
Malam hari kemudian Elena sadar dari pingsan nya. Perlahan ia duduk di atas ranjang dan sedikit bingung.
"Sudah sadar?" Tanya Varo yang dari tadi berbaring di samping Elena.
"Hum? Kakak apa yang terjadi?" Tanya Elena dengan suara lemas.
"Tidak ada"
Elena mengingat kejadian tadi saat di kamar mandi.
Apa Kakak yang memakaikan pakaian ini kepada ku? Apa kami sudah melakukan hubungan itu?!! Batin Elena.
"Kakak apa kamu melakukan?" Tanya Elena dengan mata berkaca-kaca.
Varo mengelus kepala Elena. "Tidak. Kalau tidak percaya cek aja"
Kakak belum melakukan nya?! Sial, padahal aku sudah berharap.
"Terimakasih Kak, aku percaya sama Kakak. Coba saja tadi itu orang lain, pasti dia mengambil keuntungan dari Elena" Ucap Elena.
"Kakak tidak akan membiarkan nya"
"Apa Kakak yang memakaikan baju Elena?"
"Bagaimana kalau iya"
"Tidak apa-apa Kak, Elena senang di pakaikan oleh Kakak"
"Makan malam dulu ya?"
"Mau, tapi Kakak harus gendong Elena"
Varo tersenyum, ia menggendong Elena sampai ke ruang makan.
"Um masakan Kakak sangat enak"
"Dari mana kamu tau ini masakan Kakak?"
"Dari hati"
"Oh"
"Setelah makan kita napain Kak?"
"Kamu belajar atau istirahat terserah. Kakak ada pekerjaan sedikit"
"Kalau Elena belajar sambil nemani Kakak boleh?"
"Ga terganggu nanti belajar nya?"
"Tidak Kak, boleh ya?"
Setelah selesai makan, Varo dan Elena pergi ke ruang belajar. Varo membuka laptop nya dan mulai bekerja, sedangkan Elena duduk sambil membaca buku secara asal. Dari tadi ia hanya memperhatikan Varo bekerja.
Ddrrtt, ddrrttt.
Ponsel Varo berdering.
"Halo?"
Bla, bla, bla.
Setelah lama bertelepon, tiba-tiba saja Varo marah.
"Saya sudah katakan dari kemarin! Kenapa kalian tidak melakukan nya?! Masih perlu bekerja tidak?! Saya tidak perlu orang bodoh seperti kalian!"
Elena terkejut, baru kali ini dia melihat Varo marah kepada rekan kerja nya.
Saat sudah selesai bertelepon, Varo kembali duduk di kursi nya. Ia menatap layar laptop dengan penuh emosi, ia ingin menghancurkan semua barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Sial!"
"Kakak jangan. Tenang Kak, tenang. Kakak membuat Elena takut" Ucap Elena yang memeluk Varo dari belakang.
"Maaf"
"Tidak Kak, kamu tidak salah, kamu hanya terbawa emosi. Sebaiknya kita tidur saja, ayo Kak"
"Baik"
Elena membawa Varo ke atas ranjang. Ia memeluk Varo supaya Varo cepat tenang. Di pegang nya tubuh Varo agak panas. Perlahan ia membuka pakaian Varo dan membuang nya ke lantai, kini tersisa pakaian dalam saja. Elena juga membuka pakaian nya, yang tersisa hanya pakaian dalam.
Elena mendekatkan dirinya ketubuh Varo. Ia membiarkan Varo mencium tubuh nya. Perlahan Varo menghentikan tangan nya di area sensitif Elena. Elena merasa geli, ia memeluk Varo dengan erat.
"Tidurlah Kak, aku disini bersamamu"
Untung saja Varo hanya meletakkan tangan nya di area sensitif Elena. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya mengigau sebentar.
"Kakak?" Panggil Elena setelah satu jam.
Varo tidak menjawab, ia sudah tertidur dengan nyenyak.
"Kakak firasat Elena tidak enak. Mungkin besok ada masalah yang akan datang. Misalnya Kakak tidak mendapat kabar dari Elena, Kakak tidak perlu khawatir. Elena akan baik-baik saja"
Hahaha akhirnya hari besok tiba. Lihat saja siapa yang akan menang! Batin Elena.
...〜(꒪꒳꒪)〜...
Jangan ragu untuk kasih saran, tapi sarannya yang mendukung bukan menjatuhkan.