EdBell

EdBell
Bab 41



Bertahun-tahun telah berlalu. Tidak terasa Alvaro, Alex, dan Elena sudah besar saja. Alvaro yang berumur 23 tahun sudah menjadi miliarder, Alex yang berumur 20 tahun menjadi CEO di perusahaan Edbert, sedangkan Elena yang berumur 19 tahun masih kuliah dan mengejar cita-cita nya menjadi dokter.


Alvaro terkenal dengan sifat dingin nya. Ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, kecuali Elena. Jangankan wanita, pria aja tertarik dengan ketampanan dan kecerdasan Alvaro.


Banyak sekali wanita yang mendekati atau menggoda Alvaro, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Alvaro merasa jijik dengan perlakuan mereka, sungguh tidak tau malu.


Alex tidak menyukai wanita manapun, banyak orang menyimpulkan kalau Alex adalah gay. Alex memang tidak pernah dekat dengan wanita, ia mempunyai alasan sendiri, ia tidak gay. Alex sangat menyayangi adik nya, kadang Alex memperlakukan adik nya seperti pacar nya. Sebenarnya banyak orang yang iri kepada Elena.


Elena adalah gadis yang berpura-pura polos di hadapan keluarganya. Ia tidak mempunyai pacar, tapi banyak pria yang selalu mendekati dia. Dalam satu hari banyak sekali surat cinta yang di dapatnya, kalau sedang malas ia akan membuang surat itu tanpa membacanya terlebih dahulu. Di dalam hati Elena hanya ada Alvaro. Tidak ada pria yang memperlakukan Elena sebaik Alvaro, kecuali Papah dan Kakak nya.


"Kakak?" Sapa Elena kepada Varo yang sedang mengecek dokumen.


"Ya?"


Elena terpesona lagi kepada Alvaro. Saat bekerja Alvaro tampak lebih tampan dari biasanya.


"Ada apa? Jangan melihati terus" Ucap Alvaro.


"Kakak sibuk di perusahaan?"


"Tidak"


"Kakak serius dulu! Nanti waktu kita pergi Kakak malah sibuk di teleponi asisten Kakak" Ucap Elena dengan gaya kesalnya yang imut.


"Kenapa? Kamu jelasin dulu sama Kakak" Jawab Varo sambil meletakkan dokumen nya di atas meja kerja nya.


"Elena di panggil keluar negeri, Kakak bisa temani Elena ga?"


"Kapan berangkat?"


"Lusa"


"Bersiap-siaplah, Kakak akan menemani mu"


Elena bahagia sampai-sampai memeluk Alvaro dengan sangat erat.


"Yey terimakasih Kakak. Elena ga sabar lagi mau berangkat, apalagi ditemani sama Kakak. Hihihi"


Alvaro tersenyum dan mengelus kepala Elena.


Sebenarnya Alvaro mempunyai alasan sendiri kenapa ia selalu ikut keluar negeri bersama Elena. Belakangan ini firasatnya tidak enak, sebenarnya ia mau mencegah Elena untuk tidak pergi keluar negeri, tapi karena ia bisa ikut ia akan melindungi Elena sebisa mungkin.


Alex yang tahu kalau Elena dan Alvaro akan pergi keluar negeri merasa sangat senang. Ia bebas melakukan hobinya di rumah, tidak ada yang melarang dan mengatur dirinya. Tidak lupa ia menyuruh Elena untuk membawa oleh-oleh. Ia juga memperingati Elena supaya hati-hati, ikuti apa kata Alvaro, jangan pergi jauh-jauh dari Alvaro.


Elena menyiapkan barang-barang yang perlu ia bawa. Ia memasukkan barang ke dalam koper dengan rapi. Tidak lupa ia membawa baju favoritnya untuk menggoda Alvaro.


Saat mau memasukkan baju favoritnya tadi ke dalam koper, Alvaro tidak sengaja lewat dari depan kamar Elena. Ia terkejut melihat Elena yang sedang melipat baju tipis dan memasukkan nya ke dalam koper. Alvaro menggeleng dan masuk ke dalam kamar Elena.


"Apa yang kamu bawa?" Tanya Alvaro sambil mengambil baju tersebut.


