
2 minggu kemudian
Varo dan Elena di undang untuk makan bersama di rumah Nenek Elizabeth. Undangan ini untuk merayakan kesehatan Nenek yang mulai pulih.
"Varo, aku harus memakai pakaian yang mana? Yang ini terlalu mencolok, yang ini terlalu terbuka, yang ini terlalu kecil, yang ini terlalu besar. Tidak ada yang cocok" Ucap Elena.
"Pakaian kamu kan banyak sayang" Jawab Varo yang masih berbaring di atas ranjang.
"Iya, aku tau"
"Yasudah, kamu pakai saja mana yang cocok" Ucap Varo.
"Masalah nya itu, semua pakaian ku terlalu bagus. Aku tidak mau nanti jadi mencolok"
"Kamu tidak usah memakai pakaian, ribet amat" Ucap Varo yang menutup seluruh tubuh nya memakai selimut.
"Varo ih!" Ucap Elena, lalu berjalan mendekati Varo.
"Varo bangun!" Elena membuka selimut Varo.
"5 menit lagi sayang" Jawab Varo dengan mata yang masih tertutup.
"Varo bangun! Sekarang bangun!" Ucap Elena sambil memukul Varo memakai bantal.
Karena kesal, Varo menarik tangan Elena lalu menidurkan tubuh Elena di atas ranjang. Varo kini berada di atas tubuh Elena sambil memegang kuat kedua tangan Elena.
"Sepertinya aku sudah lama tidak menghukum mu" Ucap Varo.
"Lepaskan! Aku tidak mau, tidak mau! Kau selalu bermain kasar! Lepaskan aku Kakak!!"
"Aku menyukai mu yang seperti ini" Bisik Varo lalu menggigit telinga Elena.
"Aaww, jangan sekarang, nanti aku tidak bisa jalan Kak" Ucap Elena dengan wajah merah.
"Tidak bisa, kau sudah membangunkan dia" Ucap Varo.
"Mem-membangunkan dia?"
"Ya sayang" Jawab Varo lalu mencium bibir Elena.
Di rumah Nenek.
"Kamu tidak kerja Lex?" Tanya Elizabeth yang sedang mencuci piring.
"Ini kan lagi kerja, bantuin kamu" Jawab Alex yang sedang memotong daging.
"Kamu pintar masak ya?"
"Apa coba yang ga bisa di lakukan oleh Alex?" Ucap Alex dengan bangga.
"Serba bisa memang beda ya" Ucap Elizabeth.
"Hehe"
Perawat Nenek yang melihat keakraban Elizabeth dan Alex merasa iri. Ia tidak suka melihat mereka berdua kompak, ia ingin memisahkan mereka. Pokoknya perawat itu tidak mau melihat Elizabeth dan Alex menikah, kemudian hidup dengan penuh bahagia.
Malam hari kemudian.
"Hm kamu terlalu lemah" Ucap Varo lalu menggendong Elena.
"Kamu yang bermain kasar!" Ucap Elena tak senang.
"Kamu yang lemah"
"Kamu yang kasar! Kasar! Kasar!"
"Karena saya waras, saya ngalah saja" Ucap Varo lalu memasukkan Elena ke dalam mobil.
"Ck dasar gila" Ucap Elena dengan suara pelan.
"Ayo" Ucap Varo lalu menutup pintu mobil nya.
Di rumah Nenek.
"Nenek duduk di sini, sebentar lagi mereka akan datang" Ucap Elizabeth.
"Hahaha kalian, tidak perlu repot-repot" Ucap Nenek.
"Sudahlah Nek" Jawab Elizabeth sambil memberikan teh Nenek.
20 menit kemudian Varo dan Elena sampai di rumah Nenek. Mereka masuk ke dalam dengan di sambut oleh Elizabeth dan Alex. Alex menuntun mereka untuk ke ruangan makan.
"Selamat malam Nek. Bagaimana kabar Nenek?" Sapa Elena dengan senyuman nya.
"Baik Nak, silakan duduk" Jawab Nenek sambil membalas senyuman Elena.
"Hai Nek" Sapa Varo.
"Iya Nak, duduk, duduk" Jawab Nenek.
"Karena semua sudah datang, kita mulai makan nya" Ucap Alex dengan bahagia.
"Mulai!" Ucap Elena dan Elizabeth serentak.
Mereka menikmati makanan sambil bercerita dan tertawa.
Setelah selesai makan, Alex mengambil minuman yang sudah di sediakan di dapur. Ia menuangkan minuman ke gelas masing-masing. Saat hendak membawa nya, si perawat meminta kepada Alex agar dia yang bawa ke meja makan. Karena Alex juga kebelet, dia memberikan minuman itu kepada perawat.
Saat Alex masuk ke dalam kamar mandi, si perawat meletakkan minuman itu di atas meja dan memberi sesuatu di minuman Nenek. Setelah itu dia membawa minuman ke meja makan.
"Maaf lama" Ucap si perawat.
"Terimakasih" Jawab Elena.
Si perawat itu membagikan minuman kepada mereka.
"Alex mana?" Tanya Elizabeth.
"Setelah menuangkan teh, Tuan Alex langsung ke kamar mandi" Jawab si perawat.
"Oh" Ucap Elizabeth.
Cih banyak gaya! Batin si perawat.