EdBell

EdBell
Bab 6 - EdBell



Edbert sama sekali tidak bisa tidur. Perasaan nya tidak enak, mungkin karena baru pertama kali tidur dengan seorang wanita.


Edbert sengaja menunjang kaki Bella, ia ingin tau Bella sudah tidur atau belum.


"Oi La, Bella. Dah tidur ya?"


"Ih apa sih, gue itu sedang berusaha tidur"


Bella membalikkan badannya menghadap kearah Edbert.


"Gue ga bisa tidur Bell"


"Sama"


Karena merasa risih, Edbert menyingkirkan bantal guling yang berada ditengah-tengah mereka itu.


"Kok disingkirkan?"


"Gue mau lihat wajah lu"


"Lah kan lu udah sering lihat wajah gue"


"Kali ini beda. Sekarang lu kan calon istri gue"


Edbert mendekatkan dirinya ketubuh Bella.


"Kan masih calon Edbert. Lu jangan berbuat macam-macam ya, gue tebas ntar lu"


Edbert mengelus kepala Bella, lalu ia mencium keningnya.


"Ga usah sok romantis deh,,," Ucap Bella malu.


"Hahah malu ya? Baper ya? Kasihan deh, soalnya gue tadi cuman bercanda. Ya hahahaha" Ejek Edbert.


"Lucu banget ya!!"


Bella mengambil bantal kemudian memukul Edbert.


"Aw sakit, jangan Bell,," Desah Edbert.


"Lemah banget sih jadi orang"


Edbert mengambil bantal kemudian memukul Bella lagi.


"Aw ampun. Sakit,," Ucap Bella.


Kedua orangtua dan Kakak Edbert menguping di pintu kamar Bella dan Edbert. Mereka salah paham terhadap Bella dan Edbert. Mereka berpikir Bella dan Edbert sedang melakukan itu, itu, padahal mereka sedang perang bantal.


Kedua orangtua dan Kakak Edbert tersenyum melihat kelakukan Edbert. Sekarang Edbert sudah dewasa, tidak anak-anak lagi. Dia sudah tau cara membuat istri nya puas dan bahagia.


"Seru Bell, lagi dong, ah ah ah" Edbert berusaha mengatur nafasnya.


"Ga ah, gue udah capek. Bukan gue aja yang capek, lu juga capek. Soalnya ini kan baru pertama kali buat kita" Ucap Bella.


Saat mendengar omongan Bella, kedua orangtua dan Kakak Edbert makin tersenyum lebar. Mereka sangat bahagia karena Bella dan Edbert mau menerima satu sama lain.


...〜(꒪꒳꒪)〜...


Keesokan pagi


Bella dan Edbert turun dari tangga bersama-sama. Mereka disambut oleh Kakak dan orangtua Edbert. Sebelum berangkat ke perusahaan, Bella dan Edbert dipaksa untuk sarapan terlebih dahulu.


"Bella makan yang banyak ya sayang" Ucap Mami


"Iya Mi"


"Edbert juga harus banyak makan. Semalam kan kalian berdua sudah berjuang keras, tentu saja banyak tenaga yang habis" Ucap Mami.


Bella tersedak. "Uhuk, uhuk"


"Eh eh Bella pelan-pelan, ini minum dulu" Edbert memberi teh kepada Bella.


"Tidak udah sungkan sama suami sendiri Bella" Ucap Mami


"Ma plis deh, aku sama Bella itu belum menikah, belum bisa dipanggil suami istri Ma" Ucap Edbert.


"Hah? Belum menikah? Jadi lu itu udah mikir gue mau nikah sama lu? Jangan terlalu percaya diri deh, gue bisa aja nolak lu" Ucap Bella.


"Aduh anak-anak Mami ini. Bella Mami tau kok, semalam Edbert terlalu kasar ya, sampai-sampai kamu ga mau nikah sama dia"


"Hah?!"


"Udah lah Mami. Edbert sama Bella pergi luan ya Pa, Ma, Kak" Edbert menarik tangan Bella.


"Eh,luan ya Ma, Pa, Kak"


Edbert dan Bella masuk kedalam mobil.


"Itu Mami lu kenapa ya? Semalam emang nya kita napain? Perasaan hanya perang bantal"


"Dia pikir kita sedang itu, itu"


"Hahaha plis deh, pikiran Mami lu itu terlalu jauh"


"Dia kan juga Mami lu!"


"Kalau gue dan lu nikah!"


"Emang lu ga mau sama gue?"


"Hem bisa apa kamu? Gue sih ga mau diatur-atur terus" Ketus Bella.


"Gue bisa buat lu bahagia"


"Nanti kalau ga bahagia gimana??"


"Gue berusaha buat lu bahagia"


"Nanti usaha lu ga berhasil gimana?"


"Gue usaha lagi agar lu bisa bahagia"


"Oke. Ingat perkataan lu. Gue tunggu!" Ucap Bella.


"Berarti lu mau nikah sama gue"


"Terserah gue lah. Eh lu punya sixpack ga?"


"Kamu ga tau?"


"Gimana gue mau tau, lu aja ga pernah buka baju didepan gue"


"Mau lihat?"


Bella mengangguk.


Kebetulan sedang lampu merah, Edbert mendekatkan wajah nya ke telinga Bella. Ia membisikkan sesuatu.


"Tunggu sampai di perusahaan, akan kutunjukkan padamu sayang"


"Lu!!?" Wajah Bella memerah.


"Nanti kamu boleh melihat dan memegang sepuas mu" Bisik Edbert.


"Aaa diam!! Udah lampu hijau, buruan jalan!"


Edbert kembali duduk keposisi semula dan ia kembali menyetir.


...〜(꒪꒳꒪)〜...


Jangan lupa dukungannya..