"Eh"


Elena terkejut, wajah nya memerah karena bajunya di pegang oleh Alvaro. Ia sangat malu sampai-sampai memalingkan wajah nya dari tatapan Alvaro.


"Kamu mau menggoda pria disana?" Tanya Alvaro yang membuka lipatan baju tersebut.


"Eee, aaa, tidak kok Kak, itu teman Elena minta di bawakan baju ini" Jawab Elena.


"Tidak boleh di bawa! Nanti Kakak yang ngomong sama teman kamu"


"I-iya"


Alvaro keluar dari kamar Elena sambil membawa baju tersebut. Elena duduk di atas ranjang nya dan menghela nafas.


"Tenang Elena tenang, kita masih memiliki baju seperti itu lagi. Tunggu waktu nya tepat baru kita memasukkan baju seperti itu lagi ke dalam koper. Tetap tenang" Ucap Elena dengan suara kecil.


Saat sudah malam, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk tidur. Elena masuk ke dalam kamar nya dan menguncinya. Perlahan ia membuka lemarinya dan mengambil baju yang lebih terbuka dari baju tadi. Elena melipatnya dan memasukkan ke dalam koper, ia menyusun baju itu di bagian paling bawah.


Keesokkan hari Elena tidak menyangka kalau Varo mengecek pakaian yang di bawa nya. Ia kelihatan khawatir dengan baju yang ia sembunyikan semalam. Bagaimana kalau Varo menemukan nya? Apa yang akan terjadi?


"Disuruh Mama" Jawab Varo yang masih melanjutkan aktivitasnya.


"Dibawa semua pakaian dalam Elena kak, apa perlu di cek juga?" Tanya Elena dengan malu.


"Menurut kamu?"


"Mu-mungkin"


Beberapa saat kemudian Alvaro menemukan baju tidur Elena yang sangat seksi. Ia menghela nafas dan memijat kening nya.


"Ini apa?" Tanya Varo.


Elena tidak menjawab, ia menundukkan kepalanya.


Alvaro meletakkan baju itu di atas ranjang dan mendekati Elena.


"Berapa banyak?"


"Ha?" Elena bingung dengan pertanyaan Alvaro.


"Berapa banyak di dalam lemari kamu pakaian begitu?"


"Sa-satu lemari" Jawab Elena dengan suara kecil dan menundukkan kepalanya.


Ia tidak mau berbohong, karena cepat atau lambat Alvaro akan mengetahui nya. Lebih baik ia di marahi karena jujur dari pada dimarahi karena berbohong.


Alvaro membuka lemari pakaian Elena. Ia terkejut karena di dalam lemari itu semua pakaian tidur seksi Elena. Ia menghela nafas dan menatap wajah Elena.


"Sini" Panggil Varo kepada Elena.


Elena berjalan ke arah Alvaro dengan gugup.


"Apa Kakak perlu kasih tahu sama Mama dan Papa?"


"Ja-jangan Kak. Elena janji akan buang semua baju-baju itu"


"Kamu membeli semua ini dan mau membuang nya? Kamu pikir cari uang segampang itu?"


"Hiks, Elena salah Kak, E-elena" Jawab Elena sambil menangis dan terputus-putus.


Varo memegang kepala Elena dan menyandarkan nya di dada nya.


"Kakak ga bilang sama Mama dan Papa, tapi semua pakaian ini kakak simpan di kamar Kakak dan kamu tidak boleh mengambil nya. Mengerti?"


"Iyaa"


"Yasudah jangan menangis lagi"


"Emm"


Elena memeluk Alvaro semakin lama semakin erat. Ia menyembunyikan wajah jeleknya dari tatapan Alvaro.


"Kakak sangat wangi" Ucap Elena dengan suara kecil.


"Hm apa?"


"Tidak ada"


"Yasudah lepaskan dulu, Kakak ada kerjaan"


"Elena masih mau meluk Kakak!"


"Kamu! Ah sudahlah"


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Varo menggendong Elena dan membawa nya ke tempat kerja nya. Elena sama sekali tidak melepaskan pelukan nya dari Alvaro. Alvaro hanya bisa pasrah, lagi pula ia menyukai Elena yang manja.