
Saat semua wartawan sudah bubar, Aurora memaksa Edbert untuk segera menikahi nya. Ia tidak mau lama-lama menunggu, nanti rencana nya jadi berantakan.
"Kamu kapan sih nikahin aku?! Bosan banget nunggu nya!"
"Sabar, belum saat nya" Jawab Edbert
"Ih kamu mau serius atau gak?! Jawaban nya selalu saja sama! Kamu ga kasihan lihat Alvaro?!"
"Justru saya kasihan sama dia, makanya saya belum nikahin kamu"
Aurora terdiam. Ia mengepalkan tangan nya. Lagi-lagi Alvaro, Alvaro, Alvaro. Aurora jadi punya dendam sendiri dengan Alvaro.
Aurora meninggalkan Edbert sendirian di tempat itu, ia pergi ke dalam kamar Alvaro dan mengunci pintu nya.
"Ma?" Tanya Alvaro
"Dasar tidak tahu di untung!"
Plak, satu tamparan mendarat di pipi Alvaro.
Alvaro memegang pipi nya yang di tampar. Rasanya sakit.
"Mati saja kamu, MATI!!!"
Lagi-lagi Aurora menjambak rambut Alvaro.
"Aaa sakit Ma, am-ampun"
Alvaro mulai menangis dengan suara kuat.
"Diam kamu anak sialan!!!"
"To-tolong bibi" Teriak Alvaro
"Anak bodoh! Tidak ada yang akan menolong mu! Anak seperti mu harus MATI!!!"
Dor
"Bi..." Ucap Alvaro sambil menangis
"Ahk!!"
Suara tembakan terdengar dekat dari telinga Aurora. Ia langsung menghentikan aktivitas nya dan menoleh ke arah belakang.
"Siapa?!" Tanya Aurora
"Saya" Jawab Bella
Aurora terkejut karena Bella ada di dalam kamar Alvaro. Seluruh tubuh nya mulai gemetaran, ia takut Bella melihat semua adegan yang ia lakukan tadi.
Bella mendekati Alvaro dan menggendong nya.
"Bibi. Hiks"
"Cup sayang, jangan takut, ada bibi"
"Ahk!! Kalian berdua harus MATI!!!"
Aurora mengarahkan sebuah pisau tajam ke arah Bella. Dengan cepat Bella langsung menahan tangan Aurora dan mendorong nya.
Tiba-tiba saja pintu kamar Alvaro di buka oleh seseorang. Orang itu adalah Edbert. Ia membawa beberapa polisi untuk menangkap Aurora yang berusaha mencelakai Alvaro dan Bella.
"Edbert tolong!" Ucap Aurora
"Bawa dia" Suruh Edbert kepada polisi
Tidak ada yang mendengarkan Aurora, ia di pegang erat oleh polisi.
"Sudah saya bilang KAMU AKAN MENDAPATKAN KARMA Kylie!" Ucap Bella
Wajah Aurora mulai pucat. Tubuh nya kembali gemetaran. Bagaimana Bella tahu kalau dia adalah Kylie, padahal penyamaran nya sudah benar-benar berbeda.
"Kenapa? Terkejut? Hahahaha aku sudah tahu hal ini dari awal. Aku hanya mengikuti permainan bodoh mu" Ucap Bella
"BRENGSEK!!! MATI SAJA KAU BELLA!! MATI!!!MATI!!!!"
"Bawa dia Pak" Suruh Bella
"AHK!!!!"
Aurora tidak menyadari kalau penyamaran nya sudah ketahuan. Dulu Aurora atau Kylie sudah pernah masuk penjara, tapi belum lama kemudian, dia bebaskan oleh seseorang yang belum di ketahui asal-usul nya.
Alvaro masih memeluk Bella dengan erat, ia ketakutan dan kesakitan.
Karena Aurora sudah mendapatkan karma nya, Bella menghubungi kedua orangtua nya dan Edbert untuk merayakan kepergian Aurora. Bella juga akan membahas masalah tentang Alvaro.
Menurut Bella masalah ini belum kelar. Pasti masih ada orang yang mau menghancurkan hubungan Bella dan Edbert. Tapi bukan sekarang, tunggu beberapa waktu lagi.
"Kamu gapapa kan Bel?" Tanya Edbert khawatir
"Badan ku sakit" Jawab Bella, ia berbohong
"Kamu bersih-bersih dulu, biar aku yang ngurus Alvaro"
Bella memberikan Alvaro kepada Edbert. Ia menggendong Alvaro dan memeluk nya.
"Oke. Obati luka dia ya"
"Iya. Cepat gih, biar kamu istirahat"
Bella pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sedangkan Edbert menyuruh para asisten untuk membersihkan kamar itu dan membuat kamar Alvaro yang baru. Setelah selesai memerintah, Edbert membawa Alvaro ke kamar tamu lalu mengobati luka Alvaro.
"Sakit" Ucap Alvaro
"Anak cowok kok lemah" Jawab Edbert
"Hehe paman benar"
"Ya?"
"Em paman, Alvaro kan tidak punya siapa-siapa, jadi apakah Alvaro akan dikembalikan ke panti asuhan lagi?" Tanya Alvaro dengan suara sedih
"Huff, rencananya sih gitu, tapi Bella bilang kamu tinggal disini saja, ya paman setuju saja lah. Trus Bella berencana untuk menyekolahkan kamu di sekolah bagus. Untuk biaya kamu tenang saja, saya dan Bella yang akan menanggung nya"
"Emang serius paman? Alvaro kan udah buat jahat"
"Kamu mau nolak rezeki?"
Alvaro menggeleng
"Ya sudah, terima aja"
"Baik! Alvaro sangat senang bertemu dengan paman dan bibi. Suatu saat Alvaro akan membalas kebaikan kalian berdua"
"Hahaha balas budi nya nanti saja ya. Sekarang kamu fokus untuk sekolah saja. Kalau ada yang ingin diminta, langsung ngomong saja, tidak usah takut-takut"
"Baik paman. Terimakasih!"
Tak berapa lama kemudian, Bella menyusul Edbert dan Alvaro. Ia ikut bercerita bersama mereka. Mereka juga menghibur Alvaro agar tidak terlalu sedih.