EdBell

EdBell
Bab 43



Saat sampai di tempat tujuan, mereka langsung berangkat ke hotel terdekat. Hotel nya sangat cantik dan indah, kamarnya luas dan peralatan lengkap. Tapi sayangnya hanya ada satu kamar yang tersisa. Varo terpaksa tidur bersama Elena, sedangkan Elena sangat senang bisa satu ranjang bersama Varo.


Elena mulai menyusun barang-barang nya. Peralatan yang di bawanya ditata dengan rapi, ia menyusun buku-buku nya pada rak buku yang tersedia.


Saat Elena mau menyusun pakaian dalamnya, ia memperhatikan sekitarnya dulu, sangat malu rasanya jika ada yang melihat ia sedang memegangi pakaian dalam. Tapi saat ia sedang menyusun pakaian dalam nya ke dalam lemari, Varo keluar dari kamar mandi. Ia menoleh ke belakang dan melihat Varo yang hanya memakai handuk. Ia sangat-sangat malu, wajah nya memerah. Kenapa Varo harus datang pada saat yang tidak tepat? Hadeh.


"El tolong bawakan koper saya kemari" Suruh Varo yang menunggu di depan cermin.


"Sebentar"


Elena bingung mau meletakkan di mana pakaian dalam nya. Sementara ia meletakkan di atas ranjang, semoga Varo tidak menoleh ke arah ranjang.


"Ini Kak" Ucap Elena yang langsung berbalik dan ingin pergi.


Varo menghadap kebelakang dan menahan tangan Elena.


"Ada apa lagi Kak?" Tanya Elena dengan wajah merah nya.


"Lihat saya"


Dengan terpaksa Elena membalikkan badan nya dan menatap wajah tampan Varo. Tidak lupa juga ia melirik perut sixpack Alvaro.


"Kamu sangat cantik" Ucap Varo sambil melingkarkan tangannya di pinggang Elena.


"Aaa, eee, ka-kakak sebaiknya memakai pakaian terlebih dahulu, Elena juga masih ada kerjaan"


"Maksudmu menyusun pakaian dalam mu?" Tanya Varo yang dari tadi melirik ke atas ranjang.


"Sssttt, iyaaa" Jawab Elena yang semakin malu.


"Kita bisa menyusun nya nanti. Sekarang ambil pakaian ku di dalam koper"


"Kamu kan bisa ambil sendiri Kak"


"Hm? Bukan nya kamu mau melihat pakaian dalam yang saya kenakan?"


"Hah? A-apa? Elena tidak mau!"


"Kamu berbohong. Jelas-jelas kamu ingin sekali melihatnya" Ucap Varo sambil meraba tubuh Elena.


"Ti-tidak ada"


"Kakak mesum! Jangan meraba Elena! Huhu Elena akan laporkan Kakak sama Mamah dan Papa. Kakak mesum!!"


"Laporkan? Hahah sayang, saya di kasih kebebasan untuk lakuin apa saja sama kamu. Mereka tidak akan marah kalau saya melakukan hal itu ke kamu"


"Apa?! Huhu Mamah dan Papah jahat! Kakak juga jahat! Elena ga mau lakukan itu, ga mau, ga mau!"


"Cup, cup, sudah, sudah, jangan nangis sayang, Kakak bercanda kok. Mau beli es krim?"


"Um mau, tapi cium Elena dulu"


Varo mencium kening Elena, kemudian ia memakai pakaian nya dan membawa Elena pergi makan es krim.


"Makan nya jangan gitu!" Ucap Varo.


"Hum?"


Elena tetap memakan es krim seperti yang disukai nya. Cara makan eskrim Elena membuat adik kecil Varo hampir berdiri. Elena memang benar-benar pintar dalam menggoda orang. Varo takut dia akan melakukan hal itu di depan orang lain. Ia tidak mau Elena dirusak oleh sekelompok orang-orang brengsek.


