EdBell

EdBell
Bab 47



"Tidak!!! Lepaskan aku, lepaskan!" Ucap Elena yang mengigit tangan Arbecio.


"Sialan!"


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Elena.


Elena memegang pipinya dan menatap Arbecio dengan tajam. "Sebaiknya tangan mu di tiadakan!" Ucap Elena dengan serius.


"Apa maksud mu?!"


Dor


Elena menembak ke arah Arbecio. Arbecio terkejut, untung saja dia tidak kena, melainkan pelurunya mengenai jendela dan akhirnya pecah.


"Meleset? Hm kalau tidak tau cara menembak, lebih baik jangan menembak, kau bisa melukai orang lain" Ucap Arbecio.


"Jangan bergerak! Aku tidak sungkan-sungkan dengan mu!"


"Oh tembak sekarang, aku mau melihat kemampuan buruk mu"


Dor


Elena mengikuti perintah Arbecio. Ia benar-benar menembak Arbecio. Arbecio terkejut karena tangan nya terasa sakit dan mengeluarkan banyak darah. Ia memanggil pengawal nya dan menyuruh mereka untuk mengurung Elena diruangan bawah tanah.


Setelah selesai memberi perintah, Arbecio pingsan. Para pengawal dengan cepat memanggil dokter dan membaringkan Arbecio di atas ranjang.


"Jangan macam-macam, anda sudah melukai Tuan kami, kami tidak akan sungkan-sungkan dengan anda" Ucap salah satu pengawal itu.


"Aku hanya berusaha menyelamatkan diri ku!" Jawab Elena yang sudah di masukkan ke dalam penjara.


Pengawal itu tidak peduli kepada omongan Elena. Mereka meninggalkan Elena sendirian di tempat itu dan kembali ke lantai atas.


"Akhirnya aku bisa ke sini. Setelah aku menemukan sesuatu, maka aku bisa kembali ke rumah asal ku. Sebentar lagi Arbecio akan mati di tangan ku. Hahaha"


Di tempat lain


"Kenapa kamu baru bilang sekarang?!" Tanya Bella dengan cemas.


"Maaf Ma, Varo tidak bermaksud untuk menyembunyikan dari kalian"


"Aku tau dia dimana. Bawa banyak pengawal dan siapkan peralatan dengan lengkap" Ucap Edbert yang dari tadi mengotak-ngatik laptop.


"Papa serius tau? Secepat itu?" Tanya Alex tak percaya.


"Kita harus cepat berangkat! Perjalanan kesana sangat jauh. Papa takut Elena dilukai oleh mereka"


Varo dan Alex pergi ke ruang rahasia untuk mengambil sesuatu. Tidak ada yang mengetahui tempat itu kecuali Edbert, Bella, dan Elena. Tempat itu sangat di sembunyikan dari siapapun, bahkan dari asisten terpercaya saja tempat itu di sembunyikan.


"Kamu konyol banget Varo! Seharusnya dari awal bilang kalau Elena di culik, aw apa yang sedang dia alami sekarang? Kita bahkan tidak tau dia masih hidup atau tidak"


"Diamlah! Tidak ada gunanya banyak bicara, kerjakan saja tugas mu" Jawab Varo dengan sedikit emosi.


"Cih awas saja kalau dia sudah tiada! Kau akan lihat akibat nya"


Elena kamu harus baik-baik saja. Batin Varo.


Varo selalu mengkhawatirkan keadaan Elena. Apakah dia sudah makan? Atau minum? Dia sekarang sakit atau sehat? Dia diperlakukan dengan baik atau buruk? Apa dia selalu ditindas? Dia hanya gadis kecil polos yang tidak tau apa-apa. Sangat mudah di bodohi oleh orang lain.


Di tempat lain


"Bawa aku bertemu dengan wanita itu!" Ucap Arbecio setelah sadar.


"Baik Tuan"


Pengawal itu membawa Arbecio ke ruang bawah tanah. Mereka akan membalas dendam atas perbuatan Elena, tidak peduli Elena wanita atau pria.


"Sudah sampai Tuan"


Arbecio membuka kunci penjara Elena. Ia dan kedua pengawalnya masuk ke dalam dan menutup nya kembali. Arbecio menyuruh pengawal nya untuk berjaga-jaga, sedangkan dia mendekati Elena yang sedang tertidur.


Arbecio duduk di atas ranjang Elena dan mengelus wajah nya.


"Kau wanita yang sangat cantik, awalnya aku mau menjadikan mu sebagai istri ku, tapi perasaan ku tiba-tiba berubah, aku sangat ingin membunuh mu" Ucap Arbecio dengan suara pelan supaya tidak membangunkan Elena.


"Kadang aku memiliki perasaan untuk berhubung dengan mu. Kemarin aku hampir berhasil melakukan nya, tapi kau malah merusak semuanya"


"Bagaimana kalau aku melakukan hubungan itu dengan mu? Apa calon suami mu masih mau menikahi mu? Hahaha, kalau dia tidak mau, aku tidak akan bertanggung jawab"


"Kamu itu termasuk wanita yang cantik dan seksi. Jangankan orang lain, bawahan ku saja tergoda melihat mu"


"Kau tau? Mereka pernah meminta izin dari ku untuk melakukan hubungan badan dengan mu, tapi aku melarang mereka. Bagaimana? Bukan kah aku masih termasuk pria yang baik?" Ucap Arbecio sambil meraba-raba tubuh Elena.


"Aku sudah pernah melihat mu tanpa pakaian sebenang pun. Tubuh mu sangat mulus, aku ingin sekali menyentuh nya"


"Bagaimana kalau aku menyentuh nya sekarang? Apa kau tidak keberatan?"


"Hm mungkin yang keberatan adalah calon suami mu"


"Aku rasa keluarga mu sebentar lagi akan menemukan keberadaan kita. Bukan nya aku takut, tapi aku masih belum puas bermain dengan mu. Bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain? Aku jamin kau akan sangat menyukai nya"


"Sebenarnya aku memiliki banyak pertanyaan untuk mu. Tapi yang ingin paling ku tanyakan adalah, bersediakah kau mengandung anak ku?"