
"Sial aku kehilangan jejak mereka!" Ucap Varo.
"Maaf Tuan kami memang tidak berguna"
"Kalian itu berguna! Cari lagi!" Tegas Varo.
"Baik Tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin"
Elena kamu harus baik-baik saja! Batin Varo.
Alvaro sangat khawatir dengan keadaan Elena. Dia takut Elena akan dilukai atau semacam nya. Dia hanya gadis polos yang tidak tau apa-apa, selalu menurut apa yang dikatakan oleh orang lain. Bagaimana kalau nanti dia jual atau di bunuh? Hal ini semakin membuat Alvaro khawatir.
Di tempat lain
"Bagaimana dengan orang yang mati tadi? Apa sudah dikubur?" Tanya Elena kepada Arbecio.
"Sudah"
"Aku turut berdukacita, aku se-se-sebenarnya"
"Itu sudah berlalu, biarlah"
Hm sepertinya dia masih mencurigai aku. Aku tidak akan tergoda dengan perbuatan baik mu, aku tidak sebodoh itu. Batin Elena.
"Lihatlah, langit nya sangat cantik" Ucap Elena sambil menunjuk langit malam.
"Ya kau benar, aku sangat menyukainya" Jawab Arbecio sambil tersenyum.
Cih senyuman palsu, sebentar lagi kau juga akan menyerang ku. Batin Elena.
"Woah kamu sangat tampan saat tersenyum"
"Hm?"
"Iya tersenyum, wanita manapun akan terpesona melihat senyuman mu"
"Diam!!" Bentak Arbecio sambil mengarahkan pistol ke arah Elena.
Hehe akting dimulai. Batin Elena.
Elena terkejut dan jantung nya berdetak dengan kencang. Matanya mulai berkaca-kaca dan ketakutan. Ia tidak berani menatap mata Arbecio.
"Kurung wanita ini! Jangan dibebaskan tanpa ada perintah ku"
"Baik Tuan"
Para pengawal membawa Elena ke kamarnya lalu mengunci nya.
Elena berbaring di atas ranjang dan memikirkan tentang Varo. Bagaimana perasaan Varo sekarang? Apa dia khawatir? Ya tentu saja khawatir. Apa dia memarahi pengawal dan asisten nya? Apa dia sudah makan dan minum? Apa dia sudah tidur? Banyak sekali pertanyaan yang lewat dari otak Elena.
Elena tidak memikirkan dirinya, dia memikirkan Alvaro yang jauh disana. Alvaro sungguh membuat Elena menjadi khawatir, ia tidak bisa tidur.
Keesokan hari
Pelayan wanita mengantarkan sarapan dan pakaian ganti kepada Elena. Katanya ia tidak akan pergi sebelum Elena sarapan dan mandi. Mau tidak mau Elena harus menghabiskan sarapan nya, soalnya mereka pasti tidak akan memberikan cemilan untuk nanti. Kalau masalah mandi, yah tentu saja Elena akan mandi, mana mungkin dia tidak mandi setelah bangun tidur.
Setelah selesai mandi, Elena memakai pakaian yang di bawa oleh pelayan tadi. Pakaian nya sangat terbuka, membuat Elena kesal dan ingin membunuh Arbecio.
Elena mendatangi pelayan yang masih berada di kamar nya dan memarahi nya.
"Pakaian apa ini?!! Suruh Tuan mu mencari pakaian yang lain!! Aku tidak sudi memakai pakaian terbuka seperti ini!! Kalian pikir aku ini mainan!?! Hah?!!"
"Brengsek!! Berikan pakaian mu kepada ku!" Ucap Elena dengan penuh emosi.
Tiba-tiba saja Arbecio masuk ke dalam kamar Elena. Ia menepuk tangan nya dan menunjukkan senyum sinis kepada Elena.
"Keluar!" Ucap Arbecio kepada pelayan itu.
"Baik Tuan"
Arbecio menutup pintu kamar Elena.
"Apa mau mu?! Jangan mendekat!" Ucap Elena dengan penuh akting.
"Pakaian itu sangat cocok untuk mu, sangat seksi" Ucap Arbecio sambil berjalan perlahan mendekati Elena.
Aku akan mencongkel mata mu! Lihat saja nanti! Batin Elena.
"Keluar! Aku tidak mau melihat mu!" Ucap Elena.
Arbecio memeluk pinggang Elena dan mencium kening nya.
"Jadilah wanita ku" Ucap Arbecio.
"Tidak akan! Aku tidak mau! Lepaskan tangan kotor mu dari tubuh ku!!"
"Cih tangan kotor?! Justru tangan mu yang kotor! Kalau bisa aku sudah mematahkan tangan mu dari kemarin" Ucap Arbecio sambil menekan kedua tangan Elena dengan kuat.
"Lepaskan!"
"Hahaha kalau aku membunuh mu, apa yang akan di lakukan oleh kedua orangtua mu? Bukan kah mereka hanya bisa menangis? Hahaha"
"Sialan!"
"Yang sialan itu kau dan ibu mu. Kalian berdua sangat cocok untuk mati!"
"Kau yang cocok mati!" Jawab Elena.
"Tch aku?! Aku tidak akan mati sebelum membalaskan dendam ibu ku! Ibuku Kylie yang menyamar sebagai Aurora"
Hadeh dia pikir aku ini bodoh? Justru aku disini untuk membunuh mu terlebih dahulu. Batin Elena.
"Ti-tidak mungkin"
"Hm membunuh mu terlalu gampang, lebih baik aku membiarkan mu tetap hidup dan menikmati siksaan neraka"
Elena mengeluarkan air mata, kali ini dia benar-benar takut.
"Sayang jangan menangis, aku akan menyiksa mu secara perlahan, jangan takut"
"A-aku"
"Kamu takut? Kalau kamu takut aku akan membawa ibu mu untuk menemani mu"
"Ja-jangan, jangan menyiksa ibu ku"
"Oh kalau begitu buka semua pakaian mu"
Ckck pria sialan, untung aku sudah menyiapkan semua nya. Batin Elena.
Elena membuka pakaian nya dengan sangat lambat. Arbecio sama sekali tidak sabaran, ia langsung merobek pakaian yang digunakan oleh Elena.