EdBell

EdBell
Part 50



1 bulan kemudian


"Tuan, kita sudah satu bulan di tempat ini, sebaiknya kita pulang" Ucap asisten Alvaro.


"Pulang?"


"Iya Tuan. Kalau begini terus, perusahaan akan bangkrut"


"Baik, kalau dalam seminggu ini kita tidak menemukan Elena, maka kita akan pulang" Ucap Alvaro dengan serius.


"Terimakasih Tuan"


"Hari ini kalian beristirahat saja. Besok satu harian kita akan mencari Elena"


"Baik Tuan, akan saya umumkan segera. Sebelumnya terimakasih untuk perhatian Tuan. Saya pamit terlebih dahulu"


Asisten itu keluar dari ruangan Varo dan mengumumkan apa yang di katakan oleh Alvaro.


Alvaro membuka lemari yang di dalam nya terdapat banyak senjata. Ia mengambil satu pistol kecil dan menyimpan di pakaian nya. Kembali ia duduk di sofa dan menatap layar laptop nya. Ia tersenyum sinis lalu menutup laptopnya. Diam-diam ia keluar dari ruangan nya dan menghidupkan mobil nya. Alvaro pergi ke suatu tempat, ia tidak mau di temani oleh pengawal ataupun asisten nya.


Di tempat lain


"Aku tidak takut dengan KARMA!" Bentak Arbecio kepada Elena.


"Ck! Dasar manusia tidak berakal!" Bentak Elena kepada Arbecio.


Plak


Satu tamparan mendarat lagi di pipi Elena. Bukan hanya di pipi, melainkan di seluruh tubuh Elena sudah banyak bekas luka.


Dua Minggu yang lalu, ingatan Elena kembali pulih. Ia sangat membenci Arbecio, ia ingin membalaskan dendam. Tapi saat itu Elena terlambat, Arbecio luan tahu kalau ingatan nya sudah pulih. Arbecio menyuruh para pengawal nya untuk membawa Elena ke ruang bawah tanah.


Selama dua Minggu ini, Elena selalu di siksa dan jarang di kasih makan ataupun minum. Elena benar-benar kehabisan ide untuk melawan Arbecio. Arbecio tidak membiarkan Elena bergerak ataupun berbicara sedikit pun.


Kedua tangan dan kaki Elena di beri rantai, posisi Elena berdiri, ia tidak pernah duduk ataupun berbaring. Elena benar-benar tersiksa selama ini. Elena selalu berharap suatu saat nanti Alvaro akan menemukan nya.


"Lihat diri mu, apa kau masih berharap akan di selamatkan oleh calon suami mu?"


"Apa dia masih mau menikah dengan wanita jelek seperti mu?"


"Hahaha tubuh yang penuh luka-luka, seperti orang tua yang sakit-sakitan dan pasrah menunggu kematian nya"


"Tch, beri dia cambukan 20 kali! Ingat, jangan sampai mati!" Suruh Arbecio kepada pengawal nya.


"Baik Tuan" Jawab pengawal itu.


Kedua pengawal mencambuk Elena secara bergantian. Elena yang sudah terbiasa dicambuk, menjadi mati rasa. Sebenarnya pengawal itu merasa kasihan kepada Elena, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Sangat kejam!! Manusia seperti ini tidak perlu hidup di dunia ini! Arbecio sialan!! Batin Elena.


Suatu saat kau akan kalah Arbecio, tunggu lah karma mu.


...---...


Alvaro mengendarai mobil dengan sangat cepat. Ia seperti pencuri yang sedang kejar-kejaran dengan polisi. Ia memotong banyak mobil dan kadang melanggar peraturan lalu lintas. Alvaro tidak peduli kalau nanti dia benar-benar di kejar oleh polisi.


"Aku harus tepat waktu!" Ucap Alvaro yang menambah kecepatan mobilnya.


...---...


Setelah Elena selesai di cambuk, Arbecio masuk ke ruangan itu dan membawa segelas minuman. Ia meletakkan minuman itu di atas meja lalu membuka tangan dan kaki Elena yang di rantai. Kemudian ia mengambil rantai lain dan mengalungkan nya pada leher Elena. Elena yang tidak sanggup lagi berdiri, jatuh terduduk di atas lantai yang dingin.


"Haus?" Tanya Arbecio kepada Elena.


Elena sama sekali tidak menjawab pertanyaan Arbecio.


"Tidak punya tenaga untuk berbicara? Apa sudah lelah berteriak saat di cambuk?"


"Tolong beri aku makan" Ucap Elena yang sudah sangat kelaparan.


"Lapar? Baik aku akan memberi mu makan. Tapi ada syarat nya"


"Syarat?"


"Setelah kau selesai mandi, datang ke kamar ku dan layani aku sampai aku puas" Ucap Arbecio dengan tatapan menghina.


"Ba-baik, tolong buka benda ini"


Elena sudah sangat pasrah. Ia berharap nanti malam ada yang menolong nya. Sebenarnya Elena tidak mau memberikan kesucian nya kepada orang lain, tapi ia benar-benar sudah sangat lapar. Elena benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah di lakukan nya. Semoga saja nanti keluarga dan Alvaro tidak membenci dirinya.