"Hentikan! Lihat apa yang sudah kamu lakukan. Semua orang melihat mu, apa kau sama sekali tidak sadar?!"


Elena memperhatikan sekitarnya.


Hahaha ternyata Kakak memang benar-benar menyukai ku. Dia cemburu kepada orang-orang yang ada disini dan melihati tubuh ku. Batin Elena.


"Kakak kok marah-marah terus? Elena males deh. Tau gini sebaiknya Elena diam di hotel saja"


"Mau pulang?"


"Bagus, pulang"


Varo merangkul Elena sampai ke dalam mobil. Ia benar-benar kesal dengan tatapan orang-orang kepada Elena. Sungguh menjijikkan.


Saat sampai di hotel, Elena langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sedangkan Varo mau memasak untuk makan malam mereka nanti. Varo tidak terlalu suka makanan yang di beli dari luar, ia menyukai makanan yang di masak sendiri.


Beberapa saat kemudian.


Elena sudah selesai mandi, tapi ia lupa membawa handuk dan pakaian dalam nya ke kamar mandi. Ia berteriak memanggil Varo dari dalam kamar mandi.


"Kakak! Kakak!"


"Jangan teriak-teriak. Ada apa?"


"Handuk dan pakaian dalam Elena tertinggal di atas kasur. Kakak tolong bawakan ke sini ya, please??"


Varo mengambil yang disuruh oleh Elena dan membawakan nya ke depan pintu kamar mandi.


"Ini, ambillah"


Elena membuka sedikit pintu kamar mandi. Ia mengulurkan satu tangan nya ke luar pintu. Siapa sangka Varo mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi. Elena benar-benar terkejut dan malu. Ia langsung menarik handuk yang ada di tangan Varo dan menutupi tubuh nya.


"Kenapa di tutup? Buka! Saya mau melihat lagi" Ucap Varo dengan serius.


"Elena malu Kak" Jawab Elena dengan suara kecil.


Sial! Kakak sangat tampan! Aku tidak tahan. Tidak, tidak, jangan membuka handuk, jangan


Varo meraba pakaian dalam yang masih di pegang nya.


"Kamu suka pisang?" Tanya Varo.


"Tidak. Itu Mamah yang berikan, dia pikir Elena masih anak-anak"


Elena sangat menyesal mengambil kedua pakaian dalam nya bergambar pisang.


"Tapi ini sangat imut. Bagaimana jika kamu memakai nya terlebih dahulu? Bukan kah menjadi lebih imut lagi?"


"Kakak! Dasar tidak tahu malu!"


"Ya saya memang tidak tahu malu, jadi biarkan saya yang memakaikan nya kepada mu"


"Ja-jangan" Wajah Elena ketakutan, tapi hatinya berbunga-bunga.


Ayo Kakak cepat pakaikan, aku sangat menanti hal ini dari dulu.


Varo mendekati Elena lalu menarik handuk yang di kenakan nya. Wajah Elena sungguh-sungguh sangat merah. Jantung nya berdetak dengan kencang.


"Singkirkan tangan mu" Ucap Varo.


"Uh ya"


Entah apa yang merasuki Elena, ia benar-benar mendengarkan omongan Varo.


Perlahan Varo memakaikan pakaian dalam Elena. Elena merasa sangat geli karena dari tadi ia di raba oleh Varo.


Setelah selesai memakaikan pakaian dalam, Varo takjub melihat Elena. Ia benar-benar sangat imut saat mengenakan pakaian dalam yang itu.


"Sempurna" Ucap Varo.


Tidak tau kenapa, tiba-tiba saja Elena pingsan. Untung saja Varo dengan cepat menangkap Elena. Ia memanggil nama Elena tapi tidak sadar-sadar. Ia menggendong Elena keluar dari kamar mandi dan membaringkan nya di atas ranjang.


...〜(꒪꒳꒪)〜...


Jangan lupa dukungannya. Jangan ragu untuk kasih saran, tapi sarannya yang mendukung, bukan menjatuhkan. Terimakasih.