EdBell

EdBell
Bab 33 - EdBell



"Ahk Edbert sakit!"


"Pelan, ahk!"


"Sssttt"


"Edbert sakit!!"


Edbert berhenti. "Kamu tadi yang minta sayang. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin"


"Kamu gerak nya cepat amat!"


"Capek ya liat kamu. Saya melakukan apa yang kamu suruh, saya akan melanjutkan nya walaupun kamu memberontak!"


Tanpa lama-lama lagi Edbert melanjutkan aktivitas nya yang terhenti. Ia sangat pintar membuat Bella senang. Bahkan kadang Bella mau marah karena Edbert mengentikan aktivitasnya. Sungguh sulit di mengerti.


Keesokan hari


"Belum ada yang bangun? Apa kali ini aku sarapan sendiri? Huff hari Minggu kali ini mungkin akan benar-benar membosankan" Ucap Alvaro


Alvaro mengambil piring lalu membuat nasi serta ikan di dalam piring secukupnya. Ia duduk di meja makan dan memakan sarapan nya sendirian. Ia benar-benar ingin punya teman, sendirian itu membosankan.


Setelah selesai sarapan, Alvaro pergi ke taman dan menyirami bunga. Tempat favorit nya adalah taman. Taman sangat indah, di penuhi dengan bunga dan dihiasi dengan baik.


Alvaro menyanyikan lagu barat favorit nya. Suara sangat merdu, tidak pernah bosan mendengarkan dia bernyanyi.


"Varo" Teriak Bella


Varo menoleh ke belakang. Ia berlari ke arah Bella dan memeluk Bella dengan erat.


"Pagi" Sapa Bella


"Pagi Ma" Jawab nya


"Kamu udah sarapan?"


"Varo udah sarapan Ma. Tadi Varo mau ngajak kalian semua untuk sarapan, tapi semua nya masih tertidur nyenyak"


"Ahaha maaf sayang. Habisnya ngantuk banget"


"Itu Ma, Varo kapan punya adik?"


"Pengen banget ya?"


Varo mengangguk


"Sebentar lagi kok sayang. Paling cepat 1 tahun lagi"


"Yey, Varo ga sabar lagi Ma"


"Emang Varo mau adik cowo atau cewe?"


"Yang mana aja boleh Ma. Asalkan dia lahir dengan selamat dan bisa jadi teman Varo. Trus Varo ga kesepian lagi deh"


"Oke oke sayang. Ayo masuk"


"Orang Mama mau sarapan?"


"Iya"


Varo dan Bella berjalan bersama ke ruang makan. Varo melihat Tyler dan Viktor sudah duduk di ruang makan, begitu juga dengan Edbert.


"Varo sini sama Tante" Panggil Tyler


"Selamat makan" Ucap Bella


"Varo mau ikut Tante sama Paman ke Rusia ga?" Tanya Tyler serius


"Napain Tante?"


"Em Paman sama Tante kan mau nikah, trus tinggal di sana. Kamu mau ikut?"


"Nanti Varo balek ke sini lagi kan?"


"Iya dong"


"Em Varo pikir-pikir lagi lah dulu Tan. Nanti Varo kasih tahu keputusan Varo"


"Boleh" Jawab Tyler


Varo bahagia di ajak ke Rusia. Tapi dia takut kalau nanti dia tidak akan kembali ke Indonesia. Siapa tahu nanti dia malah di sekolahkan di Rusia. Nanti dia jadi tidak bisa bersama dengan adik nya.


"Kalo menurut Mama Varo tidak usah ikut" Ucap Bella


"Kenapa Ma?"


"Nyonya?" Ucap Tyler


"Kamu kok masih manggil Nyonya sih? Panggil Bella aja ya"


"Ahk maaf saya lupa" Ucap Tyler


"Kenapa hayo?"


"Jelaskan dong Ma"


"Mama takut kamu nanti tidak kembali lagi ke sini, kamu nanti malah di sekolahkan disana, trus siapa dong yang jaga adik kamu nanti? Memang tidak salah kamu tinggal disana bersama Tyler dan Viktor, tapi suatu saat mereka pasti punya anak. Takutnya nanti mereka malah melupakan kamu, trus kamu mau kembali ke sini, tapi kamu tidak punya uang. Trus kamu jadi kerja di tempat orang untuk mengumpulkan uang supaya bisa pulang kesini. Trus kamu nanti jadi tidak sekolah" Ucap Bella


"Iya Nak sebaiknya begitu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kami tidak bisa menjamin kalau kamu bisa bersekolah dengan bagus di Rusia. Kami dan Bella sebenarnya tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya rekan kerja saja. Takutnya nanti kami malah memanfaatkan kamu untuk berbuat jahat. Hari esok tidak ada yang tahu Nak" Ucap Viktor


"Iya benar juga. Mana tahu nanti aku dan Viktor lagi marahan, trus kami malah menyalahkan Varo, trus kami mengusir nya dari rumah. Takut juga sih" Ucap Tyler


"Percayalah, yang benar-benar tulus menerima Varo hanyalah Bella seorang diri. Kalian bisa melihatnya sendiri, saya malas ngomong panjang lebar" Ucap Edbert


"Jadi Papa belum nerima Varo?" Tanya Varo sedih


"Saya sudah nerima kamu. Saya bahkan mengganggap kamu sebagai anak saya sendiri. Misalnya suatu saat nanti saya dan Bella sedang marahan, saya tetap memperlakukan kamu seperti anak sendiri. Saya tidak memilih-milih"


"Varo tidak usah sedih ya nak, Papa kamu yang satu ini memang sudah aneh dari lahir kok, omongan nya juga ga pernah jelas" Ucap Bella


"Bella!"


"Apa? Lu mau pukul gue? Asek, ingat masa SMA nih Bert"


"Sayang" Ucap Edbert


"Iya, iya maaf"


Mereka berlima tertawa bersama-sama.


...〜(꒪꒳꒪)〜...


Jangan lupa dukungannya. Jangan ragu untuk kasih saran, tapi sarannya yang mendukung, bukan menjatuhkan. Terimakasih.