EdBell

EdBell
Bab 69



"Huam, selamat pagi" Sapa Elena kepada Alex dan Elizabeth.


"Pagi" Jawab Alex.


Elizabeth tidak menjawab sapaan Elena.


Varo datang lalu duduk di samping Elena.


"Wajah kak Elizabeth kenapa? Kok bisa semerah itu?" Tanya Elena seolah-olah dia tidak melihat semua nya.


"Benarkah? Ahaha mungkin karena kepedasan" Jawab Elizabeth dengan malu.


"Jawab saja yang jujur" Ucap Alex yang membuat Elizabeth semakin malu.


"Emang kenapa Kak?" Tanya Elena kepada Alex.


"Aku mencium nya" Jawab Alex yang membuat Varo tersedak.


Sebenarnya Varo dan Elena sedang berpura-pura tidak tau apa yang terjadi.


Elizabeth semakin malu, ia menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.


"Kamu serius Kak?" Tanya Elena tak percaya.


"Kamu tidak percaya?" Tanya Alex balik.


Alex mengangkat wajah Elena kemudian mencium bibir nya kembali.


Elizabeth mendorong Alex karena malu. Wajah nya semakin memerah.


"Kak Elizabeth malu tuh, padahal kalau di lanjutkan pasti seru" Ucap Elena.


"A-aku harus pergi melihat Nenek" Ucap Elizabeth yang sedang kebingungan.


Alex menahan tangan Elizabeth. "Tunggu aku"


"Pftt pamer kemesraan di hadapan orang yang sudah menikah" Ucap Elena.


"Sudah menikah? Oh ya, maaf kakak lupa" Ucap Alex.


"Tidak apa-apa, maklum saja sudah tua" Ejek Elena.


"Kamu yang udah tua, bentar lagi punya dedek bayi" Ejek Alex kembali.


"Apa? Kamu yang luan tua! Kamu yang luan berkeriput daripada aku!" Jawab Elena.


Setiap jumpa pasti selalu berantam. Batin Varo sambil memakan sarapan nya.


"Em itu" Ucap Elizabeth yang membuat Elena dan Alex berhenti berbicara.


"Kalau kamu masih lama, aku saja yang luan berangkat" Ucap Elizabeth kepada Alex.


"Baiklah, baiklah, kami berangkat dulu" Ucap Alex lalu pergi.


"Kak" Panggil Elena kepada Varo.


"Ya?"


"Kapan kita pulang ke rumah?"


"Sekarang"


"Yeah akhirnya bisa kembali ke rumah sendiri" Ucap Elena dengan senang.


"Hm ya, bisa bebas melakukan apa saja" Jawab Varo.


"Huh! Kakak jangan kelewatan ya. Semalam kakak hampir membuat Elena mati"


"Kamu aja yang lemah" Ucap Varo.


"Elena tidak lemah! Kakak saja yang berlebihan main nya. TIDAK SERU!"


"Baik, nanti malam akan lebih seru" Ucap Varo dengan serius.


"Nanti malam? Wah Elena dah atur jadwal nih. Nanti jam 7-10 Elena nonton film ini, sambil makan cemilan kayak nya enak deh, apalagi kalau di temani Kakak"


"Bukan itu maksudnya sayang"


"Jadi?"


"Nanti malam kita akan melanjutkan yang semalam" Jawab Varo.


"Se-semalam? Tidak, tidak, tidak, Elena ga mau. Nanti Elena mati Kak"


"Kalau tidak mau nanti malam, kita lakukan sekarang saja"


Varo menggendong Elena ke dalam kamar.


"Aaa ga mau!!"


Varo mengunci kamar lalu meletakkan Elena di atas ranjang.


"Jangan! Elena ga mau!!"


...〜(꒪꒳꒪)〜...


Elizabeth dan Alex dari tadi diam saja di dalam mobil. Mereka masih canggung karena kejadian barusan. Sungguh benar-benar memalukan.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah Nenek.


