dengan tunangan kamu itu. Jackson akan menyesali perbuatan nya, biarkan saja dulu dia menikmati permainan nya" Ucap Edbert.


"Ck lagian tunangan Kak Varo sangat jelek. Wajah nya menyeramkan. Pokoknya dia seperti janda anak 2" Ucap Elena.


"Kamu udah tau yang mana? Kakak mau lihat foto nya" Ucap Varo.


Elena membuka handphone nya lalu menunjukkan foto tunangan Varo.


"Lebih cocok menikah sama Jackson kan Kak?"


"Iya, sama-sama tua" Jawab Varo yang membuat mereka ketawa.


Suara ketawa mereka terdengar sampai ke ruang tamu. Elizabeth dan Alex yang dari tadi menunggu sudah merasa bosan. Mereka seolah-olah ingin tidur, soalnya mereka tidak berbicara dari tadi.


Mata Elizabeth mulai tertutup. Tubuh nya perlahan jatuh ke atas sofa.


Alex yang melihat itu langsung mendekati Elizabeth dan menggendong nya.


"Nenek, jangan pergi" Ucap Elizabeth.


"Wanita ini. Huf biarkan saja, lebih baik aku membawa nya ke kamar terlebih dahulu"


Alex menggendong Elizabeth ke dalam kamar nya. Ia meletakkan Elizabeth di ranjang nya kemudian menyelimuti nya.


"Pakaian ini sangat tidak enak di pakai" Ucap Alex.


Alex mengganti baju nya lalu kembali lagi ke ruang tamu.


Saat turun dari tangga, Alex melihat keluarga nya sudah duduk di ruang tamu dan menunggu nya.


"Maaf lama" Ucap Alex lalu duduk.


Mereka terkejut karena Alex mengganti pakaian nya. Elizabeth juga tidak ada di ruang tamu. Jangan-jangan mereka?


"Mana Kak Elizabeth?" Tanya Elena.


"Di kamar, dia tertidur" Jawab Alex dengan santai.


"Hah?" Mereka berempat terkejut mendengar omongan Alex.


"Kalian jangan salah paham dulu, tadi dia tertidur di atas sofa, aku kasihan melihatnya, jadi aku pindahkan dia ke kamar" Ucap Alex menjelaskan.


"Trus Kakak nanti tidur di mana?" Tanya Elena.


"Kamar tamu"


"Tidak boleh! Kamu tidur di kamar kamu sendiri" Ucap Bella.


"Ma, masak aku tidur bareng sama Elizabeth" Ucap Alex terkejut.


"Nasib kamu itu Kak" Ejek Elena.


"Sudah pukul 10, semua nya sudah bisa masuk ke kamar masing-masing" Ucap Edbert.


Tanpa lama-lama, mereka berempat meninggalkan Alex sendirian di ruang tamu dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Sial, sial, sial, sial" Ucap Alex.


Alex tidak mau lama-lama sendirian di ruang tamu. Ia masuk ke dalam kamar nya kemudian mengunci nya.


"Hei wanita, ini batas kita. Jangan coba-coba melewati batas yang di buat" Ucap Alex dengan kesal.


"Ini lagi selimut, masak cuman satu! Jadi terpaksa harus bagi dua"


Alex menarik selimut dengan perlahan, kemudian ia tidur di samping Elizabeth.