Pengobatan Nenek di luar negeri berjalan dengan lancar. Nenek menjadi lebih sehat karena pengobatan mereka. Walaupun mahal, tapi hasil nya memuaskan. Nenek di sarankan untuk meminum obat sampai habis. Setelah obat habis, keadaan Nenek akan semakin membaik.


"Nenek" Panggil Elizabeth.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Nenek.


"Elizabeth mau melihat Nenek"


"Haduh, Nenek tidak perlu di lihat-lihat. Lagi pula kalian sudah menyiapkan perawat untuk Nenek"


"Tapi Elizabeth merindukan kamu Nek"


"Nak, Alex menunggu kamu, seharusnya kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dia. Nenek dengar kalian sebentar lagi akan menikah. Tidak apa-apa Nak, terima saja dia, dia pria yang baik kok"


"Elizabeth tau Nek" Jawab Elizabeth.


"Nenek minta, sebelum Nenek di panggil Tuhan, kalian sudah menikah. Nenek ingin melihat kamu menikah sayang"


"Nenek ngomong apa sih? Nenek akan sehat-sehat aja. Ga boleh ngomong gitu"


"Umur tidak ada yang tau sayang"


"Em baik lah Nek, nanti Elizabeth akan bicarakan sama Alex"


"Anak pintar"


Beberapa saat kemudian Alex masuk ke dalam rumah sederhana Nenek.


"Halo Nek. Bagaimana kabar mu?" Tanya Alex sambil meletakkan oleh-oleh untuk Nenek di atas meja.


"Sudah semakin membaik Nak" Jawab Nenek.


"Elizabeth mana Nek?"


"Di dapur buat teh"


"Oh. Nek, tadi Alex cium Elizabeth, gapapa kan?" Tanya Alex tanpa malu.


"Hahaha gapapa Nak, itu hal yang wajar. Kalau Nenek belum dipanggil Tuhan, Nenek mau gendong cicit dari kalian" Ucap Nenek.


"Mau berapa banyak Nek?" Tanya Alex bercanda.


"Terserah kalian" Jawab Nenek.


Elizabeth datang ke ruang tamu sambil membawa teh.


"Ini teh nya. Silakan di minum" Ucap Elizabeth.


"Kamu mau kemana? Duduk aja sini" Ucap Alex sambil menarik tangan Elizabeth.


"Ehhhhh"


"Ada Nenek, malu" Bisik Elizabeth kepada Alex.


"Kata Nenek itu hal biasa" Jawab Alex.


"Kalau kalian mau bercinta, sebaiknya jangan di depan Nenek, ada banyak kamar yang kosong" Ucap Nenek sambil meminum teh nya.


"Maaf Nek, aku tidak mau" Ucap Elizabeth.


"Anak muda zaman sekarang, ada-ada aja" Ucap Nenek.


"Dia lagi ngambek Nek, maklum saja" Ucap Alex.


"Mungkin karena kurang puas sama ciuman kamu" Ucap Nenek.


"Apa?!" Elizabeth terkejut.


"Tidak apa-apa. Nenek lihat karena Alex ikut mengurus Nenek, pekerjaan Alex jadi banyak yang tertunda. Bukan kah sebaiknya Alex kembali bekerja lagi?"


"Iya Nek, rencananya setelah pulang dari sini Alex langsung ke perusahaan"


"Bawa saja Elizabeth. Nenek mengizinkan kalian tinggal bersama. Terserah kamu mau apai dia"


"Nenek?!" Ucap Elizabeth terkejut.


"Ingat satu hal, jangan lupa menikahi Elizabeth" Ucap Nenek serius kepada Alex.


"Baik Nek, secepat mungkin Alex dan Elizabeth akan menikah"


"Bagus, bagus. Pergilah kalian, jangan buat pekerjaan menumpuk lagi"


"Baik Nek. Kami pamit dulu"


Elizabeth dan Alex pergi dari rumah Nenek. Mereka berangkat dengan cepat ke perusahaan.